“Ada Seekor Singa” Sebuah Operasi dalam Berpikir
Kerja otak yang sebenarnya sering disebut dengan berbagai istilah oleh para psikolog, seperti dalam tujuan pendidikan, kita menyebutnya sebagai “berpikir.” Namun, yang kita maksudkan dengan istilah ‘berpikir’ adalah usaha sadar otak yang nyata dari pikiran, bukan hanya sekadar khayalan yang melintas tanpa usaha.
Sebagai contoh, kita bisa melihat ilustrasi ini yang dikutip oleh Uskup Agung Thompson dalam bukunya berjudul Laws of Thought* [Contoh ini disampaikan oleh seorang psikolog yang sangat mengagumkan, sehingga saya berani mengutipnya lebih dari sekali]:
“Suatu hari, ketika Kapten Head sedang bepergian melintasi pampas di Amerika Selatan, pemandunya tiba-tiba menghentikannya dan menunjuk tinggi ke udara, lalu ia berteriak, ‘Ada seekor singa!’ Terkejut dengan teriakan dan tindakan seperti itu, Kapten Head pun menengadahkan kepalanya, dan matanya berusaha melihat dengan susah payah.
Ternyata di udara dengan ketinggian yang tidak dapat ia ukur, tampaklah sekumpulan burung kondor terbang melingkari suatu area tertentu. Di bawahnya, jauh dari pandangan dirinya atau pemandunya, tergeletak bangkai kuda, dan di atas bangkai itu berdiri seekor singa seperti yang dikatakan pemandunya. Tampak burung kondor seolah terbang dan memandang dengan iri dari ketinggian mereka. Isyarat yang didapat dari gerakan burung-burung itu bagi pemandu sama seperti melihat singa itu sendiri—sebuah keyakinan penuh akan keberadaannya.
Proses berpikir ini terjadi secara alami bagi orang yang sudah terbiasa, seperti halnya melihat ke atas tanpa perlu usaha. Namun, bagi kita yang belum terbiasa, proses ini butuh beberapa langkah dan usaha.
Misalnya, seseorang melihat burung kondor terbang di langit dan tahu bahwa pasti ada bangkai di sana. Namun karena burung-burung itu hanya terbang berputar di udara dan tidak turun berpesta, maka ia menyimpulkan bahwa mungkin ada binatang lain yang sudah lebih dulu sampai di sana. Apakah hewan itu seekor anjing atau serigala?
Tidak mungkin, burung kondor tidaklah takut dengan kedua binatang tersebut. Jadi, pasti ada binatang yang lebih besar lainnya di sana. Mengingat tempat itu juga terdapat hewan singa, maka dia pun menyimpulkan, “Binatang yang ada di sana pasti singa.” Akhirnya semua langkah pemikirannya disimpulkan dalam kata “seekor singa.”
Inilah jenis proses berpikir yang harus dialami anak-anak dalam hampir setiap pelajarannya—mencari hubungan sebab dan akibat; membandingkan berbagai hal untuk menemukan persamaan dan perbedaannya, lalu menarik kesimpulan mengenai sebab atau akibat dari premis tertentu.
* Buku Outline Law of Thought – William Thompson
