‘Mulai kerjakan, maka segala sesuatu akan selesai juga!’ Itu adalah pernyataan yang benar tanpa kecuali, berlaku untuk setiap kebiasaan mental dan moral: Pekerjaan itu selesai namun bukan pada jalur yang Anda perkirakan dan niatkan, tetapi di jalur alaminya, yang mengikuti dan diperlukan oleh kebiasaan itu.
Ketika kita berbicara tentang “pikiran bawah sadar,” kita diingatkan bahwa semua ide atau perasaan yang ditanamkan pada anak––baik melalui warisan sifat maupun pembelajaran sejak dini––akan tumbuh seperti anaman. Ide-ide itu akan berkembang, menyelesaikan proses pertumbuhannya, dan menghasilkan “buah” yang sejenis dengan ide awalnya, persis seperti makhluk hidup.
Hal ini bisa sangat mengagumkan, terutama ketika ide yang ditanam adalah ide yang baik. Misalnya, saat Anda mendapatkan ide yang baru dan bagus, ide itu tampaknya berkembang dengan sendirinya di dalam pikiran Anda, hingga tiba-tiba Anda bisa mengembangkan pemikiran atau rencana yang logis tanpa banyak usaha sadar.
Penulis yang berpengalaman juga sering kali merasa seperti ini. Mereka bisa menulis dengan lancar, seolah-olah kata-kata dan ide mengalir tanpa hambatan. Ketika pekerjaan selesai, tulisan itu sering kali tidak perlu banyak revisi, karena ide-idenya sudah tersusun dengan baik sejak awal. Namun, kekuatan ini tidak hanya berlaku untuk pikiran yang baik dan murni. Pikiran buruk dan negatif juga tumbuh dengan cara yang sama. Seperti organisme lain, pikiran berkembang, matang, dan berlipat ganda sesuai jenisnya––baik atau buruk.
Ini adalah pengingat bagi kita bahwa setiap kebiasaan atau pemikiran yang kita tanamkan, baik pada diri sendiri maupun pada anak-anak, memiliki dampak besar. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan kebiasaan dan ide yang positif sejak awal.
Kita berpikir sebagaimana biasanya kita berpikir.
Bagaimana prinsip ini berguna dalam mendidik anak? Begini penjelasannya: Kita berpikir sesuai kebiasaan berpikir kita. Ide-ide datang dan pergi melalui jalur tertentu yang sudah terbentuk di otak kita––jalur yang terbentuk melalui kebiasaan berpikir kita selama ini. Pikiran-pikiran itu muncul tanpa sengaja, dan kadang kita tidak setuju dengan arah pikirannya, atau bahkan ingin menghalanginya.
(dua ‘kereta’ pikiran berjalan pada waktu yang bersamaan!), dan jika Anda menentangnya, Anda mungkin menghalangi jalan dan memasang tanda ‘Jalan Buntu/Jalan tidak dapat dilewati’ dengan huruf besar, dan memaksa pikiran yang sibuk dari dunia otak untuk mengambil rute lainnya. Tetapi siapa yang mampu melakukan hal-hal ini? Tentu anak-anak belum memiliki kemauan yang matang, kekuatan moral (dengan peperangan rohani) yang kuat, atau kemampuan untuk mengendalikan pikiran mereka dengan baik. Oleh karena itu, anak sangat bergantung pada orang tuanya. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memulai jalur pikiran yang sehat bagi anak––membantu anak memilih apa yang sebaiknya dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan.
Namun, peran orang tua hanya untuk memantiknya. Orang tua tidak boleh mengendalikan semuanya. Dengan sedikit dorongan, anak akan mulai membentuk kebiasaan berpikir dan merasakan yang akhirnya akan membentuk karakternya. Apakah pernyataan ini sangat berasumsi dan terlalu optimis? Tidak juga. Memang benar bahwa anak-anak lahir dengan kecenderungan tertentu, sifat bawaan yang bisa memengaruhi masa depannya. Tetapi setiap kecenderungan itu bisa diarahkan––bisa menjadi hal yang baik atau buruk, tergantung jalur mana yang diambil. Dan tugas orang tua adalah memastikan anak berada di jalur yang tepat untuk mencapai potensi terbaiknya.
Arah jalur-jalur kebiasaan
Hubungan antara kebiasaan dan kehidupan manusia bisa diibaratkan dengan rel kereta api yang dilalui lokomotif. Ini adalah sebuah ilustrasi yang dapat sangat membantu bagi para guru dan orang tua. Sama seperti kereta lebih mudah berjalan di atas rel daripada keluar dari jalurnya–– (keluar jalur tentu dapat menyebabkan kecelakaan––anak juga lebih mudah mengikuti kebiasaan yang sudah terbentuk dengan hati-hati daripada keluar dari jalur tersebut kemudian menghadapi risiko kesulitan atau bahaya. Karena itu, tugas orang tua adalah memastikan jalur kebiasaan yang akan menentukan masa depan anak dibentuk dengan serius dan penuh tanggung jawab. Orang tua harus memikirkan dengan cermat jalur mana yang akan membawa manfaat dan kebahagiaan bagi anak.
Buatlah jalur itu mulus dan jelas, sehingga anak bisa “melaju” di atasnya tanpa ragu-ragu atau harus berhenti untuk mempertimbangkan arah yang diambilnya. Jalur kebiasaan yang baik akan membantu anak bergerak maju dengan percaya diri dan tanpa hambatan.
Kebiasaan dan Kehendak Bebas
–– Tetapi,––misalnya jika melakukan tindakan tertentu sebanyak dua puluh atau tiga puluh kali dalam urutan yang tidak terputus (berulang), hal ini akan membentuk kebiasaan, baik itu kebiasaan yang mudah untuk
diikuti ataupun kebiasaan yang sulit untuk diikuti; jika hal ini terus berlanjut dalam kebiasaan tersebut tanpa jeda, maka kebiasaan itu bertransformasi menjadi ‘second nature’ (karakter), semakin lama kebiasaan itu bertahan, semakin kuat ia mengakar. Setelah bertahun-tahun, kebiasaan bisa menjadi jauh lebih kuat daripada sifat bawaan seseorang. Mengubah kebiasaan yang sudah berakar seperti ini tentunya membutuhkan usaha besar dan tekad yang kuat, Anda tidak dapat memutuskannya tanpa melakukan tindakan kuat dan memaksa yang mutlak pada diri sendiri;––ini adalah fakta yang perlu kita terima.
Memahami fakta ini, penting untuk diingat bahwa saat Anda membantu anak membentuk kebiasaan––baik dalam hal perbuatan, ucapan, cara berpikir, atau cara merasakan sesuatu––Anda mungkin khawatir, Apakah ini mengambil kehendak bebas anak? Apakah saya menjadikannya seperti robot yang hanya mengikuti aturan yang berlebihan, tanpa ia dapat berpikir sendirinya?
Ini adalah pertanyaan penting bagi orang tua, karena meskipun kebiasaan membantu membentuk karakter, penting juga untuk memastikan bahwa anak tetap memiliki kebebasan untuk berpikir, merasa, dan memilih secara sadar di masa depan.
Kebiasaan Mengendalikan Sebagian Besar Pikiran dan Tindakan Kita (99% Kebiasaan dari Pikiran dan Tindakan)
Pertama, ketika Anda berusaha membentuk kebiasaan dalam diri anak ataupun tidak berusaha, tentu saja kebiasaan itu sendiri akan tetap terbentuk. Kebiasaan ini tentunya yang akan mengatur sebagian besar kehidupan anak––sembilan puluh sembilan dari seratus tindakan dan pikirannya. Dengan kata lain, sebagian besar hidupnya akan berjalan secara otomatis, seperti yang Anda bayangkan.
Fakta bahwa anak menjadi “makhluk kebiasaan” bukanlah hal yang ditentukan oleh orang tua, melainkan memang menjadi bagian dari sifat alami semua manusia, karena kita semua adalah makhluk kebiasaan. Kita berpikir sesuai dengan kebiasaan yang kita pikirkan, berbicara seperti yang biasa kita lakukan, dan menyelesaikan tugas-tugas harian pada akhirnya tanpa perlu banyak lagi usaha atau kesulitan dalam mengambil
keputusan.
Bayangkan jika setiap hal-hal kecil––seperti mandi atau merapikan meja –– jika kita harus selalu berpikir, merenung, tentang setiap cara kerja mandi atau membersihkan meja, hidup menjadi suatu hal yang sungguh tak layak dijalani; Karena setiap upaya kita untuk memikirkan dan membuat keputusan yang terus-menerus dan diulang akan membuat kita lelah. Untungnya, adanya kebiasaan ini memungkinkan kita menjalani
hidup tanpa harus memutuskan semua hal di setiap saat. Setelah kita melakukan sesuatu berkali-kali, kebiasaan itu terbentuk, sehingga tidak memerlukan banyak kehendak atau upaya.
Begitu pula dalam kehidupan anak-anak. Meskipun mungkin suatu saat mereka akan menghadapi situasi (darurat) tertentu yang membutuhkan keputusan atau usaha, hal itu mungkin akan sering terjadi di kemudian hari. Tentu saja kita tidak dapat sepenuhnya melindungi mereka dari tantangan ini, tetapi kita juga tidak perlu membuat hidup mereka lebih sulit. Kita membantunya dengan memastikan mereka memiliki kebiasaan
yang baik (kebiasaan untuk berkehendak –‘the will’*) –– kebiasaan ini yang menuntun mereka menuju kehidupan yang tertib, sopan, dan bermoral. Dengan begitu, roda kehidupan mereka akan bergerak di jalur yang benar, bukan di jalur yang berantakan dan terpuruk sehingga membawa kesulitan.
* Catatan: dalam Prakata Home Education, Charlotte Mason menuliskan poin tentang kehendak dan keinginan (The Will vs The Want)
Kebiasaan Sangat Berpengaruh dan Tetap Kuat, Bahkan Ketika Kehendak
Berusaha Mengubahnya
Kemudian saat seseorang menghadapi keadaan mendesak, tiba-tiba mengalami kesulitan, atau ada godaan datang menghampirinya, hal-hal ini tentu membutuhkan kekuatan kehendak ‘the will’, dan yang terjadi biasanya, seseorang akan tetap berperilaku dan bertindak sesuai dengan kebiasaan yang sudah terbentuk dalam dirinya. Misalnya, seorang anak laki-laki yang sudah terbiasa menikmati manfaat dan kesenangan dari membaca buku tidak akan mudah tergoda untuk bermalas-malasan hanya karena diajak oleh teman-temannya yang tidak rajin. Anak perempuan yang sejak kecil sudah dilatih untuk selalu berkata jujur tidak akan langsung memilih berbohong demi jalan keluar yang mudah, meskipun dia mungkin merasa ketakutan.
Namun apakah doktrin tentang kebiasaan ini lebih dari sekadar obat penawar empiris terhadap gejala-gejala yang dialami anak? Mengapa ketika seseorang melakukan suatu tindakan atau memikirkan suatu hal, dan dilakukannya berkali-kali serta berturut-turut, akan cenderung membentuk tindakan tersebut menjadi bagian dari sifat diri anak? Kita mungkin menerima doktrin ini sebagai suatu tindakan iman yang bergantung pada pengalaman; namun jika kita dapat menemukan ‘raison d’être’* (alasan utama) dari kekuatan kebiasaan yang sangat besar ini, kita akan lebih mudah membantu anak-anak membentuk kebiasaan baik dengan cara yang lebih terencana dan efektif. Memahami mengapa kebiasaan bekerja memberi kita panduan yang jelas untuk menanamkannya dengan cara yang benar.
* Raison d’être adalah ungkapan bahasa Prancis yang berarti “alasan untuk ada” atau “alasan keberadaan”.
