Dari semua kebiasaan yang ada—setengahnya adalah kebiasaan fisik dan setengahnya lagi kebiasaan moral—semuanya diterima anak dan membentuk standar kesopanan, kenyamanan, dan rutinitas sehari-harinya. Anak menerima kebiasaan-kebiasaan ini secara pasif, artinya dia tidak perlu melakukan banyak usaha untuk membentuknya. Otaknya secara alami merekam apa yang dia lihat di sekitarnya, dan kesan-kesan ini menjadi kebiasaan yang paling kuat dan bertahan lama dalam hidupnya.
Beberapa Aspek Pendidikan Untuk Bayi
Kebersihan, keteraturan, kerapian, ketepatan waktu, dan kebiasaan teratur adalah bagian penting dari pendidikan untuk bayi. Pendidikan ini terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari bayi, seperti udara yang dihirupnya, sehingga dia menyerapnya tanpa sadar.
Soal kebersihan di kamar bayi, hampir tidak perlu ditekankan lagi. Bayi biasanya sudah terbiasa dimandikan secara rutin, memakai pakaian, kain, atau popok yang selalu bersih dan sering dicuci. Namun, meskipun ibu-ibu dari kalangan terpelajar biasanya sangat memperhatikan hal ini, sering kali tugas-tugas tersebut dipercayakan kepada pengasuh. Oleh karena itu, ibu tetap harus memastikan semuanya terjaga dengan baik—tidak ada bau yang tidak sedap pada bayi, pakaian, atau benda yang digunakannya. Ruangan bayi juga harus selalu bersih, nyaman, memiliki sirkulasi udara yang baik, dan bebas dari kelembapan.
Salah satu tantangan terbesar adalah beberapa pengasuh masih percaya bahwa membuka jendela itu buruk bagi bayi. Tantangan lainnya adalah kurangnya pemahaman mereka tentang bau. Banyak dari mereka tidak menyadari bahwa bau sebenarnya terdiri dari partikel-partikel besaran mikroskopis yang bisa masuk ke tubuh anak setiap kali dia menghirup udara tersebut. Karena bau ini tidak terlihat, sulit meyakinkan mereka tentang bahayanya.
Hidung yang Peka — Salah satu bagian penting dari pendidikan fisik anak adalah melatih kepekaan hidungnya—melatihnya untuk mengenali bau yang tidak segar di ruangan, atau aroma apak yang samar pada pakaian atau furnitur. Indera penciuman bukan hanya alat untuk menikmati wangi-wangian, tetapi juga sebagai pemberi alarm alami yang memperingatkan kita terhadap hal-hal berbahaya. Sayang sekali, banyak orang tampak menjalani hidupnya seperti tak memiliki indera penciuman. Padahal, kemampuan mencium dengan baik sebenarnya dapat dilatih dan dibiasakan sejak kecil. Caranya mudah: ajak anak-anak memperhatikan apakah ruangan yang mereka masuki terasa segar ketika mereka baru datang dari udara luar. Ajak mereka membedakan udara kota dengan udara segar di pedesaan atau alam terbuka. Selain itu, latih mereka untuk mengenali bau yang menyenangkan maupun yang tidak berbahaya, sekecil apa pun itu.
Eksistensi (atmosfer keberadaan) bayi yang ada di mana-mana. – Berbicara lagi tentang pengasuhan bayi dan anak-anak. Sungguh hal yang luar biasa jika seorang perawat dapat terpikat dengan gagasan bahwa bayi berada di mana-mana, dan bahwa bayi tidak hanya melihat dan mengetahui segalanya, namun juga akan terus menyimpan tanda dari semua yang dilihatnya di sepanjang hidupnya:
“If there’s a hole in a’ your coats, —- ‘Jika ada lubang di mantelmu,
I pray ye, tent it; —- Saya berharap kamu akan memperbaikinya
A chiel’s amang ye takin’ notes, — Catatan seorang teman akan disampaikan
And, faith, he’ll prent it”:* — dan percayalah, dia akan merekamnya’
merekamnya di dalam pikirannya sendiri sebagai bagian dari kebiasaannya di masa depan.
Perawat yang memiliki gagasan seperti ini mungkin dapat lebih menjamin kebersihan lebih daripada sekadar menggunakan celemek bersih. Beberapa hal kecil dalam menjaga kebersihan yang melibatkan perawat mungkin sebenarnya tidak termasuk daftar kebersihan biasa – yaitu merapikan tempat tidur anak di pagi hari, dan melipat pakaian anak ketika mereka melepasnya di malam hari.
Sebaiknya, di malam hari siapkan tali untuk menggantung kain, pakaian di luar untuk diangin-anginkan, agar keringat yang tidak terlihat bisa hilang dari pakaian tersebut setelah dipakai anak sepanjang hari. Dengan alasan yang sama, tempat tidur dan pakaian tidur sebaiknya dibiarkan terbuka selama beberapa jam sebelum dirapikan.”
* Penggalan puisi karya Robert Burns
Kebersihan Pribadi sebagai Kebiasaan Awal. — Jika di ruang bayi/anak-anak terdapat meja, tetap harus diperlakukan kebersihannya sebaik meja makan orang dewasa*. Anak yang duduk di kursi dengan meja yang bertaplak kotor atau bernoda, atau menggunakan sendok yang sudah berubah warna, adalah suatu kemunduran – (akan berpengaruh terhadap kebiasaannya).
Anak-anak juga harus diajarkan untuk menjaga kebersihan diri mereka. Kita sering melihat bayi kecil yang mengulurkan tangan untuk dicuci; jika ada noda di tangannya, mereka biasanya menyukainya. Semoga mereka akan menjadi peka ketika sudah cukup besar untuk mencuci tangan mereka sendiri! Tentu saja, anak-anak tidak harus selalu bersih dan rapi; mereka suka bermain dan harus memiliki celemek besar untuk itu. Mereka seperti pangeran kecil Prancis yang tidak mau menerima hadiah ulang tahunnya dan lebih memilih untuk bermain dengan tanah membuat kue lumpur.
Biarkan mereka bermain dengan tanah, tetapi setelah itu, mereka harus mau membersihkan diri dan melakukannya sendiri. Anak-anak kecil bisa diajari merawat kuku mereka, serta membersihkan sudut mata dan telinga mereka. Tentu saja, biasakan membentuk kebiasaan baik untuk tidak mengizinkan anak duduk di kursi meja makan bila mereka datang dengan tangan kotor dan rambut yang kusut. Anak-anak harus memiliki perlengkapan mandi sendiri sejak dini dan diajarkan untuk menikmati waktu mandi serta menjaga diri mereka.
Tidak ada alasan bahwa anak berusia lima atau enam tahun tidak bisa membersihkan sendiri secara menyeluruh, tanpa harus menderita sabun yang pedih di mata atau di awali drama tarik-tarikan untuk mandi, yang tentunya tidak disukai anak-anak. Anak harus belajar mandi setiap hari hingga mereka mampu melakukannya sendiri, dan kebiasaan ini sangat penting sebelum mereka mulai pergi ke sekolah.
[Mampu membersihkan dan merawat diri sendiri sangat penting, terutama bagi anak-anak yang akan bersekolah di sekolah berasrama.]”
* Kemungkinan Miss Mason mengambil contoh kebiasaan yang terjadi di Inggris pada masa Victoria, bahwa anak-anak dari keluarga bangsawan dan kaya lebih cenderung makan di ruang bayi/ruang anak atau dapur bersama pengasuh atau tutor mereka, atau makan di ruang makan bersama di sekolah berasrama, dibandingkan duduk di “meja keluarga”.
Kesopanan dan Kekudusan. — Ritual memandikan balita adalah kesempatan bagi ibu untuk mengajarkan dan melatih kebiasaan sopan santun dan etika. Mungkin keinginan dan pemikiran yang sangat menggoda bagi seorang ibu, keinginan untuk membiarkan anaknya untuk bertumbuh dalam kepolosan/keluguan seperti yang terjadi di Taman Eden selamanya. Namun, kita tidak tinggal di Taman Eden, dan sebaiknya ajari anak tersebut sejak dini tentang kondisi yang akan dihadapinya nanti. Bagi anak yang masih kecil, seperti halnya yang telah leluhur kita lakukan, ingatkan dan ajarkan bahwa ada batasan-batasan. Saat usia balita, saat anak masih dalam fase ketaatan absolut (taat tanpa ada pertanyaan), hendaklah ia mengetahui bahwa tidak seluruh tubuhnya diizinkan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk ia bicarakan, pikirkan, perlihatkan, pegang, kecuali untuk keperluan kebersihan. Ini akan lebih mudah bagi ibu jika ia juga mengikutsertakan dalam membahas bagian-bagian tubuh yang tidak terlihat, seperti jantung dan paru-paru, yang juga tidak seharusnya kita lihat atau pegang, karena tersembunyi di dalam daging dan tulang.
Apa pun (bagian tubuh orang) yang dibiarkan terbuka dan terlihat bagi kita, tak usah pedulikan, seperti kisah pohon di Taman Eden, sebagai ujian ketaatan; Ingat selalu dalam setiap kasus demi kasus, bahwa setiap ketidaktaatan akan disertai dengan kerugian dan kehancuran tertentu.
Kebiasaan Taat dan Rasa Hormat — Kesadaran yang mengenal adanya larangan dan dosa ketidaktaatan dapat menjadi perlindungan kuat melawan pengetahuan tentang kejahatan teruntuk anak yang dibesarkan dengan kebiasaan taat. Selain itu, dengan memiliki rasa hormat dan kesadaran akan tanggung jawab menjaga dirinya adalah hal yang lebih efektif, sesuai dengan perintah dalam ajaran agama.
Biarlah ibu terus mengingat dan memperbaharui komitmen ini dengan sungguh-sungguh pada setiap malamnya, atau misalnya setiap ulang tahun anaknya. Ibu dapat membantu anak memahami bahwa dengan menaati hal ini, mereka memuliakan Allah melalui tubuh mereka*. Ibu juga perlu waspada terhadap segala bentuk ancaman kejahatan dan berdoa setiap hari agar anak-anaknya selalu terjaga kesuciannya.
Mengabaikan kemungkinan bahaya ini berarti membuka peluang risiko yang besar bagi anak. Namun, perlu diingat bahwa kata-kata yang bertujuan melarang bisa saja malah memicu rasa penasaran terhadap hal yang salah. Oleh karena itu, menyediakan kehidupan yang penuh dengan minat dan aktivitas sehat adalah cara yang sangat efektif untuk mencegah anak terjerumus pada hal buruk.
* 1 Korintus 6: 20 — “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
Pentingnya Ketertiban — Hal yang berlaku untuk kebersihan juga sama berlakunya untuk hal ketertiban—baik dalam menjaga kamar anak tetap rapi maupun dalam membiasakan anak-anak hidup teratur. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kamar anak tidak seharusnya menjadi gudang yang menyimpan barang rusak atau perabotan tua. Misalnya, cangkir atau piring pecah, serta teko yang retak, sebaiknya segera dibuang. Anak-anak perlu diajarkan bahwa barang yang rusak atau kotor tidak layak digunakan lagi dan harus diganti. Kebiasaan ini ternyata juga hemat, karena ketika anak-anak dan pembantu rumah tangga sadar bahwa barang akan dibuang jika barang itu rusak, mereka akan lebih berhati-hati. Namun, membiarkan anak-anak tumbuh dengan terbiasa menggunakan barang-barang yang sudah rusak atau cacat dan tidak elok dipandang tentunya akan berdampak buruk pada kebiasaan mereka.
Kesenangan yang dirasakan orang dewasa saat membersamai anak-anak sebenarnya bisa menjadi sumber masalah;–– misalnya, dalam hal melatih kebiasaan keteraturan. Siapa yang tidak tahu banyak sekali kotoran/sampah yang ditinggalkan anak-anak untuk dibersihkan, mungkin perlu belasan kali sehari, di kamar bayi, di taman, di ruang tamu, ke mana pun kaki kecil mereka dengan langkahnya yang masih labil membawanya?
Kami merasa agak sentimental terhadap mainan anak yang berserakan dan peralatan anak yang mulai usang, serta semua hal yang menunjukkan tanda pertumbuhan dan eksistensi sang anak; namun faktanya, membiarkan kebiasaan menyimpang yang melanggar hukum (ketertiban) tidak boleh dibiarkan tumbuh pada anak-anak. Semua pasti akan mengritik seorang ibu yang berantakan, dengan lemari acak-acakan dan barang-barang hanya dilempar berserakan. Namun, sebagian kesalahan ini bukan ia adalah seorang wanita, tetapi mungkin berasal dari kesalahan di masa kecilnya. Kebiasaan berantakan yang dibiarkan tumbuh sejak kecil dan ia gagal untuk mengubahnya, pada akhirnya kebiasaan itu memengaruhi kenyamanan atau bahkan kebahagiaan keluarganya saat ia dewasa.
Anak Usia Dua Tahun Harus Belajar Membereskan Mainannya
Sejak usia 2 tahun, anak-anak harus diajarkan untuk membereskan mainannya sendiri. Ajarkan sejak dini, dan jadikan kegiatan ini menyenangkan, seperti bagian dari permainan. Misalnya, biarkan anak membuka lemari mainan dan meletakkan boneka atau kudanya kembali ke tempatnya. Jika ini dilakukan secara konsisten, anak akan terbiasa dengan kebiasaan merapikan barang-barangnya. Bahkan, anak bisa merasa senang saat melihat mainannya rapi, dan merasa tidak nyaman jika semuanya berantakan.
Jika saja orang tua dapat menyadari bahwa kebiasaan menjaga ketertiban ini memiliki nilai moral, maka membangun anak memiliki kebiasaan ini di masa kecil akan membantu anak menjadi orang yang memiliki kebiasaan teliti di masa depan. Menanamkan kebiasaan ketertiban sebenarnya tidak terlalu sulit—seperti memutar jam agar tetap berdetak. Dengan sedikit usaha di awal, kebiasaan ini akan berkembang secara alami dan menjadi bagian dari kehidupan anak.
Kerapian Mirip dengan Ketertiban — Kerapian mirip dengan ketertiban, tetapi memiliki makna yang lebih luas. Kerapian bukan hanya tentang “semua benda memiliki tempatnya, dan semua benda ada di tempatnya,” tetapi juga tentang menata segala sesuatu dengan baik sehingga terlihat indah. Kerapian ini melibatkan rasa keindahan. Misalnya, seorang anak perempuan tidak hanya diajarkan untuk memasukkan bunga ke dalam air, tetapi juga merangkainya dengan indah. Jangan gunakan gelas atau kendi yang rusak, jangan juga memakai vas bunga berwarna pink norak melainkan pilih vas yang anggun sederhana tetapi memiliki bentuk serta warna yang serasi, meskipun itu vas yang murah.
Demikian pula, segala sesuatu di kamar anak harus terlihat rapi, menyenangkan, dan serasi. Anak-anak juga perlu diajarkan untuk menata barang-barang mereka dengan rapi dan menarik. Tidak ada sesuatu pun yang vulgar dalam bentuk cetakan, buku bergambar, atau mainan yang boleh ditaruh di kamar anak –– tidak boleh ada sesuatu pun yang dapat merusak selera keindahan pada anak atau membiarkan itu menjadi hal yang lumrah di kesehariannya. Sebaliknya, dengan memilih dan mencetak satu atau dua karya seni yang dikurasi dengan baik, walaupun hanya reproduksi, dapat memberikan pengaruh besar dalam menumbuhkan rasa estetika dan kepekaan anak terhadap keindahan.
Keteraturan — Pentingnya keteraturan dalam mendidik bayi kini semakin diakui. Seorang ibu muda tahu bahwa ia harus membiasakan bayinya tidur pada waktu yang teratur, meskipun ia protes menangis di awal, atau bahkan membiarkan bayi menangis dua atau tiga kali . Dengan cara ini, bayi akan belajar untuk tidur dengan tenang dalam kegelapan tanpa protes, yang menjadi kebiasaan baik sepanjang hidupnya. Namun, ada banyak pendapat keliru tentang alasan bayi menangis. Ada yang mengatakan bayi menangis karena ingin bersama ibunya, pengasuhnya, ingin botol susunya, atau bahkan ingin lampu menyala, atau ingin mencari perhatian. Pengasuhnya sering berasumsi bahwa jika bayi menangis untuk hal-hal tersebut, ia harus mendapatkannya.
(Catatan: Pendekatan ini mencerminkan praktik pengasuhan bayi di era Victoria yang sudah tidak disarankan oleh para ahli masa kini. Penelitian modern, seperti yang dijelaskan dalam artikel dari Universitas Harvard, menunjukkan bahwa tangisan bayi adalah cara komunikasi dan mengabaikan tangisan mereka bisa menyebabkan stres pada bayi.)
[Catatan dari Ambleside online: Penelitian saat ini mengatakan bahwa memenuhi kebutuhan bayi tidak menghasilkan kebiasaan memanjakan diri sendiri; bayi tidak bisa dimanjakan. Baca artikel oleh Dr. Spock.]
Kebiasaan tentang Mengenal Waktu dan Tempat – Pada kenyataannya, anak-anak cenderung telah memiliki kebiasaan dengan pola tertentu, seperti waktu tidur atau makan. Ketika kebiasaan ini diubah, mereka bisa merasa tidak nyaman, mirip dengan kucing yang merasa gelisah saat pindah rumah. Namun, begitu anak menyesuaikan diri dengan aturan atau kebiasaan baru, ia biasanya akan menerima dan bahkan menikmati rutinitas tersebut. Dr. Carpenter mengatakan bahwa keteraturan ini harus diajarkan sejak bayi, termasuk jadwal makan, tidur, dan aktivitas lainnya. Kebiasaan jasmani yang terbentuk sejak dini akan membantu membentuk kebiasaan mental yang baik di masa depan. Sebaliknya, jika kita membiarkan anak hanya makan makanan yang ia sukai saja atau tidak tidur di waktu yang seharusnya, hanya karena ia menangis, hal ini akan menumbuhkan anak dengan kebiasaan manja (self-indulgence) . Menurut Dr. Carpenter, seperti halnya melatih anjing atau kuda muda, bayi juga bisa dengan cepat beradaptasi dengan pelatihan kebiasaan yang dilakukan secara bijaksana dan konsisten. Keteraturan juga penting untuk anak yang lebih besar, bukan hanya bayi. Hari-hari ketika rutinitas/kebiasaan terganggu cenderung menjadi hari di mana anak-anak lebih mudah bertingkah.
(Catatan: Penelitian modern menunjukkan bahwa memenuhi kebutuhan bayi tidak akan membuat mereka menjadi manja. Bayi menangis untuk berkomunikasi, bukan untuk memanipulasi. Artikel dari Dr. Spock menjelaskan hal ini lebih lanjut.)
* Self indulgence: menuruti hawa nafsu, keinginan, dan sebagainya, terutama tanpa menahan diri.
