IV. Beberapa Kebiasaan Berpikir – Beberapa Kebiasaan Moral

Ilmu Pendidikan (Science of Education)
Izinkan saya dengan hormat menulis tentang pendidikan di rumah. Saya percaya pada kebijaksanaan, kebijaksanaan, dan wawasan unik yang dimiliki para ibu tentang anak-anak mereka. Para ibu ini diberkati dengan pengetahuan dan kekuatan untuk mengatur anak-anak mereka dengan luar biasa dan patut dikagumi. Namun, perlu diketahui bahwa ada juga ilmu tentang pendidikan (Science of Education), yang tidak hanya berdasarkan pada intuisi semata. Ilmu ini didasarkan pada pengetahuan yang membantu membesarkan anak sesuai dengan hukum alam (natural law) dan hukum Ilahi (divine law). Pendidikan yang mengikuti hukum-hukum ini akan mendapatkan imbalan yang besar.

* A Science of Education: Ilmu sains pendidikan: Bidang ilmu pendidikan dapat mencakup pemeriksaan dan penelitian terhadap metode pengajaran yang berbeda dan bagaimana kelompok siswa menerima metode tersebut, serta proses penyempurnaan metodologi pengajaran.

* Hukum alam (Nature law) (Latin: ius naturale, lex naturalis) adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada pengamatan yang cermat terhadap tatanan alam dan sifat manusia, yang darinya nilai-nilai, yang dianggap oleh para pendukung hukum alam sebagai hakikat sifat manusia, dapat disimpulkan. dan diterapkan secara independen dari hukum positif (hukum yang ditetapkan secara tegas oleh suatu negara atau masyarakat).[2] Menurut teori hukum yang disebut keadilan naturalisme, semua orang mempunyai hak yang melekat, yang diberikan bukan melalui undang-undang tetapi oleh “Tuhan, alam, atau akal”.[3] Teori hukum kodrat juga dapat merujuk pada “teori etika, teori politik, teori hukum perdata, dan teori moralitas agama”.

* Hukum Ilahi (Divine law) : sebuah hukum yang diyakini berasal langsung dari Tuhan

* Upah yang besar (great reward): kemungkinan frasa itu Charlotte Mason mengutip dari alkitab mazmur 19:11 Lagipula oleh semuanya itu hamba-Mu diperingatkan, dan orang yang mematuhinya mendapat upah yang besar.

Pendidikan dalam Kebiasaan Mendukung Kehidupan yang Mudah
Kami telah melihat banyak contoh yang menunjukkan betapa besar pengaruh kebiasaan dalam kehidupan manusia. Pandangan ini sangat menggembirakan karena memberikan dasar ilmiah bagi kesimpulan yang telah diperoleh dari pengalaman manusia pada umumnya. Sungguh menyenangkan untuk mengetahui bahwa kebiasaan yang baik dalam kehidupan orang dewasa dapat dilatih dengan sedikit usaha yang konsisten.

Namun, penting bagi kita juga untuk menyadari betapa mudahnya kita dapat jatuh ke dalam kebiasaan buruk, meskipun tentu saja hal itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Yang paling menghibur dari pandangan tentang kebiasaan ini adalah bahwa kebiasaan disebabkan oleh keinginan alami manusia pada kehidupan yang lebih mudah. Kita tidak begitu keberatan untuk berusaha di awal, jika kita tahu bahwa semuanya akan berjalan lancar setelahnya. Kebiasaan yang baik menjanjikan hasil yang memberikan hidup yang lebih mudah.

Seorang ibu yang dengan susah payah menanamkan kebiasaan baik pada anak-anaknya akan menikmati hari-hari yang lebih lancar dan mudah. Sebaliknya, seorang ibu yang membiarkan kebiasaan buruk menguasai anak-anaknya akan menghadapi kehidupan yang penuh dengan pertikaian tanpa akhir. Sepanjang hari, dia harus terus-menerus memberi perintah yang tidak diikuti anak-anaknya. Anda mungkin bertanya, jika kebiasaan begitu kuat, baik dalam menghambat atau membantu anak, apakah tidak melelahkan bagi ibu untuk membentuk semua kebiasaan ini? Apakah dia tidak bisa bersantai ketika bersama dengan anak-anaknya dalam kesehariannya?

Melatih Kebiasaan Menjadi Kebiasaan
Sekali lagi, ini adalah ilustrasi kisah tentang pendulum, yang diliputi pemikiran tentang jumlah detak yang harus dijalaninya. Namun, detak itu harus dihantarkan sedikit demi sedikit, dan akan selalu ada waktu kedua untuk melakukannya. Seorang ibu mengabdikan dirinya pada pembentukan satu kebiasaan pada suatu waktu, tidak melakukan apa pun selain mengawasi kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk. Jika dia merasa tercengang memikirkan pekerjaan yang terlalu banyak, dia perlu membatasi jumlah kebiasaan baik yang ingin dia bentuk dalam satu rentang waktu.

Anak yang mengawali hidupnya dengan, katakanlah, dua puluh kebiasaan baik, akan dapat merintis kehidupan dengan memiliki cukup modal (kebiasaan baik) yang hendaknya ia pakai untuk mendapatkan kebaikan yang tiada habisnya seiring berjalannya waktu. Seorang ibu yang tidak percaya pada kekuatan usahanya yang gigih mungkin dapat merasa nyaman dengan dua fakta ini.

Pertama-tama, ia sendiri perlu memiliki kebiasaan untuk biasa melatih anak-anaknya dalam suatu kebiasaan tertentu, sehingga lama kelamaan hal itu tidak hanya menjadi kewajiban saja, tetapi juga kesenangan baginya.

Kedua, bagi anak yang paling tetap dan dominan dalam kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk adalah kebiasaan-kebiasaan yang tidak diperhatikan oleh sang ibu, tetapi dipelajari sendiri oleh anak melalui pengamatannya yang cermat terhadap semua yang dikatakan dan dilakukan, dirasakan dan dipikirkan, di rumahnya.

Kebiasaan-kebiasaan yang Terinspirasi dari Suasana Rumah
Kita telah membahas setengah dari kelompok kebiasaan fisik seperti keteraturan, ketertiban, dan kerapian yang bisa diserap oleh anak secara alami. Namun, bukan hanya kebiasaan ini saja yang penting. Kebiasaan seperti kelembutan, sopan santun, kebaikan hati, kejujuran, dan penghormatan kepada orang lain juga diserap oleh anak dari atmosfer di rumahnya. Kebiasaan ini bagaikan udara di rumah yang dihirup anak setiap hari dan membantunya tumbuh dan berkembang.

 

Leave a Comment

error: Content is protected !!