IV.8. Kejujuran

Kita semua tahu bahwa manusia wajib bersikap jujur. Namun, membiasakan anak untuk berkata jujur dengan sungguh-sungguh adalah hal lain yang memerlukan perhatian, kesabaran, dan ketelitian seorang ibu.

Tiga Alasan Orang Berbohong—Dan Semuanya Tidak Baik

Biasanya orang berbohong karena tiga alasan:
(1) tidak hati-hati dalam mencari tahu kebenaran,
(2) ceroboh saat menyampaikan kebenaran, atau
(3) memang berniat menipu.

Ketiganya jelas tidak baik. Reputasi seseorang bisa rusak hanya karena ucapan ceroboh orang lain. Misalnya, seseorang menyebarkan komentar yang merugikan tanpa mencoba mencari tahu apakah itu benar, atau ia menyampaikan sesuatu yang dilihat atau didengar dengan asal-asalan, sampai-sampai ucapannya tak beda dari kebohongan.

Hanya Satu Jenis Kebohongan yang Dihukum Anak

Dari ketiga jenis kebohongan tadi, hanya yang ketiga––berbohong dengan maksud menipu––yang biasanya membuat anak dihukum secara serius. Dua jenis lainnya sering diabaikan.

Contohnya, anak berkata bahwa ia melihat “banyak sekali” anjing berbintik saat jalan-jalan––padahal hanya dua ekor. Atau mengatakan bahwa “semua anak” sedang mengumpulkan lambang––padahal hanya tahu tiga anak yang melakukannya. Atau berkata bahwa “semua orang” menyebut Jones penakut––padahal hanya satu orang, Brown, yang berkata begitu.

Kesalahan kecil seperti ini sering dianggap sekadar “celotehan anak-anak.” Tapi kebiasaan seperti ini bisa melemahkan rasa jujur dalam diri anak—seperti pedang yang menjadi tumpul jika terus digunakan sembarangan.

Ketepatan dalam Berkata

Seorang ibu yang melatih anaknya untuk selalu tepat saat menyampaikan sesuatu—baik hal kecil maupun besar—sedang membekali anak dengan pelindung dari godaan untuk berbohong di masa depan. Anak yang terbiasa berkata apa adanya tidak akan mudah tergoda untuk membesar-besarkan cerita demi keuntungan pribadi, menyembunyikan bagian dari kebenaran, atau mencari-cari alasan. Kebiasaan untuk menyampaikan fakta dengan jujur akan tumbuh kuat, selama anak tidak dibiarkan membangun kebiasaan buruk bermain-main dengan kata-kata.

Melebih-lebihkan dan Cerita yang Dibumbui

Ada dua bentuk penyimpangan dalam bercerita yang sangat menggoda bagi anak-anak, dan karena itu ibu perlu lebih waspada: yaitu kecenderungan untuk melebih-lebihkan dan menambahkan bumbu lucu ke dalam cerita. Meskipun cerita anak mungkin terdengar lucu atau menghibur, seorang ibu tetap perlu dengan lembut namun tegas menghapus bagian-bagian yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Karena kebiasaan menjadi penghibur yang berlebihan—terlalu sering membuat lelucon atau cerita yang dilebih-lebihkan—pada akhirnya akan dibayar mahal: hilangnya karakter yang bermartabat, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Syukurlah, seseorang tetap bisa menjadi pribadi yang ceria dan penuh humor tanpa harus mengorbankan kebenaran.

*   Facetious may be defined as “joking or jesting often inappropriately” or “not serious.”

 

Sikap Hormat dan Yang Sejenisnya

Tentang sikap hormat—menghargai orang lain, memperhatikan sesama, dan menjaga milik orang lain—saya hanya bisa menekankan betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai ini secara sungguh-sungguh sampai menjadi kebiasaan sehari-hari anak. Sikap-sikap ini adalah ciri khas dari pribadi yang lembut hati.

Menumbuhkan kebiasaan ini makin penting di zaman sekarang, karena sifat mementingkan diri sendiri, bersikap kasar, dan egois justru semakin sering terlihat.

*       Reverence: 1. a feeling or attitude of profound respect, usually reserved for the sacred or divine; devoted veneration. 2. an outward manifestation of this feeling, esp a bow or act of obeisance. 3. the state of being revered or commanding profound respect

 

Temperamen—Sifat Bawaan

Sekarang saya ingin membahas tentang kebiasaan memiliki temperamen yang baik. Sering kali kita menganggap temperamen sebagai sesuatu yang sudah dibawa sejak lahir, yang tidak bisa diubah. Kita sering mendengar orang berkata, “Oh, dia memang penyabar, apa pun tidak membuatnya marah,” atau sebaliknya, “Dia seperti ayahnya, gampang marah kalau ada yang tidak sesuai keinginannya.”

Bukan Temperamen Tetap, Tapi Kecenderungan

Memang benar bahwa anak-anak mewarisi kecenderungan tertentu: ada yang mudah marah, mudah gelisah, sulit merasa puas, pemurung, atau tidak sabar; ada juga yang ceria, percaya diri, humoris, sabar, dan rendah hati. Dan memang benar bahwa kebahagiaan atau kesedihan seorang anak—dan juga kenyamanan atau penderitaan orang-orang di sekitarnya—sangat bergantung pada kecenderungan mana yang paling kuat dalam dirinya, atau dengan kata lain, pada temperamennya.

Kita semua mengenal orang-orang yang jujur dan penuh kebaikan, tetapi tetap saja sulit untuk hidup berdampingan dengan mereka.

Masalahnya bukan karena seseorang terlahir pemurung, pencemburu, atau mudah tersinggung—semua sifat itu sebenarnya bisa dibentuk dan diperbaiki. Masalah sesungguhnya adalah ketika seseorang dibiarkan tumbuh dengan sifat-sifat itu tanpa dibimbing.

Di sinilah pentingnya kebiasaan yang baik: orang tua punya tanggung jawab untuk membentuk dan memperbaiki kecenderungan alami anak—apalagi kalau kecenderungan itu diwariskan dari mereka sendiri.

Orang tua harus menolong anak membangun temperamen yang seimbang dan penuh sukacita, yang terbiasa melihat sisi baik kehidupan, bersikap ramah terhadap orang lain, dan tidak menuntut berlebihan—karena sikap menuntut sering kali menjadi akar dari temperamen yang buruk.

Sebab pada dasarnya, anak tidak dilahirkan dengan temperamen yang sudah tetap, melainkan hanya dengan kecenderungan yang masih bisa dibentuk.

Orang Tua Perlu Mengarahkan Kecenderungan Anak Lewat Kebiasaan yang Baik

Melalui kekuatan kebiasaan, kecenderungan dalam diri anak bisa berkembang menjadi temperamen. Karena itu, tugas seorang ibu adalah mencegah terbentuknya temperamen yang buruk dan membantu anak membangun temperamen yang baik. Ini bukan hal yang sulit, apalagi selama wajah anak masih tampak polos di mata ibunya—karena di saat seperti inilah, seorang ibu sering kali dapat mengenali pikiran anak bahkan sebelum si anak menyadarinya sendiri.

Setiap pikiran yang iri, mengeluh, atau tidak puas akan meninggalkan jejak di otak anak—seperti jalan setapak yang menjadi semakin lebar dan dalam setiap kali dilalui. Maka, ibu perlu mencegah agar jalur itu tidak terbentuk sejak awal. Ia bisa melihat ke dalam hati anaknya—mengenali tanda-tanda munculnya temperamen buruk. Dan di saat itulah, kesempatan ibu untuk bertindak datang.

Mengalihkan Pikiran Anak

Ibu perlu mengubah arah pikiran anak sebelum benih temperamen buruk tumbuh menjadi kesadaran, apalagi menjadi tindakan. Ajaklah anak keluar, mintalah ia mengambil atau melakukan sesuatu, ceritakan hal menarik, atau tunjukkan sesuatu yang memancing rasa ingin tahunya. Intinya, berikan hal baru yang bisa mengalihkan pikirannya. Tetapi lakukanlah dengan alami, tanpa membuat anak merasa bahwa ia sedang dikendalikan.

Sama seperti wajah cemberut yang dibiarkan bisa membuka jalan bagi suasana hati yang semakin buruk, begitu pula sifat menggerutu yang berhasil dicegah oleh kepekaan ibu akan membantu menghapus jejak-jejak temperamen buruk yang mulai terbentuk. Pada saat yang sama, ibu juga perlu membuka jalur baru di hati dan pikiran anak—jalur yang dipenuhi perasaan yang manis, sikap ramah, dan semangat yang sehat agar bisa tumbuh dengan bebas.

Catatan Tambahan

Apa yang saya sampaikan ini hanyalah saran untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang dapat menjadi benteng luar dari karakter anak. Ini bukan panduan lengkap untuk pendidikan moral dan intelektual secara keseluruhan. Bahkan dalam ruang lingkup yang terbatas ini, masih banyak hal penting yang belum saya bahas.

Karena begitu banyaknya topik yang layak dibicarakan, saya perlu memilih, dan saya memilih untuk menyoroti hal-hal yang mungkin masih kurang diperhatikan oleh orang tua yang terdidik, daripada membahas hal-hal yang sudah jelas bagi mereka yang berpikiran matang.

 

 

Leave a Comment

error: Content is protected !!