Buku karya Dr. Carpenter mungkin adalah buku pertama yang memberi saya petunjuk yang selama ini saya cari. Dalam bukunya yang berjudul Mental Physiology, ia menjelaskan bahwa ada kesamaan antara aktivitas mental maupun aktivitas fisik. Kesamaan ini menunjukkan keduanya memiliki efek yang sama karena memiliki kesamaan penyebab.
* Principles of mental physiology: with their applications to the training and discipline of the mind, and the study of its morbid conditions – William Benjamin Carpenter (1813-1885) https://archive.org/details/principlesofment00carprich
Jaringan yang Berubah Menyesuaikan dengan Kebiasaan
Dr. Carpenter menjelaskan bahwa jaringan tubuh, seperti otot, terus mengalami proses kerusakan dan reparasi. Pola tindakan tubuh yang terlihat alami, seperti berjalan dan berdiri, sebenarnya adalah hasil dari Latihan intens yang sering dilakukan. Begitu juga dengan tindakan yang sengaja kita pelajari, seperti menulis atau menari. Setelah sering dilatih, tindakan ini menjadi lebih mudah dan terasa alami. Mengapa bisa begitu? Karena jaringan tubuh yang tumbuh menyesuaikan diri dengan kebiasaan atau pola tindakan yang sering dilakukan.
Ketika otak terus-menerus mengirim pesan yang sama ke otot untuk melakukan sebuah tindakan, lama-kelamaan tindakan itu menjadi otomatis dan dikelola oleh pusat saraf yang lebih rendah*. Dengan begitu, hanya sinyal kecil saja sudah cukup untuk membuat tindakan itu terjadi, tanpa harus melibatkan otak secara penuh. Misalnya, tangan seorang anak akan menyesuaikan diri untuk memegang dan menggunakan pena. Anak tidak hanya menggunakan pikirannya untuk belajar menulis, tetapi otot-ototnya juga beradaptasi agar bisa melakukan tindakan tersebut dengan baik.
Hal ini juga menjelaskan bagaimana pemain akrobat bisa melakukan gerakan yang tampak mustahil bagi orang yang belum terlatih. Bagi orang biasa, gerakan tersebut sulit dilakukan karena otot dan sendi mereka belum sekuat atau sesiap pemain akrobat yang sejak dini sudah giat berlatih dan dilakukan terus-menerus.
* Pusat saraf yang lebih rendah – kemungkinan yang dimaksudkan oleh Charlotte Mason adalah pusat saraf tepi atau saraf spinal/saraf tulang belakang
* Sistem saraf tepi: mengirimkan informasi dari otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh. Sistem saraf tepi terdiri dari dua bagian, yaitu sistem saraf somatik dan sistem saraf otonom:
* Sistem saraf somatik: Mengendalikan tindakan yang dilakukan secara sadar, seperti berjalan, makan, atau memainkan alat musik.
* Sistem saraf otonom: Mengendalikan proses yang terjadi secara otomatis, seperti bernapas, mencerna makanan, berkeringat, dan menggigil. Sistem saraf otonom terdiri dari sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik.
Anak-anak Harus Mulai Belajar Menari, Berenang, dan Lainnya, Sejak Dini
Hal ini berlaku untuk semua aktivitas fisik. Anak-anak sebaiknya belajar menari, berkuda, berenang, melakukan kalistenik, atau aktivitas lain yang membutuhkan pelatihan otot sejak usia dini. Mengapa? Karena otot dan sendi mereka tidak hanya harus beradaptasi dengan aktivitas baru, tetapi juga tumbuh sesuai dengan pola aktivitas tersebut. Proses adaptasi dan pertumbuhan ini jauh lebih mudah terjadi saat mereka masih kecil.
Tentu saja, seseorang yang ototnya sudah terbiasa beradaptasi biasanya lebih mudah mempelajari aktivitas, permainan atau olahraga baru tanpa terlalu banyak kesulitan. Namun, jika Anda mencoba mengajari seorang pembajak sawah untuk menulis, Anda akan melihat betapa sulitnya bagi otot-otot yang tidak terbiasa untuk beradaptasi dengan tugas baru.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kebiasaan anak-anak, seperti cara mereka berbicara, cara mereka berdiri, atau memosisikan kepala, dan sebagainya. Kebiasaan buruk seperti membungkuk atau pelafalan kata yang tidak jelas bukanlah sekadar kebiasaan yang bisa dihentikan kapan saja dengan entengnya berkata ‘nanti, ketika mereka sudah lebih besar tentu akan berubah dan mereka akan lebih tahu,’ tetapi kebiasaan tersebut telah menjadi bagian dari tubuh mereka, bahkan tercatat di sistem saraf mereka. Perintah otak yang terus-menerus selama bertahun-tahun telah membentuk kebiasaan itu, sehingga untuk menarik kembali perintah tersebut, berarti harus membentuk ulang bagian-bagian yang terkait. Contohnya, untuk memperbaiki kebiasaan buruk anak, seperti cara berbicara yang buruk, seorang anak tidak cukup hanya berniat berbicara dengan jelas dan mencoba melakukannya. Ia tidak akan bisa berbicara dengan jelas secara otomatis sampai organ suaranya beradaptasi dengan pola baru yang dibentuk melalui latihan terus-menerus.
Kebiasaan Moral dan Mental Memengaruhi Tubuh Fisik Kita
Kebiasaan moral dan mental kita juga memengaruhi tubuh fisik kita. Kita semua tahu bahwa tubuh manusia dapat berubah dan menyesuaikan diri tergantung pada bagaimana kita menggunakannya setiap hari. Misalnya, jika seorang anak sering berdiri dan bertumpu pada satu kaki saja sehingga satu bahunya terangkat, kebiasaan itu bisa menyebabkan tulang punggungnya menjadi bengkok (skoliosis). Atau jika seseorang terbiasa membiarkan bahunya turun dan dadanya mengerut, hal itu dapat meningkatkan risiko terkena penyakit paru-paru.
Konsekuensi fisik dari kebiasaan buruk seperti ini sangat nyata sehingga sulit untuk diabaikan. Namun, ada hal lain yang sering tidak kita sadari—kebiasaan yang tidak terlihat secara fisik, seperti kebiasaan bertindak ceroboh, kebiasaan berkata jujur, atau kebiasaan untuk hidup teratur, ternyata juga berdampak pada tubuh kita, terutama pada otak manusia.
Otak adalah organ yang sangat sensitif. Kita menggunakannya untuk berpikir, merasakan, menginginkan, mencintai, membenci, dan menyembah. Karena itu, otak juga berubah dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang sering dilakukannya. Bayangkan setiap pola pikir yang sering kita gunakan menciptakan jalurnya sendiri di otak. Ketika jalur itu terbentuk, pikiran serupa akan lebih mudah untuk melalui jalur tersebut. Tapi jika kita ingin mengubah kebiasaan atau meninggalkan jalur yang telah terbentuk itu, dibutuhkan usaha keras dan daya kehendak yang kuat.
· Penyakit paru-paru yang Charlotte Mason maksudkan dalam paragraf di atas, kemungkinan dipicu dari skoliosis yang ternyata dapat mengganggu paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Rangkaian Pikiran yang Berkesinambungan
Setiap orang memiliki rangkaian pikiran yang sering muncul secara otomatis. Misalnya, seorang nyonya rumah mungkin terus memikirkan perkara rumah tangga, seperti urusan dapur, menu makan malam, atau persiapan pakaian untuk musim dingin. Pikiran ini mengikuti jalur kebiasaan yang sudah terbentuk. Seperti contohnya seorang ibu cenderung terus memikirkan anak-anaknya, seorang pelukis memikirkan karyanya, dan seorang penyair menuangkan pikirannya ke dalam puisi. Demikian pula, seorang kepala keluarga yang mungkin memiliki kecemasan dan terus memikirkan masalah keuangan hingga pikirannya terjebak dalam jalur yang sama, sulit untuk berpindah ke hal lain. Jika ini terjadi terus-menerus, seseorang bisa kehilangan kendali atas pikirannya dan kehilangan akal sehatnya, seperti gangguan mental karena ia tidak mampu keluar dari pusaran pola pikir tersebut. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja. Perasaan seperti kebanggaan, kebencian, atau kecemburuan, juga obsesi dan pemikiran membabi buta terhadap ide dan penemuan, atau pendapat tertentu yang terus diulang-ulang dalam pikiran, bisa menjadi berbahaya jika menguasai otak terlalu lama. Pikiran yang tidak seimbang ini dapat menimbulkan dampak buruk jika dibiarkan tanpa kendali.
Regenerasi Otak yang Terus Berlangsung
Saat kita mencintai, membenci, berpikir, merasakan, atau beribadah, otak kita bekerja secara fisik. Proses ini menyebabkan jaringan otak mengalami kerusakan sel yang perlu diperbaiki. Betapa besar pekerjaan yang dilakukan otak, karena ia mengendalikan hampir semua hal, meskipun tindakan gerak fisik dilakukan oleh anggota tubuh seperti tangan atau kaki. Untuk memperbaiki kerusakan ini, otak menggunakan banyak nutrisi yang kita konsumsi. Faktanya, sekitar seperenam atau seperlima dari seluruh darah dalam tubuh digunakan untuk memperbaiki jaringan otak. Setiap waktu, jaringan otak terus diperbarui dengan sangat cepat, sehingga pada titik waktu tertentu, seseorang mungkin tidak lagi memiliki bagian otak yang sama seperti saat ia dilahirkan. Meski jaringan yang baru terbentuk ini mirip dengan jaringan yang lama, namun ada perbedaan yang muncul karena otak beradaptasi dengan pola pikir dan kebiasaan yang sering kita lakukan. Seperti otot yang menyesuaikan diri dengan latihan baru, otak juga berubah sesuai dengan kebiasaan kita berpikir dan lewat tindakan pengulangan.
Seorang ahli fisiologi mengatakan, “Otak (the cerebrum) manusia menyesuaikan diri dengan pola pikir yang sering dilatih.” Dr. Carpenter menambahkan, “Setiap aktivitas mental yang sering diulang cenderung menguatkan dirinya sendiri (perpetuasi). Ini membuat kita secara otomatis berpikir, merasakan, atau bertindak dengan cara yang sudah biasa dalam situasi serupa, tanpa tujuan (yang perlu dipikirkan) dan perlu ekstra usaha sadar untuk melakukannya.”
Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa otak berbeda dari bagian tubuh lainnya, ia juga menyesuaikan diri berdasarkan cara penggunaannya. Kecenderungan ini sangat kuat dalam sistem saraf karena regenerasi jaringan otak terjadi terus-menerus untuk menjaga fungsinya. Setiap pikiran yang kuat atau sering diulang meninggalkan jejak di otak, yang mempermudah pikiran serupa muncul kembali di masa depan saat dipicu oleh situasi yang cocok.
* Perpetuasi: tindakan yang menyebabkan sesuatu berlanjut atau terus terjadi (menjadi kekal)
* Cerebrum: otak besar
Tindakan Refleks Buatan Dapat Dibentuk – Seperti yang dijelaskan oleh Huxley dalam bukunya The Elements of Physiology and Hygiene, “Dengan bantuan otak, kita bisa menciptakan banyak tindakan refleks buatan. Awalnya, suatu tindakan mungkin membutuhkan kehendak kuat, perhatian penuh dan usaha yang dilakukan secara sadar. Namun, dengan seringnya latihan atau pengulangan, tindakan itu menjadi kebiasaan yang dilakukan secara otomatis, tanpa perlu berpikir atau bahkan menyadarinya.”
Contohnya, seorang prajurit membutuhkan waktu lama untuk belajar drill militer, seperti merespons perintah “siap.” Pada awalnya, perintah tersebut membutuhkan usaha sadar untuk dipahami dan diikuti. Namun, setelah sering dilatih, perintah itu secara otomatis membuat tubuhnya bergerak ke posisi siap tanpa perlu berpikir terlebih dahulu.
Ada cerita menarik (meskipun belum terbukti kebenarannya) tentang seorang prajurit veteran yang sedang membawa makan malamnya. Seorang pelawak tiba-tiba berseru memberikan perintah “siap!” dan tanpa sadar, si prajurit langsung berdiri dalam posisi siap, menjatuhkan makan malamnya berantakan dan sia-sia. Latihan intens yang ia jalani telah membuat respons itu menjadi bagian dari sistem sarafnya.
Semua bentuk pendidikan, termasuk drill militer, bekerja berdasarkan kemampuan sistem saraf untuk mengubah tindakan sadar menjadi refleks yang hampir otomatis. Jika dua pengalaman mental sering terjadi bersamaan atau berurutan, maka setelah cukup banyak pengulangan, munculnya salah satu pengalaman itu saja akan secara otomatis memicu yang lain, tanpa perlu usaha sadar dari kita, apakah respons tindakan tersebut kita inginkan ataupun tidak kita inginkan.
* Automatism of Animals and Men
* The Elements of Physiology and Hygiene
Pendidikan Intelektual dan Moral – “Tujuan pendidikan intelektual adalah membangun hubungan yang kuat antara ide-ide, seperti tentang keteraturan, hukum, dan hubungan yang terjadi di alam. Sedangkan tujuan pendidikan moral adalah mengaitkan perbuatan buruk dengan rasa sakit dan malu, serta perbuatan baik dengan rasa senang dan kehormatan,” demikian dijelaskan oleh Thomas Huxley dalam Elements of Physiology and Hygiene.
Namun, bagi para pendidik, hubungan erat antara pikiran dan materi adalah hal yang lebih penting. Gagasan ini dapat diilustrasikan dengan menggunakan analogi jalur atau rel. Ketika pikiran sering diarahkan ke arah tertentu, hal itu menciptakan pola tertentu dalam jaringan otak. Pola ini menjadi seperti jalur pertama yang dibuat di otak—sebuah rute yang memiliki hambatan paling rendah. Pikiran serupa akan lebih mudah mengikuti jalur ini di masa depan daripada mencoba membuat jalur baru.
Dengan cara inilah kebiasaan, baik dalam tindakan maupun cara berpikir, terbentuk. Jalur yang sering digunakan menjadi lebih kuat dan otomatis, membentuk pola perilaku yang terus berulang.
Karakter Dibentuk oleh Kebiasaan yang Mempengaruhi Otak – Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Pada anak-anak, pembentukan kebiasaan sedari kecil akan memengaruhi masa depan mereka. Bentuk fisik otak seorang anak dipengaruhi oleh kebiasaan yang diperbolehkan atau didorong terjadi/terbentuk oleh orang tuanya. Kebiasaan ini membentuk karakter mereka sampai menjadi dewasa. Setelah kebiasaan mental tertentu terbentuk, kebiasaan itu cenderung bertahan selamanya, kecuali jika diganti dengan kebiasaan lain yang baru.
Hal ini menunjukkan pentingnya menghindari filosofi pemikiran naif seperti, “Tidak apa-apa, maklumi saja karena dia masih anak kecil,” atau “Nanti dia akan berubah jadi lebih baik saat dewasa,” atau “Dia akan tahu mana yang benar ketika lebih besar.” Setiap hari, bahkan setiap jam, orang tua—baik secara sadar maupun tidak—membentuk kebiasaan dalam diri anak-anak mereka. Kebiasaan ini lebih dari sekadar perilaku sehari-hari; mereka adalah fondasi yang menentukan karakter dan sikap anak di masa depan.
Pengaruh dari Lingkungan Luar – Kita sering memulai sesuatu hanya karena melihat orang lain melakukannya. Setelah itu, kita terus ikut melakukannya, dan lama-kelamaan, kebiasaan pun terbentuk. Jika orang dewasa bisa dengan mudah membentuk kebiasaan baru karena pengaruh luar, maka bagi anak-anak, proses ini jauh lebih cepat dan mudah terjadi.
Inilah tantangan besar dalam membentuk kebiasaan pada anak. Seorang ibu perlu selalu waspada untuk menghentikan kebiasaan buruk yang mungkin anak-anak tiru, baik dari orang lain, seperti pelayan, maupun dari teman-teman mereka. Lingkungan sekitar anak sangat memengaruhi kebiasaan yang akan terbentuk, sehingga perhatian dan pengawasan secara konsisten sangat penting.
