Sayangnya, karena banyaknya topik yang harus dibahas, kita hanya bisa membicarakan kebiasaan moral yang perlu ditanamkan seorang ibu pada anak-anaknya secara singkat dan sederhana. Meskipun begitu, yang perlu diingat adalah semua prinsip tentang pembentukan kebiasaan yang telah dibahas sebelumnya berlaku sepenuhnya untuk setiap kebiasaan moral ini.
Kewajiban Utama Seorang Anak
Kebiasaan yang paling penting untuk diajarkan kepada anak adalah ketaatan. Ketaatan adalah tanggung jawab utama seorang anak, karena semua tanggung jawab lainnya dilakukan sebagai bagian dari ketaatan kepada orang tua. Selain itu, ketaatan juga merupakan kewajiban utama setiap manusia—ketaatan kepada hati nurani, hukum, dan bimbingan Tuhan.
Ada pernyataan yang bijak bahwa semua pencobaan yang dialami Tuhan Yesus di padang gurun bukanlah ajakan untuk berbuat dosa secara langsung, tetapi dorongan untuk bertindak menurut kehendak-Nya sendiri. Sikap seperti ini bertentangan dengan ketaatan, dan dari sinilah muncul kebodohan yang sering ada dalam hati seorang anak (Amsal 22:15).
Ketaatan Bukan Sekadar Pilihan
Orang tua perlu memahami bahwa ketaatan bukan hanya hal kecil yang hanya melibatkan hubungan mereka dengan anak. Sebaliknya, orang tua memiliki tanggung jawab penting untuk melatih anak agar menjadi pribadi yang sadar akan pentingnya patuh pada hukum. Dengan pemahaman ini, orang tua tidak boleh mengabaikan perilaku anaknya. Setiap kali anak tidak taat, itu menunjukkan tanggung jawab orang tua yang belum terpenuhi.
Selain itu, alasan anak harus taat bukanlah karena perintah sepihak seperti, “Lakukan ini karena aku bilang begitu.” Sebaliknya, alasannya didasarkan pada ajaran rasul: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena ini adalah hal yang benar” (Efesus 6:1).
Anak-Anak Perlu Mau Taat dengan Kesadaran Sendiri
Kebiasaan ketaatan hanya akan terbentuk jika seorang anak memilih untuk taat dengan kemauannya sendiri. Anak taat karena dia merasa itu benar, meskipun ada godaan untuk tidak patuh. Ketaatan ini tidak dipaksakan, tetapi dilakukan dengan sukarela. Kebiasaan seperti inilah yang kelak memberinya kekuatan untuk melawan dorongan yang membuatnya ingin melanggar aturan.
Sering kali dikatakan bahwa anak-anak dari orang tua yang sangat ketat dalam menuntut ketaatan justru berakhir buruk. Hal yang sama juga terjadi pada anak yatim piatu atau anak-anak terlantar yang dibesarkan dengan disiplin keras. Mengapa ini terjadi? Karena mereka tidak mendapatkan pelatihan bertahap untuk membentuk kebiasaan ketaatan. Tidak ada usaha untuk melibatkan kehendak anak sehingga mereka mau menyerahkan diri dengan sukarela pada aturan yang lebih tinggi. Anak-anak ini hanya dipaksa untuk patuh pada kehendak orang lain—yang sering kali sewenang-wenang—bukan karena “ini benar,” tetapi hanya karena dianggap lebih praktis.
Harapkan Ketaatan
Salah satu tugas paling penting bagi seorang ibu adalah melatih anaknya untuk taat segera setelah diberi perintah. Melatih ketaatan sebenarnya tidak sulit. Pada usia dini, anak masih polos dan memiliki naluri untuk patuh, karena ketaatan adalah sifat alami yang sudah ada dalam dirinya dan hanya perlu diasah. Tidak perlu memarahi, mengancam, atau menggunakan kekerasan. Anak-anak secara naluriah mengenali otoritas orang tua. Ibu cukup berkata, “Lakukan ini,” dengan nada tenang dan penuh wibawa, lalu benar-benar mengharapkan anak melakukannya.
Banyak ibu kehilangan kendali atas anak-anaknya karena anak-anak bisa merasakan keraguan dari suara ibu mereka—mereka tahu bahwa sang ibu tidak benar-benar yakin mereka akan taat. Ketika ibu tidak cukup menghargai otoritasnya atau kurang percaya diri, anak-anak pun belajar untuk mencari cara agar bisa melawan. Namun, jika ibu sejak awal menetapkan bahwa ketaatan adalah sesuatu yang wajib dilakukan, anak-anak akan mematuhinya dengan lebih mudah.
Masalah sering kali dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, seorang tamu datang ke rumah, dan ibu berkata, “Kalian harus naik ke atas sekarang.” Anak-anak menjawab, “Oh, ibu, biarkan kami duduk di sudut jendela; kami akan diam seperti tikus!” Sang ibu merasa bangga dengan sopan santun anak-anak dan mengizinkan mereka tetap tinggal. Tetapi kemudian, mereka tidak diam seperti yang dijanjikan. Masalah sebenarnya bukan itu—masalahnya adalah mereka berhasil melakukan keinginan mereka sendiri, bukan mematuhi perintah ibu. Kebiasaan ini akan membuat mereka semakin sulit untuk taat di masa depan.
Ketaatan yang baik berarti anak melakukannya dengan cepat, ceria, dan konsisten. Sebaliknya, ketaatan yang terlambat, enggan, atau hanya dilakukan sesekali tidak akan membawa hasil. Contohnya, ibu berkata, “Mary, masuklah.” Mary menjawab, “Iya, Bu,” tetapi sang ibu harus memanggil empat kali sebelum Mary benar-benar masuk. Atau ibu berkata, “Simpan balok-balokmu,” dan balok itu disimpan dengan gerakan lamban dan malas.
Agar anak tidak terbiasa menunda-nunda, ibu harus sejak awal menetapkan bahwa ketaatan harus dilakukan tanpa penundaan, tanpa keluhan, dan dilakukan terus-menerus. Lebih mudah membiasakan anak untuk selalu taat dengan konsisten sejak awal daripada harus terus-menerus mengerahkan otoritas untuk memaksakan ketaatan.
Ketika anak sudah lebih besar, ajaklah dia berdiskusi. Tunjukkan bahwa membuat dirinya melakukan sesuatu dengan cepat dan ceria, bahkan jika itu adalah hal yang tidak ia sukai, adalah sesuatu yang mulia. Namun, untuk memastikan kebiasaan ketaatan ini, ibu juga harus memiliki pengendalian diri. Jangan memberikan perintah yang tidak serius atau tidak penting, dan jangan membebani anak dengan terlalu banyak perintah sekaligus.
Ketaatan Membawa Kebebasan
Anak-anak yang dilatih untuk taat dengan baik dapat diberi kebebasan yang cukup luas. Mereka tahu ada beberapa aturan yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar, tetapi di luar itu, mereka diberi kesempatan untuk belajar mengatur diri sendiri, meskipun terkadang mereka mungkin membuat kesalahan kecil. Dengan cara ini, mereka tidak terus-menerus diawasi atau dihujani perintah seperti, “Lakukan ini” atau “Jangan lakukan itu!”
