“Kebiasaan sepuluh kali lebih kuat daripada sifat bawaan.” Jika pernyataan itu benar, maka tidak peduli seberapa kuat sifat bawaan seseorang, kebiasaan ternyata tidak hanya sama kuat tetapi malah sepuluh kali lebih hebat. Jadi, kita memiliki sesuatu yang lebih kuat dari sifat bawaan––sesuatu yang bisa mengalahkan “si orang kuat bersenjata” ini.
Kebiasaan Terbentuk Bersamaan dengan Sifat Bawaan
Kebiasaan sering kali tumbuh seiring dengan sifat bawaan seseorang. Misalnya, anak yang secara alami penakut mungkin mengembangkan kebiasaan berbohong untuk menghindari masalah. Anak yang penuh kasih cenderung memiliki banyak kebiasaan menyenangkan. Anak yang murah hati memiliki kebiasaan memberi, sedangkan anak yang egois cenderung menyimpan untuk dirinya sendiri dan enggan berbagi. Kebiasaan yang sesuai dengan sifat bawaan sebenarnya adalah perwujudan sifat bawaan itu dalam bentuk tindakan dan menjadi lebih kuat melalui latihan atau pengulangan.
Kebiasaan Juga Bisa Membantu Mengubah (Bagai Tuas Pendorong)
Namun, kebiasaan juga seperti tuas pendorong yang digunakan untuk membantu memperbaiki hidup seorang anak harus bekerja melawan sifat bawaan atau setidaknya, tidak menjadi selaras dengan sifat itu. Contohnya mudah ditemukan: ada anak-anak yang diajarkan untuk berhati-hati sehingga mereka selalu berusaha untuk tidak mengotori pakaian mereka. Ada juga anak-anak yang dibiasakan bersikap sopan santun dan menjawab pertanyaan yang kurang baik dengan, “Maaf, Saya tidak tahu.” Ada juga anak-anak yang dibesarkan dalam kebiasaan sopan, yang memberi jalan kepada orang yang lebih tua dengan lemah lembut, dan lebih siap mendahulukan wanita berpakaian lusuh yang membawa keranjang belanja daripada wanita berpakaian bagus. Di sisi lain, ada juga anak-anak yang terbiasa bersungut-sungut dalam keluarganya dan enggan berbagi atau mengalah.
Ibu Membentuk Kebiasaan Anak Secara Tidak Sadar
Kebiasaan-kebiasaan ini—baik, buruk, atau biasa saja—tidak muncul begitu saja. Kebiasaan itu terbentuk karena dari apa yang diperkenalkan ibu mereka sehari-hari Faktanya, hampir semua hal bisa diajarkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Kebiasaan yang dimiliki anak-anak sering kali mencerminkan prioritas atau prinsip hidup sang ibu. Seorang ibu yang memiliki pandangan luas tentang pendidikan akan secara alami membentuk kebiasaan anak-anaknya berdasarkan pandangan tersebut. Di sisi lain, seorang ibu yang terlalu peduli dengan penilaian orang lain mungkin akan membesarkan anak-anak yang hanya fokus pada penampilan luar. Anak-anak itu terlihat rapi dan sopan di depan orang lain tetapi kurang memperhatikan keindahan kebaikan, dan keteraturan di rumah atau dengan keluarga mereka sendiri.
Kebiasaan Membawa Sifat Bawaan ke Arah Baru
Kebiasaan memiliki kekuatan luar biasa untuk mengarahkan sifat bawaan ke jalur yang baru. Kita tidak perlu melihat banyak contoh untuk memahami hal ini. Cukup lihat seorang anak kecil di sirkus yang bisa berdiri di atas dua kuda poni tanpa pelana, seorang pemain akrobat yang menari di udara seperti peri, atau badut yang dapat lentur melipat tubuhnya seperti karet, atau berbagai keterampilan luar biasa lainnya. Semua ini, baik fisik maupun mental, dicapai melalui latihan yang terus-menerus––dengan membentuk kebiasaan yang dilakukan dengan tekun dan konsisten.
Kekuatan kebiasaan tidak hanya terjadi pada manusia, terjadi juga pada hewan.
Misalnya, seekor kucing selalu datang ke tempat makan yang sama pada waktu yang sama jika itu sudah menjadi kebiasaannya. Bahkan, kucing bisa memilih kelaparan daripada meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempat favoritnya. Anjing, bahkan dapat melakukan hal yang lebih dari itu, ia adalah hewan yang menjadi wujud nyata “makhluk kebiasaan.” Atau seseorang pernah mencoba dengan memberi makan burung pipit dengan remah roti setiap pukul sembilan pagi. Dalam beberapa hari, burung-burung itu akan datang pada waktu tersebut, bahkan jika tidak ada remah-remah yang disediakan.
Charles Darwin bahkan pernah menyebutkan bahwa rasa takut yang dimiliki hewan terhadap manusia mungkin hanya kebiasaan yang diwariskan. Ketika dia mendarat di pulau-pulau Pasifik yang penduduknya jarang atau belum pernah bertemu manusia, burung-burung mendekatinya tanpa rasa takut, bahkan hinggap di tubuhnya. Kebiasaan juga dapat menjadi hal yang menghancurkan, seperti seorang pemabuk yang terus mengulangi kebiasaannya meskipun ia tahu itu merusak akal sehat, hati nurani, tujuan hidup, dan agama serta keyakinannya.
Orang Tua dan Guru Membentuk Kebiasaan Anak
Kita tahu pepatah yang mengatakan bahwa “kebiasaan adalah sifat kedua,” dan bahwa “manusia adalah kumpulan dari kebiasaan.” Ini bukan hal baru. Namun, memahami bagaimana kebiasaan terbentuk dan dampaknya terhadap kehidupan adalah wawasan yang sangat penting. Orang tua dan guru bertanggung jawab untuk menciptakan jalur kebiasaan yang akandiikuti anak-anak. Dengan membentuk kebiasaan yang baik, anak-anak bisa menjalani hidup dengan lebih mudah dan terarah. Tugas ini mungkin terasa berat, tetapi dengan kesadaran dan usaha, hasilnya akan sangat bermanfaat bagi masa depan mereka.
