Bagian III.2. Anak-anak Tidak Memiliki Kekuatan untuk Memaksakan Dirinya Sendiri

Jalan Buntu dalam Pendidikan.–– Beberapa tahun lalu, saya sering mendengar pernyataan, “Kebiasaan sepuluh kali lebih kuat daripada sifat bawaan,” hal itu dikatakan berulang-ulang dari atas mimbar paling tidak satu kali di setiap bulannya. Saat itu, saya masih muda dan baru saja memulai pekerjaan sebagai guru yang memiliki semangat tinggi terhadap pekerjaan ini. Bagi saya, menjadi seorang guru adalah tanggung jawab yang besar; sebuah tugas yang terasa mustahil namun luar biasa, karena tugas ini memberikan pengaruh yang nyata di dalam pikiran anak-anak. Jika ada sesuatu yang salah—misalnya, jika seorang anak gagal di sekolah atau di luar sekolah—rasanya itu adalah kesalahan sang guru.

Pikir saya saat itu seolah tidak ada tanggung jawab yang terlalu besar untuk dipikul dan semua bisa dilakukan dengan penuh semangat oleh seorang guru muda. Tetapi meskipun dengan semua semangat ini, ternyata hasilnya sungguh mengecewakan, tidak ada hal yang luar biasa terjadi. Anak-anak secara umum bersekolah dengan baik, mungkin karena mereka berasal dari keluarga baik yang dipenuhi kasih sayang dan perhatian; akan tetapi, di sekolah mereka tetap bertingkah sesuai dengan “sifat bawaan” mereka. Kebiasaan buruk yang ada, tetap bertahan; begitu pula dengan kebaikan yang mereka miliki, juga tetaplah sama. Anak yang baik dan lembut, masih saja suka berbohong. Anak yang ceria dan murah hati, tetap suka menghindar dari pekerjaan. Dalam belajar juga tidak banyak berubah; anak yang suka menunda, masih saja terus menunda-nunda, dan anak yang lekas bosan, tetap saja tidak bersemangat.

Hal ini sangat mengecewakan. Tentu saja anak-anak membuat “kemajuan”–– tetapi tidak banyak; padahal mereka semua memiliki potensi untuk menjadi pribadi yang baik dan berkarakter mulia. Di manakah tuas yang bisa mengangkat potensi anak-anak ini? Pastinya ada tuas ini. Seolah dedikasi yang terus diberikan pada saat pelajaran geografi, bahasa Prancis, sejarah, atau matematika terasa seperti hanyalah bermain-main saja; coba saja pikirkan, memangnya siapa yang masih bisa mengingat banyak hal dari pelajaran yang diterima saat masa kanak-kanak? Bukankah pengalaman nyata dalam beberapa jam saja terjun di kehidupan nyata akan lebih bermakna dibanding belajar selama setahun di satu mata pelajaran?

Jika pendidikan dimaksudkan untuk menjamin kemajuan selangkah demi selangkah dari setiap individu dan ras manusia, maka artinya pendidikan harus mencakup hal lebih dari sekadar giat belajar sehari-hari dan rajin mengerjakan tugas-tugas kecil di sekolah setiap harinya.

*   Kebiasaan sepuluh kali lipat lebih kuat dari sifat bawaan – ‘habit is ten natures’ – kutipan perkataan Duke Wellington Arthur Wellesley, mantan Perdana Menteri Inggris (1769-1852)

Cinta, Hukum, dan Agama sebagai Kekuatan dalam Pendidikan.–– Dalam pencarian saya akan panduan pendidikan, saya banyak belajar dari berbagai sumber, namun saya belum menemukan panduan otoritatif yang ideal, yaitu panduan yang mampu merangkul semua potensi yang ada pada sifat alami anak dan sekaligus memahami cakupan pendidikan itu sendiri. Saya melihat bagaimana pelajaran agama membantu anak-anak, memberi mereka kekuatan dan motivasi untuk terus berusaha dan membimbing mereka untuk melakukan yang terbaik. Saya juga melihat bagaimana hukum (agama) menahan manusia dari keinginan melakukan hal yang salah, dan cinta kasih mendorong mereka menuju kebaikan.

Namun, meskipun ada bantuan yang besar ini, baik dari luar maupun dari atas, dalam pekerjaan pendidikan masih terasa ada sesuatu yang mengganjal, seolah masih ada kebimbangan. Kemajuan yang dicapai oleh generasi muda, baik dalam hal moral maupun kecerdasan, sering terasa seperti upaya yang bolak-balik, bagai pintu dorong yang tetap bertahan pada engselnya––mengayun maju di hari ini dan mundur lagi di esok hari, ––mungkin mereka tampak lebih maju hari ini, namun kembali seperti semula esok hari, sehingga hanya sedikit kemajuan yang terlihat dari tahun ke tahun. YA memang mereka dapat menyelesaikan soal-soal matematika yang lebih sulit, atau membaca buku yang lebih rumit, tetapi dampak perubahan itu masih terasa sangat kecil.

*   Otoritatif = menunjukkan otoritas.

Mengapa Anak Tidak Mampu Melakukan Usaha yang Konstan.–– Alasan utama dari kegagalan ini cukup jelas: setiap anak memiliki cahaya kehangatan dan kebaikan dan keinginan untuk berbuat baik dalam hatinya, tetapi mereka sering kesulitan untuk melakukan usaha yang kukuh karena mereka belum memiliki kekuatan kehendak yang kuat; mereka belum mampu memaksakan dirinya untuk melakukan apa yang mereka tahu seharusnya mereka lakukan. Di sinilah peran penting orang tua dan guru—mereka harus membantu anak-anak untuk mampu melakukan hal-hal yang sulit mereka lakukan sendiri. Namun, karena kurangnya pelatihan yang baik, anak menjadi terlalu bergantung pada pengaruh langsung dari orang tua atau guru. Tugas pendidikan adalah menemukan cara-cara untuk memperkuat kehendak anak-anak, mengatasi kelemahan yang membuat mereka mudah menyerah. kelemahan yang merupakan kutukan bagi sebagian besar dari kita dan juga anak-anak.

Anak Perlu Bantuan dalam Upaya Pengambilan Keputusan. ––  Sudah sering dijelaskan bahwa membuat keputusan adalah salah satu hal paling melelahkan dalam hidup, dan jika itu benar bagi kita—misalnya, saat memutuskan hal-hal kecil seperti “haruskah pergi” atau “tidak pergi,” “perlukah membeli” atau “tidak membeli”—tentu tidak bijaksana membiarkan anak-anak terus-menerus membuat keputusan kehendak setiap kali mereka harus memilih antara yang benar dan salah.

Leave a Comment

error: Content is protected !!