Kebiasaan Menghasilkan Pekerjaan yang Ceroboh
“Kerjakan segala sesuatu dengan sebaik mungkin” adalah nasihat yang sangat berguna dalam setiap keluarga. Namun, pada kenyataannya banyak dari kita cenderung lebih fokus pada keinginan pribadi dan menggampangkan, daripada peduli dengan kualitas pekerjaan kita. Anak-anak sering dibiarkan membuat angka, huruf, jahitan, mainan, atau karya kecil lainnya dengan asal-asalan, dengan harapan mereka akan memperbaikinya suatu saat dewasa nanti dengan sendirinya. Di negara seperti Jerman dan Prancis, pendekatan ini berbeda. Mereka memahami bahwa jika anak-anak terbiasa mengerjakan sesuatu dengan tidak rapi, kebiasaan itu akan terus terbawa hingga mereka dewasa.
Saya pernah melihat contoh yang mengesankan di sebuah sekolah di Heidelberg, Jerman. Anak-anak usia enam atau tujuh tahun sedang belajar menulis. Guru mereka menuliskan kata-kata di papan tulis, dan ketika saya melihat hasil tulisan mereka, tidak ada satu pun huruf yang salah atau berantakan di antara 40 papan tulis. Hal serupa saya lihat di pameran karya sekolah di Prancis. Tidak ada karya yang buruk dipamerkan dengan alasan “Maklum lah itu kan hanya hasil karya anak-anak.”
Anak Harus Belajar Bekerja dengan Sebaik-baiknya (perfect execution)
Anak tidak boleh diberikan tugas yang dia tidak mampu kerjakan dengan baik. Kesempurnaan harus menjadi kebiasaan. Misalnya, jika seorang anak diberi tugas menggambar garis, tetapi dibiarkan membuat garis yang tidak rapi atau tidak sejajar, itu hanya akan merusak kepercayaan dirinya dan melemahkan kemampuannya memperhatikan detail. Sebaliknya, lebih baik beri dia tugas membuat enam garis yang rapi dan sejajar. Jika ada yang salah, ajari dia untuk melihat kesalahannya sendiri dan mencoba lagi sampai berhasil. Jika hari ini belum selesai, beri dia waktu untuk mencoba lagi keesokan harinya hingga dia berhasil membuat garis-garis yang sempurna. Ketika dia berhasil, rayakan keberhasilannya.
Hal ini berlaku untuk semua tugas, seperti melukis, menggambar, atau membuat sesuatu. Apa pun yang dikerjakannya harus dilakukan dengan baik. Bahkan untuk hal kecil seperti membuat rumah kartu, jika tidak kokoh, itu tetap memalukan. Kebiasaan bekerja dengan sempurna juga berkaitan dengan kebiasaan menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Anak tidak sebaiknya memulai pekerjaan baru sebelum menyelesaikan pekerjaan yang lama.
