Ungkapan ‘Kebiasaan adalah PULUHAN dari sifat’ terus terngiang di pikiran saya, dan akhirnya saya merasa bahwa ini mungkin kunci penting dalam pendidikan, seperti sebuah mantra pembuka ‘Open, sesame!’ yang membuka pintu pemahaman. Pertama-tama, marilah kita pahami sebelumnya, apa sebenarnya Sifat itu dan apa itu Kebiasaan?
Open sesame — kisah Ali Baba dan 40 orang perampok, perkataan open sesame adalah kata kunci untuk membuka gua berisi harta karun.
Open sesame – sesuatu yang berhasil dikerjakan dan menghasilkan hasil yang diinginkan
Hal ini adalah sesuatu yang luar biasa ketika kita memikirkan tentang anak-anak, siapa pun mereka, tanpa memandang ras, negara, atau keluarga, hanya berdasarkan fakta bahwa mereka adalah manusia.
Semua Orang Lahir dengan Keinginan yang Sama.
Kita semua mengakui bahwa manusia dilahirkan dengan naluri dan dorongan yang serupa. Namun, menyadari bahwa prinsip-prinsip yang mengarahkan tindakan manusia di seluruh dunia pada dasarnya adalah sama, dapat menjadi hal yang cukup mengejutkan. Misalnya, baik pada orang barbar maupun orang bijak, ada dorongan yang sama—keinginan terhadap pengetahuan. Hal ini terlihat dari rasa ingin tahu seorang anak terhadap berbagai hal dan bagaimana ia dengan aktif menggunakan mata dan panca indranya untuk mengamati sekelilingnya.
Keinginan untuk bersosialisasi juga terlihat di mana saja, seperti ketika dua bayi bertemu untuk pertama kali, mereka menunjukkan kegembiraan dan keramahan. Hal ini berlaku baik untuk bayi di desa terpencil maupun bayi dari masyarakat yang lebih berpendidikan. Selain itu, keinginan untuk mendapatkan penghargaan adalah sesuatu yang universal. Hal ini menjadi alat yang sangat kuat di tangan para pendidik, karena kata-kata pujian atau kritik sering kali lebih berpengaruh dibandingkan rasa takut akan apapun atau antisipasi mendapat hukuman juga imbalan
Dan Kasih Sayang.
Bukan hanya keinginan yang sama yang dimiliki semua orang. Di mana pun, manusia memiliki perasaan kasih sayang dan emosi yang serupa. Mereka bereaksi dengan cara yang sama terhadap situasi serupa: kegembiraan, kesedihan, cinta, kebencian, kebaikan hati, simpati, ketakutan, dan banyak lagi adalah hal-hal yang umum bagi kita semua. Begitu pula dengan hati nurani dan rasa tanggung jawab.
Isi dari Konsep Paling Dasar tentang Sifat Manusia.
Dr. Livingstone pernah menyampaikan bahwa di antara aturan-aturan moral suku-suku Zambesi, hanya satu tambahan yang menurutnya perlu, yaitu larangan seorang pria memiliki lebih dari satu istri. Bahkan tanpa pendidikan formal, pendidikan agama Kristen, atau tata krama modern, suku-suku ini sudah menganggap hal-hal seperti berkata buruk, berbohong, membenci, tidak patuh pada orang tua, atau mengabaikan mereka sebagai dosa.
Selain itu, mereka memiliki perasaan tanggung jawab untuk peduli terhadap sesama manusia serta kesadaran akan keberadaan Tuhan, meskipun sering kali samar-samar. Semua ini, bersama dengan banyak aspek lainnya, membentuk konsep dasar tentang sifat manusia.
Dr. David Livingstone (19 Maret 1813 – 1 Mei 1873) seorang dokter yang peduli dengan hal-hal kemanusiaan, ia menjadi salah satu pionir misionaris yang dikirim ke suku-suku di Afrika, dan pembuat peta Afrika pertama
Sifat Dasar dan Keturunan.
Kemudian, muncul peran penting dari faktor keturunan dalam membentuk sifat bawaan seseorang. Misalnya, seorang anak yang lahir dengan sifat mudah marah, keras kepala, atau ceroboh, bisa jadi mewarisi sifat tersebut dari ibunya, kakeknya, atau anggota keluarga lainnya.
Bayangkan seperti “ilusi yang tampak nyata”—gerakan tangan yang khas, meskipun tidak diajarkan, diturunkan dari ayah ke anak. Atau, karakter khas dalam tulisan tangan yang, seperti diceritakan oleh Miss Power Cobbe, dapat dilacak dalam keluarganya hingga lima generasi. Begitu pula bakat seni, seperti selera terhadap musik atau kemampuan melukis, yang sering diwariskan dalam keluarga.
Dari hal ini Anda mendapatkan konfirmasi tentang sifat dasar dengan arah yang berbeda, yang terkonfirmasi, sah, dan terikat sepenuhnya dengan bukti-bukti, terhadap segala upaya untuk mengubah atau memodifikasinya.
Frances Power Cobbe (1822-1904) – salah satu aktivis wanita, salah satu pionir kesetaraan perempuan
Dipengaruhi oleh Kondisi Fisik.
Perlu juga dikatakan lagi bahwa kondisi fisik juga memainkan peran penting dalam membentuk sifat seseorang. Anak yang lemah dan rentan tentu akan berbeda sifatnya dibandingkan dengan anak yang kuat, tangguh, dan jarang sakit. Perbedaan ini memengaruhi cara mereka menggunakan kehendak dan emosinya.
Sifat Manusia sebagai Akumulasi dari Berbagai Faktor.
Ketika kita mempertimbangkan berbagai aspek, seperti keinginan, kasih sayang, dan emosi alami yang umum dimiliki oleh semua manusia; kecenderungan yang diwariskan dalam keluarga; serta keunikan individu yang muncul dari kondisi fisik dan sistem otaknya—semua ini membentuk sifat manusia. Sifat manusia adalah hasil dari akumulasi semua faktor tersebut. Hal ini berkembang dengan cara yang begitu kompleks sehingga sering kali yang terbaik adalah membiarkan setiap anak berkembang secara alami, tanpa terlalu banyak hambatan, sesuai dengan karakter dan kecenderungan unik yang ada dalam dirinya.
Anak Tidak Boleh Dibiarkan Hanya dengan Sifat Bawaannya.
Banyak orang tua—bahkan sebagian besar guru—membiarkan anak berkembang begitu saja tanpa arahan, berpikir bahwa itu sudah cukup. Namun, apa akibatnya? Dunia memang terus maju, tetapi kemajuan itu sering kali hanya dinikmati oleh segelintir orang yang orang tuanya serius memperhatikan pendidikan mereka. Sementara itu, anak-anak yang dibiarkan tumbuh tanpa bimbingan tidak akan berkembang, bahkan mungkin menjadi lebih buruk, hidup sebagai beban bagi masyarakat. Faktanya, anak-anak yang tidak dididik dengan baik cenderung tidak berubah dari tingkat awal mereka, atau bahkan merosot ke tingkat yang lebih rendah. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak-anak mereka—melatih moralitas, membantu mereka memahami tujuan hidup, serta mengembangkan kemampuan intelektual mereka. Hal ini sama pentingnya seperti memberi makan dan pakaian. Semua ini harus dilakukan, bahkan jika anak memiliki sifat bawaan yang tampaknya menjanjikan. Memang benar, ada kalanya lingkungan atau keadaan luar membantu membentuk anak menjadi pribadi yang terhormat meskipun orang tuanya gagal mendidiknya. Namun, ini hanyalah kebetulan semata dan tidak bisa dijadikan alasan bagi orang tua atau pendidik untuk lepas tangan. Saya mulai memahami arah pemikiran saya, meskipun masih menghadapi kesulitan dari sudut pandang psikologis yang menghambat pendidikan sejati. Namun, saya kini menemukan alasan utama dari masalah ini, yaitu:
Kehendak dalam diri anak sangat rapuh. Pada anak-anak yang lemah, kehendak ini mudah terganggu, sementara pada anak-anak yang kuat, kehendak tersebut bisa lebih dominan. Namun, kehendak ini hampir tidak pernah bisa diandalkan sebagai kekuatan utama dalam pendidikan.
Sifat Alamiah Anak
Sifat manusiawi seorang anak merupakan gabungan dari berbagai aspek: sifat dasar yang dimilikinya sebagai manusia, warisan sifat dari garis keturunannya, serta karakteristik yang terbentuk dari sistem tubuhnya, baik fisik maupun mental. Sifat-sifat ini sangat kuat dan memengaruhi kehidupannya.
Tantangan bagi Para Pendidik
Tantangan utama bagi pendidik adalah membantu anak mengendalikan sifat-sifatnya sendiri, baik yang dianggap sebagai sifat baik maupun yang disebut sifat buruk. Anak harus diajari untuk mengelola dirinya, termasuk sifat-sifat yang mungkin tampak sebagai kelebihannya tetapi bisa menjadi masalah—seperti kedermawanan yang berlebihan. Banyak orang gagal bukan karena kekurangan, tetapi karena tidak mampu mengontrol sifat baik yang berlebihan.
Kasih Karunia Tuhan dan Usaha Manusia
Dalam mencari solusi untuk masalah ini, penting untuk tidak mengabaikan peran kasih karunia Tuhan. Namun, kita juga harus ingat bahwa kasih karunia Tuhan bekerja sejalan dengan usaha manusia yang penuh kesadaran dan kesungguhan. Orang tua yang berusaha dengan sungguh-sungguh memahami dan menjalankan peran mereka dalam mendidik anak-anak pasti akan mendapat dukungan Tuhan.
Sebagai contohnya, Ribka, ia tidak berhak membesarkan anaknya menjadi seorang *”Hai engkau cacing, Yakub,”* hanya dengan keyakinan saja bahwa kasih karunia Tuhan yang akan berbicara sendiri dengan khidmat dan akan menyelamatkannya. Yakub menjadi orang besar dan saleh berkat usaha serta doa orang tuanya. Meskipun ia berhasil melewati banyak rintangan, Yakub di akhir hidupnya tetap mengeluhkan bahwa hari-harinya “sedikit dan penuh kesulitan.” Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan usaha manusia berperan penting, bahkan dalam kehadiran kasih karunia Tuhan.
Charlotte Mason mengambil kisah dari Alkitab tentang Yakub, yang kelak akan menjadi Bapak dari 12 suku Israel. Ia pernah hidup dalam pelarian dan ketakutan karena takut dibunuh oleh Esau, saudara kembarnya, karena Yakub sudah mengakali Esau untuk memperoleh hak kesulungan. Karena perbuatannya itu, Yakub merasa dia lemah seperti cacing. Ribka adalah ibu Esau dan Yakub, namun ia lebih memilih, mempersiapkan dan melatih Yakub untuk meneruskan keturunan Ishak, karena Esau lebih berperangai buruk, sedang Yakub lebih taat dan lebih mencintai Tuhan.
Yesaya 41:14 Jangan takut, hai cacing Yakub, Israel kecil, jangan takut, karena Aku sendiri yang akan membantumu,” firman TUHAN, Penebusmu, Yang Maha Kudus. Ayat ini adalah percakapan langsung Tuhan untuk Yakub — kemungkinan Charlotte Mason mengambil ayat ini dengan konteks ada bantuan dari Yang Di Atas.
Kejadian 47:9 Jawab Yakub kepada Firaun: “Tahun-tahun pengembaraanku 1 sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. u Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing.” — Ini perkataan Yakub saat bertemu Firaun Mesir, saat Yakub sekeluarga pindah ke Mesir karena bantuan Yusuf.
Keyakinan Orang Tua Tidak Boleh Pasif atau Hanya Berserah
Banyak orang tua Kristen berharap hanya dengan beriman, anak-anak mereka akan tumbuh baik dengan sendirinya. Mereka membiarkan anak-anak berkembang bebas seperti tanaman liar—menghasilkan duri, bunga yang layu, atau buah yang hambar—dengan keyakinan bahwa kasih karunia Tuhan suatu hari akan memperbaiki semuanya, memangkas, dan memperbaiki cabang-cabang yang rusak.
Memang tidak ada yang salah bila para orang tua beriman dan percaya; tetapi anak yang dibiarkan tumbuh tanpa arah akan mengalami banyak penderitaan dan kesulitan di kemudian hari saat mencoba memperbaiki dirinya. Padahal, hal ini sebenarnya bisa dicegah jika orang tua mau membimbing dan melatih anak-anak sejak dini, membentuk karakter mereka dengan penuh perhatian.
Beriman memang penting, tetapi anak yang dibiarkan tumbuh tanpa arah akan mengalami banyak penderitaan dan kesulitan di kemudian hari saat mencoba memperbaiki dirinya. Padahal, hal ini sebenarnya bisa dicegah jika orang tua mau membimbing dan melatih anak-anak sejak dini, membentuk karakter mereka dengan penuh perhatian.
Sifat Bawaan Tidak Tak Terkalahkan
Sebesar apa pun pengaruh sifat bawaan, itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Sifat bawaan, sebaik atau seburuk apa pun, tidak boleh dibiarkan mendominasi. Dengan tali les dan kekang, artinya dengan bimbingan, disiplin, dan pengawasan yang baik, sifat anak dapat diarahkan menjadi sesuatu yang positif.
Jika bimbingan dilakukan sejak dini, hasilnya akan jauh lebih baik. Namun, jika sifat liar dalam diri anak dibiarkan, anak akan tumbuh seperti kuda liar yang sulit dikendalikan, dan pada saat itu, tidak ada pecut atau cambuk yang mampu menjinakkannya.
Tali les dan kekang – kemungkinan Charlotte Mason mengacu pada ayat Alkitab Mazmur 32:9 Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang,
Tangan – Matius 5:30 Dan jika tangan mu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
Mulut -Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?
