Rasa Ketidaksesuaian
Dalam setiap pelajaran, meskipun hanya sedikit, anak harus diberi kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir mereka. Beberapa pelajaran mungkin bisa melatih lebih banyak kemampuan tersebut, sementara yang lainnya hanya sedikit saja. Oleh karena itu, perlu adanya kegiatan yang diatur dengan baik agar berjalan seimbang.
Contohnya, setelah kegiatan yang membutuhkan banyak latihan mekanis, dilanjutkan dengan pelajaran yang membutuhkan banyak berpikir. Setelah itu, kegiatan yang lebih sederhana atau menyenangkan, seperti melatih imajinasi, dapat dilanjutkan dengan pelajaran yang mengajak anak berpikir logis.
Sangat disayangkan jika humor yang berlebihan tumbuh melalui buku-buku anak, mengorbankan hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya, Alice in Wonderland adalah buku yang penuh dengan ide aneh yang sangat menghibur. Siapa pun yang membaca, baik itu anak-anak maupun orang dewasa, tidak ingin melewatkan membacanya.
Namun, hanya membaca buku seperti itu mungkin tidak dapat menggugah imajinasi anak sekuat saat membaca The Swiss Family Robinson, yang mengajaknya membayangkan hal-hal baru dan belum ia tahu sebelumnya.
Hal ini perlu dipertimbangkan, terutama dalam memilih buku Natal untuk anak-anak. Buku-buku yang hanya menyajikan ide lucu, aneh, dan menghibur, tidak menumbuhkan kekuatan apa pun kecuali rasa ketidaksesuaian; dan meskipun hidup menjadi lebih menyenangkan karena memiliki perasaan humor seperti itu, jika hal itu dipupuk secara berlebihan, maka akan cenderung menjadi kebiasaan yang tidak serius, meremehkan, tidak menaruh hormat, dan sembrono.
Cerita Diogenes and the Mischievous Boys of Troy memang sangat mengundang tawa, tetapi cerita seperti itu bukanlah cerita yang akan dimainkan anak-anak berulang kali, seperti yang pernah kita lakukan bermain peran menjadi Robinson Crusoe saat menemukan jejak kaki di pasir.
Anak-anak memang membutuhkan buku-buku lucu, tetapi jangan sampai orang tua terlalu banyak memberikan bacaan yang hanya berisi hal-hal tak masuk akal.
Catatan dari Ambleside online: [Ini hampir pasti mengacu pada “Diogenes und die bösen Buben von Korinth” (Diogenes dan Anak-anak Nakal dari Korintus), sebuah komik empat panel karya humoris Jerman Wilhelm Busch, yang dimuat dalam buku yang lebih besar.]
Cerita Umum: Kisah Imajinatif
Cerita-cerita sederhana tentang liburan Natal, seperti kisah George dan Lucy, atau cerita tentang kegiatan, kebiasaan, dan kebaikan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, kurang menarik bagi imajinasi anak-anak. Mereka sudah terlalu terbiasa dengan situasi-situasi seperti itu, sehingga tidak merasa tertarik untuk berpura-pura memainkan adegan dari cerita tersebut, atau bahkan membacanya ulang lebih dari sekali.
Sebaliknya, berikan mereka cerita-cerita imajinatif – seperti kisah yang berlatar di negeri dan zaman lain, petualangan heroik, pelarian dan penyelamatan yang mendebarkan, serta dongeng indah yang, meskipun berisi hal-hal mustahil, tetap bisa dipercaya oleh anak-anak. Mereka tahu semuanya tidak nyata, tetapi tetap dapat menikmati dan terhanyut dalam membacanya.
Imajinasi dan Gagasan Besar
Imajinasi bukanlah hanya sekadar hiburan bagi anak-anak. Di masa depan, kita bahkan mungkin dikenang sebagai generasi yang memiliki imajinasi lemah, karena kita kurang mampu menghasilkan gagasan hebat dan melakukan tindakan yang heroik. Kita hanya bisa melakukan hal-hal besar ketika kita benar-benar fokus pada seseorang atau suatu tujuan, tanpa terus-menerus sibuk memikirkan diri sendiri.
Beberapa penulis novel berpendapat bahwa tidak ada lagi hal baru untuk dibayangkan, sehingga mereka hanya menggambarkan kenyataan seperti apa adanya. Namun, imajinasi bukanlah imajinasi bila tidak bersifat kreatif – yang bukan hanya melihat apa yang tampak mata, tetapi juga melihat apa yang mungkin terjadi dan apa yang indah, seperti lantunan puisi, penuh makna.
Imajinasi Tumbuh Secara Bertahap
Imajinasi tidak muncul tiba-tiba dan langsung berkembang sempurna di dalam rumah yang kita sebut pikiran. Sama seperti kemampuan mental lainnya, imajinasi dimulai dari benih kecil lalu tumbuh dan berkembang seiring dengan apa yang diterimanya. Masa kanak-kanak, ketika anak-anak masih mudah percaya, adalah waktu terbaik untuk memupuknya. Anak-anak harus merasakan kegembiraan seolah mereka hidup di negeri seberang, dalam kehidupan orang lain, dan di masa yang berbeda – sebuah pengalaman ganda, menyenangkan sekaligus membuka wawasan mereka. Kegembiraan ini terutama datangnya melalui cerita-cerita dari buku yang mereka baca.
Selain itu, pelajaran seperti sejarah dan geografi juga harus mengembangkan kemampuan konseptual* mereka. Jika anak tidak merasa ‘hidup’ di masa lalu dalam pelajaran sejarahnya atau tidak merasa akrab dengan tempat-tempat dalam buku geografinya, maka tujuan pelajaran tersebut tidak tercapai. Namun, sekalipun pelajaran dilakukan sebaik mungkin, imajinasi anak tetap akan terasa hampa jika ia tidak memiliki jalan menuju dunia khayalan.
* Kemampuan konseptual adalah kemampuan untuk menyusun, mengembangkan, dan melaksanakan ide dan konsep. Keterampilan ini juga melibatkan kemampuan untuk berpikir secara abstrak, memahami konsep yang kompleks, dan mengembangkan rencana strategis. Keterampilan konseptual juga dapat membantu individu untuk menemukan sudut pandang yang lebih luas.
Berpikir Datang dari Latihan
Tentang bagaimana cara menyusun pelajaran agar anak terbiasa berpikir akan dibahas lebih lanjut. Namun, yang penting untuk diingat saat sekarang ini adalah bahwa upaya berpikir itu berlaku sama seperti upaya menulis atau bermain seluncur es, hal tersebut hanya bisa berkembang dengan latihan. Anak yang tidak pernah diajak berpikir, kemungkinan besar tidak akan pernah terbiasa berpikir dengan sungguh-sungguh. Bukankah banyak orang dewasa menjalani hidup tanpa pernah benar-benar menggunakan akal mereka?
Anak-anak harus belajar berpikir setiap hari, mencari alasan di balik sesuatu, dan semakin berkembang. Sayangnya, sering kali proses pendidikan berjalan terbalik. Ketika anak bertanya, “Kenapa?” orang tua merasa bangga karena melihat tanda-tanda anak belajar berpikir dan penuh rasa keingintahuan, lalu orang tua langsung memberikan jawabannya. Memang, pertanyaan “Kenapa?” menunjukkan rasa ingin tahu, tapi itu sebenarnya hanyalah suatu bentuk pemikiran yang paling sederhana.
Lebih baik halnya jika orang tua sendiri yang bertanya “Kenapa?” dan anak mencoba mencari jawabannya sendiri. Setelah anak sekian lama berpikir dan mencoba memahami masalahnya sendiri, barulah orang tua boleh memberikan jawaban. Dengan begitu, anak akan lebih mudah mengingat dan memahami apa yang dipelajarinya.
Kegiatan sederhana seperti saat berjalan-jalan di alam bahkan dapat menjadi kesempatan untuk melatih pemikiran anak. Misalnya, ajukan pertanyaan seperti, “Kenapa daun ini bisa mengapung di air, sementara batu kecil ini tenggelam?” Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu membantu anak belajar berpikir dengan lebih mendalam.
