“Lakukan Hal yang Perlu Dilakukan.”
“Hilangkan hari ini dengan bermalas-malasan, dan esok pun akan mengulang cerita yang sama.
Lusa, dan hari-hari berikutnya, akan semakin malas.
Keragu-raguan membawa penundaan,
Dan hari-hari hilang begitu saja, hanya untuk menyesali waktu yang telah berlalu.”
Itu adalah penggalan puisi dari penyair Marlowe* yang mengingatkan kita akan masalah besar akibat kelambanan. Ketika seseorang tidak mampu menguatkan dirinya, tidak memiliki daya kehendak untuk segera “melakukan hal berikutnya yang perlu dilakukan,” maka masalah akan segera muncul. Dalam mendidik anak, tidak ada satu pun pertanyaan yang sepele, tetapi masalah kebiasaan membuang-buang waktu adalah salah satu yang sangat penting untuk diperhatikan.
Kita tahu bahwa membuat keputusan adalah salah satu usaha terbesar dalam hidup. Tantangannya bukan hanya melakukan sesuatu, tetapi juga memiliki kekuatan (daya kehendak) untuk memutuskan apa yang perlu dilakukan terlebih dahulu. Kebiasaan lamban dalam mengambil keputusan ini sering kali diawali dari adanya keraguan, yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan melamun dan membuang-buang waktu.
Bagaimana kita bisa menyembuhkan anak yang memiliki kebiasaan seperti ini? Apakah dengan membiarkannya saja sesuai waktu berjalan, dan mereka akan belajar dengan sendirinya? Tidak, itu tidak akan terjadi. Sebaliknya, kebiasaan membuang-buang waktu akan terus berlanjut, dan mungkin semakin buruk, kecuali ada intervensi atau kejadian tak terduga yang mengubahnya.
Apakah hukuman akan membantu? TIDAK; orang yang suka menunda biasanya bersikap pasrah terhadap situasi. Mereka berpikir, “Kalau tidak bisa diubah, ya sudah, diterima saja.” Mereka tidak berusaha memperbaiki kebiasaan tersebut.
Bagaimana dengan memberi hadiah? TIDAK juga. Bagi mereka, hadiah tidak memberikan motivasi; malah dianggap sebagai hukuman dalam bentuk yang lain. Mereka merasa hadiah adalah sesuatu kenyataan yang sudah seharusnya mereka dapatkan. Jika tidak mendapatkan hadiah, mereka berarti mendapatkan hukuman, dan ia pasrah untuk menanggung hukumannya dan tetap tidak mau berusaha.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan jika waktu, hukuman, dan hadiah tidak efektif? Solusi terbaik yang dimiliki para pendidik adalah ini: “Satu kebiasaan mengalahkan kebiasaan yang lainnya.” Kebiasaan menunda-nunda ini harus diganti dengan kebiasaan yang lebih baik.
Ibu perlu mendedikasikan dirinya selama beberapa minggu untuk mengatasi masalah ini. Ia harus melakukannya dengan tekad yang kuat dan kesabaran, seperti ketika ia merawat anaknya yang sakit campak. Mulailah dengan kebiasaan kecil––semakin kecil semakin baik. Jelaskan dengan serius bahwa kebiasaan buruk ini dapat menimbulkan masalah besar, dan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk memperbaikinya. Dorong anak untuk menggunakan kekuatan kehendaknya (meskipun masih lemah) untuk melakukan hal yang benar. Setelah itu, pastikan kesalahan tersebut tidak terjadi lagi selama berminggu-minggu.
Contohnya, ketika anak bersiap-siap untuk pergi bertamasya, ia mulai menalikan sepatunya. Namun, ia tiba-tiba melamun––jari-jarinya diam di udara. Tetapi hati nuraninya bangun dan mengingatkannya; kepalanya lalu menengok ke atas dan melihat mata ibunya yang melihatnya dengan penuh harapan. Ia pun kembali fokus, melanjutkan menalikan sepatunya, meskipun ia melamun lagi saat menalikan sepatunya yang kedua. Namun kali ini, jeda waktu melamunnya lebih singkat. Ia kembali melihat ibunya sekali lagi, dan melanjutkannya. Hari demi hari, jeda waktu melamunnya semakin pendek, usahanya semakin mantap, dan kehendaknya yang masih hijau semakin hari semakin kuat. Kebiasaan untuk segera bertindak (mengerjakan sesuatu) mulai terbentuk.
Sesudah ibu memberikan instruksi di awal, sebaiknya ibu tidak banyak bicara lagi tentang hal ini. Sebagai gantinya, ia hanya memberikan tatapan penuh harapan ketika anak mulai melamun. Jika perlu, sentuhan kecil di bahu anak sudah cukup sebagai pengingat. Sesekali, ibu bisa berkata, “Menurutmu, apakah kamu bisa bersiap dalam lima menit hari ini tanpa bantuanku?”
Anak menjawab, “Oh, aku bisa, Bu.”
“Jangan katakan ‘bisa’ kalau kamu merasa belum yakin.”
Anak itu menjawab lagi, “Saya akan mencobanya, Bu.” Dan dia mencobanya, lalu berhasil.
Namun, saat anak mulai menunjukkan kemajuan, ibu mungkin tergoda untuk melonggarkan pengawasannya –– kompromi dengan membiarkan sedikit kesalahan, seperti melamun sebentar, karena melihat anaknya selama ini sudah berusaha dengan keras. Ini adalah suatu kesalahan FATAL. Kebiasaan menunda dan melamun telah meninggalkan jejak yang kuat pada otak anak. Latihan selama berminggu-minggu ini, otaknya sedang membentuk jalur baru, menggantikan jalur kebiasaan yang lama. Jika kebiasaan buruk dibiarkan kembali, semua usaha baik akan hilang.
Membentuk kebiasaan baik membutuhkan waktu beberapa minggu, dan menjaganya adalah tugas yang berkelanjutan. Namun, ibu tidak perlu risau secara berlebihan saat mengawalnya. Sebagai tambahan, jika anak menunjukkan respons cepat dalam bertindak, ia layak mendapatkan waktu luang––waktu untuk melakukan apa yang ia sukai. Ini diberikan bukan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya atas usahanya sendiri.
* Catatan: Dari Goethe’s Faust, diterjemahkan oleh John Anstler. Anda tidak akan menemukan puisi ini dalam terjemahan lainnya. Untuk informasi lebih lanjut, lihat The Reception of Goethe’s Faust in England in the First Half of the Nineteenth Century oleh William Frederic Hauhart, dan halaman 22 dari The First Part of Goethe’s Faust oleh Johann Wolfgang von Goethe oleh John Anster. Mason mungkin menghubungkan puisi itu dengan Marlowe karena Christopher Marlowe menulis versi sebelumnya (lebih dari 200 tahun) dari kisah tradisional Jerman tentang Faust, yang disebut Sejarah Tragis Dr. Faustus. – W.C.
· Dilatory = sluggish = kelambanan, membuang-buang waktu
· Procrastinator = sebutan bagi orang yang suka menunda/membuang-buang waktu
Kebiasaan Itu Sendiri Membawa Sukacita.
Kecuali untuk satu kelemahan tadi, membentuk kebiasaan pada anak sebenarnya bukan tugas yang melelahkan, karena hasilnya sangat sepadan dengan usaha yang dilakukan. Ini seperti menginvestasikan satu koin sen kecil tetapi mendapatkan satu poundsterling sebagai balasannya. Kebiasaan itu sendiri memberikan kesenangan, karena manusia memiliki hasrat buruk secara alami yaitu rasa malas, ia merasa senang ketika bisa melakukan sesuatu berulang kali tanpa memerlukan banyak pemikiran dan usaha. Jadi, ketika suatu kebiasaan terbentuk, tindakan yang dulunya membutuhkan usaha besar kini terasa lebih mudah dan menyenangkan.
Namun, sering kali para ibu melakukan kesalahan fatal dengan merancang kebiasaan baik menjadi frustrasi. Mereka melupakan fakta bahwa suatu kebiasaan baik, bisa menjadi sumber kesenangan bagi anak. Ketika anak sudah terbiasa melakukan sesuatu, ibu sering membayangkan bahwa usaha anak untuk melakukannya sama beratnya seperti di usaha yang perlu anak lakukan di awal pelatihan. Sehingga, mereka (ibu) berpikir bahwa tindakan anaknya (saat tidak melakukan yang seharusnya dilakukan) adalah bentuk usaha kebajikan dalam diri anak, yang membutuhkan perjuangan besar dan karenanya anak pantas sesekali mendapat istirahat (membiarkan anak tidak melakukan kebiasaannya).
Akhirnya, ibu memutuskan untuk memberikan “sedikit kelonggaran”––misalnya, membiarkan anak tidak melakukan kebiasaan barunya untuk beberapa kali saja. Sayangnya, ternyata efek dari hal ini tidak sesederhana itu. Saat kelonggaran diberikan, perjalanan membentuk kebiasaan harus dimulai lagi dari awal, karena anak menghadapi rintangan baru.
“Sedikit kelonggaran” ini sebenarnya membuat anak mulai membentuk kebiasaan yang berlawanan dengan kebiasaan baik yang telah ia pelajari. Akibatnya, kelonggaran ini harus diatasi terlebih dahulu sebelum anak bisa kembali ke kebiasaan baik yang sebelumnya sudah terbentuk. Faktanya, rasa simpati yang keliru dari para ibu justru membuat pendidikan anak dalam membiasakan hal-hal baik akhirnya menjadi pekerjaan yang melelahkan. Padahal, secara alami, anak-anak bertumbuh dengan membentuk kebiasaan, sama seperti bayi secara alami menyusu dari ibunya.
Kebijaksanaan, kewaspadaan, dan ketekunan.–– Misalnya, seorang ibu memilih kebiasaan sederhana yang mungkin tidak terlalu berdampak besar, tetapi tetap bermanfaat, seperti mengajarkan anak untuk menutup pintu setiap kali masuk atau keluar ruangan. Untuk itu, sang ibu perlu mengembangkan kebijaksanaan, kewaspadaan, dan ketekunan dalam dirinya. Dengan pendekatan ini, ia akan terkejut melihat betapa mudahnya anak menerima dan mempraktikkan kebiasaan baru.
Tahapan dalam Membentuk Kebiasaan
“Johnny,” kata ibunya dengan suara lembut dan ramah,
“Saya ingin kamu mengingat ini baik-baik: jangan pernah masuk atau keluar dari ruangan yang masih ada orang di dalamnya tanpa menutup pintu.”
“Bagaimana kalau aku ternyata lupa, Bu?”
“Saya akan coba untuk mengingatkanmu.”
“Tapi bagaimana kalau aku sedang terburu-buru?”
“Kamu tetap harus menyempatkan diri untuk melakukannya.”
“Tapi kenapa, Bu?”
“Karena itu tidak sopan kepada orang yang masih ada di ruangan, dan itu bisa membuat mereka merasa tidak nyaman.”
“Lalu bagaimana kalau aku harus masuk sebentar lalu keluar lagi?”
“Tetap saja, tutup pintunya saat kamu masuk; kamu bisa membukanya lagi kalau mau keluar. Pikirkan apakah kamu bisa mengingatnya?”
“Aku akan mencobanya, Bu.”
“Bagus sekali. Ibu akan melihat seberapa sering kamu bisa ingat.”
Awalnya, Johnny beberapa kali berhasil mengingatnya. Tapi kemudian, seperti biasa, dia berlari keluar tanpa menutup pintu. Kali ini ibunya tidak berteriak, “Johnny, kembalilah dan tutup pintunya!” karena dia tahu bahwa memanggil dengan nada marah hanya akan mengganggu. Sebaliknya, dia berjalan ke pintu dan berkata dengan lembut, “Johnny!”
Johnny, yang sudah lupa soal pintu, penasaran apa yang diinginkan ibunya. Dia kembali, menemukan ibunya duduk seperti biasa. Sang ibu memandangnya, melirik ke arah pintu, dan berkata, “Ibu kan sudah bilang akan mengingatkanmu.”
“Oh, aku lupa,” kata Johnny sambil tersenyum, lalu menutup pintu. Setelah itu, dia mulai melakukannya lagi dan lagi.
Karena ingatan Johnny belum kuat, ibunya harus sering mengingatkannya dengan sabar. Namun, ada dua hal penting yang selalu dijaga oleh ibunya: memastikan Johnny tidak pernah keluar tanpa menutup pintu, dan tidak membiarkan hal ini menjadi sumber pertengkaran di antara mereka. Sang ibu berperan sebagai teman yang membantu Johnny melatih kebiasaan ini.
Setelah kira-kira dua puluh kali Johnny menutup pintu tanpa lupa, kebiasaan itu mulai terbentuk. Akhirnya, Johnny melakukannya tanpa harus diingatkan lagi. Sang ibu merasa senang melihat Johnny masuk ke kamar, menutup pintu, mengambil sesuatu dari meja, dan keluar dengan menutup pintu lagi, semua dilakukan dengan alami.
Tahap Berbahaya
Sekarang Johnny sudah terbiasa menutup pintu setiap kali masuk atau keluar ruangan. Ibunya merasa senang dan bangga, tapi perlahan rasa kasihan yang tidak seharusnya mulai muncul. “Kasihan Johnny,” pikirnya, “dia begitu baik mau mengikuti permintaanku hanya untuk hal kecil seperti menutup pintu.” Sang ibu merasa bahwa Johnny melakukannya hanya demi dirinya, lupa bahwa kebiasaan itu sebenarnya sudah menjadi hal yang mudah dan alami bagi Johnny.
Lalu datanglah masa yang kritis. Suatu hari, Johnny terlalu sibuk menikmati sesuatu yang baru dan lupa menutup pintu. Kebiasaan itu, yang belum sepenuhnya kuat, mulai goyah. Ketika dia sudah setengah jalan pergi, dia ingat pintu itu, merasa sedikit bersalah, tapi tidak cukup untuk membuatnya kembali. Sebaliknya, dia berhenti sejenak, berharap ibunya akan memanggilnya kembali seperti biasanya.
Sang ibu tentu menyadari kelalaian itu, tetapi kali ini dia berpikir, “Kasihan Johnny, dia sudah begitu baik selama ini. Biar saja sekali ini.” Johnny yang tidak mendengar panggilan ibunya berpikir satu hal––dan ini fatal––“Oh, jadi ini tidak masalah.” Lalu dia berlari pergi.
Di lain waktu, Johnny kembali membiarkan pintu terbuka, tetapi kali ini bukan karena lupa. Ibunya memanggilnya kembali, tapi nadanya terdengar ragu. Johnny yang peka menangkap kelemahan nada suara itu dan menjawab dari jauh, “Oh, Bu, aku sedang terburu-buru!” Kali ini, ibunya tidak berkata apa-apa lagi dan membiarkannya pergi.
Kemudian, Johnny bergegas masuk ruangan, meninggalkan pintu terbuka lebar. “Johnny!” seru ibunya dengan nada peringatan. “Aku akan keluar sebentar lagi, Bu,” jawab Johnny sambil berlalu. Setelah sepuluh menit mencari-cari sesuatu, dia keluar lagi, dan kali ini lupa menutup pintu sepenuhnya.
Kelonggaran yang diberikan ibunya pada waktu yang tidak tepat telah merusak semua kemajuan yang sudah dicapai. Johnny kehilangan kebiasaan baik yang sudah hampir terbentuk.
