Sekarang, mari kita beralih ke pembahasan tentang sekelompok kebiasaan mental yang dipengaruhi oleh pelatihan langsung dan bukan melalui contoh/atmosfer.
Untuk memahami mengapa kebiasaan ini sangat lah penting, kita harus mempertimbangkan cara kerja satu atau dua hukum pemikiran *(law of thought). Namun penting juga untuk diingat, bahwa keseriusan memusatkan perhatian yang dimiliki oleh orang profesional yang terlatih seperti – pengacara, dokter, sastrawan – mereka dapat mendengarkan cerita yang berputar, melemparkan argumen, menangkap fakta-faktanya, dan melihat kaitannya dari setiap keadaan, dan mengemukakan kasusnya dengan kejelasan dan metode baru; dan bandingkan hal ini dengan pandangan yang mengawang-awang dan jawaban tak teratur dari orang yang tidak berpendidikan;––dan
Anda melihat bahwa membedakan orang berdasarkan kemampuan memusatkan perhatiannya berarti dapat terukur dengan tes yang sah.
* laws of thought, traditionally, the three fundamental laws of logic: (1) the law of contradiction, (2) the law of excluded middle (or third), and (3) the principle of identity. The three laws can be stated symbolically as follows.
Pikiran yang Bergantung pada Asosiasi (Membentuk hubungan dan pertalian antar gagasan).–– Mari kita pertimbangkan mengenai sifat dan fungsi perhatian. Pikiran manusia –– kecuali mungkin saat sedang dalam keadaan koma –– tidak pernah benar-benar berhenti; ide-ide terus melintas di otak kita, baik siang maupun malam, saat kita tidur maupun berjalan, dalam keadaan sehat atau tidak. Kita sering terlalu percaya bahwa kita adalah pencipta dan perancang pemikiran yang kita pikirkan.
Padahal, yang paling kita bisa lakukan adalah memberikan sedikit arahan pada alur pemikiran ini dalam waktu singkat saat kita mengatur pikiran. Seperti yang kita lihat dalam mimpi –– ide-ide menari dengan cepat melewati otak selama tidur ringan (light sleep)* –– bagaimana secara umum ide-ide mengikuti satu sama lain. Dalam fase delirium yang mengembara, dalam khayalan orang gila, ocehan anak-anak, dan celoteh orang tua, kita melihat hal yang sama, yaitu –– hukum secara alami yang mengatur gagasan-gagasan yang mengalir masuk ke dalam pikiran ketika hal tersebut muncul dan dibiarkan begitu saja.
Contoh saja saat Anda berbicara dengan seorang anak tentang kaca –– Yang Anda inginkan adalah memancing rasa ingin tahu anak tentang bagaimana kaca dibuat, dan apa kegunaannya. Namun tidak sedikit pun ternyata ia berpikir tentang hal itu; pikirannya mengembara mengingat kisah sepatu kaca Cinderella; lalu melompat, bercerita tentang ibu baptisnya yang memberinya perahu; pindah lagi berbicara tentang kapal yang ditumpangi Paman Harry ke Amerika; kemudian berlanjut dengan pertanyaan, mengapa kamu tidak memakai kacamata, membuat kamu menebak bahwa Paman Harry memakainya.
Tetapi ocehan anak itu bukanlah suatu keanehan; mereka mengikuti suatu hukum, yakni hukum asosiasi gagasan, dengan mengikuti hukum tersebut, gagasan apa pun yang dihadirkan ke dalam pikiran anak akan mengingatkan dengan gagasan yang lain yang pernah dikaitkan dengannya––seperti kaca dan sepatu kaca milik Cinderella; tentu saja hal itu memang merupakan gagasan yang memiliki keterkaitan.
Hukum asosiasi gagasan ini adalah hamba yang baik dan tuan yang buruk. Hamba yang baik untuk mendapatkan bantuan dalam mengingat peristiwa masa lalu, keterlibatannya asosiasi pada saat ini adalah suatu anugerah yang tak terhingga; tetapi bila kita hanya bergantung pada asosiasi ini, hukum asosiasi ini tidak akan mempunyai kekuatan untuk memikirkan apa yang kita pilih terutama ketika kita harus memilih, tetapi hanya sebagai sesuatu yang ‘memasukkan gagasan” ke dalam kepala kita’, dan hal itu tidak lebih baik daripada orang dungu.
Perhatian/Pikiran yang Mengembara.–– Dengan upaya dan kemauan yang kuat, seharusnya kita bisa mengatur kembali pikiran kita kapan saja. Ya, tetapi kemauan yang kuat dan upaya “memaksa” diri adalah hasil dari karakter yang telah berkembang. Sementara anak-anak, yang belum memiliki karakter untuk dibentuk, hanya memiliki watak alaminya –– yang mungkin asyik bersenandung saat belajar geografi, atau bermain dengan boneka dan sofa sambil mengucapkan kata kerja dalam bahasa Prancis.
Inilah rahasia mengapa anak-anak merasa lelah saat belajar di rumah––mereka selalu memikirkan hal lain selain pelajaran mereka. Atau lebih tepatnya, pikiran mereka terombang-ambing oleh ribuan khayalan yang melintas di otak mereka, masing-masing gagasan mengikuti alurnya sendiri. Seperti yang dikatakan seorang gadis kecil kepada pengasuhnya, “Oh, Nona Smith, ada banyak hal yang lebih menarik daripada pelajaran untuk dipikirkan!”
Lalu di mana letak kerugiannya? Dalam hal ini: bukan saja hanya persoalan anak-anak yang membuang-buang waktu, meskipun hal ini sangat disayangkan; tetapi mereka juga membentuk kebiasaan berpikir yang tidak teratur, dan tentu mengurangi kapasitas upaya mental mereka sendiri.
Kebiasaan Penuh Perhatian yang Harus Ditumbuhkan Sejak Usia Dini
Oleh karena itu, yang pertama (perlu ditumbuhkan) bukanlah kehendak (the will) anak, tetapi kebiasaan untuk memperhatikan (habit of attention), yang harus ditanamkan bahkan sejak bayi. Bayi, meskipun memiliki kemampuan pengamatan yang luar biasa, belum memiliki kekuatan untuk fokus.
Dalam satu menit, mainan yang diidam-idamkan itu jatuh dari tangan kecilnya yang masih lemah, dan dia dengan mudah beralih pandangan mencari mainan lain yang menarik perhatiannya. Namun, sejak saat ini, kebiasaan memperhatikan sudah bisa mulai dilatih: mainan yang dibuang diambil kembali, dan dengan lembut berkata “Perhatikan!” ibu mulai mengarahkan perhatian mata bayinya untuk tetap fokus pada mainan itu selama beberapa menit –– itulah pelajaran awal untuk memberi perhatian.
Nantinya, seperti yang kita lihat, anak akan sangat ingin melihat dan memegang setiap benda yang ada di sekitarnya. Tapi perhatikanlah dia saat sibuk dengan penyelidikannya: perhatiannya seperti terbang dari satu benda ke benda lain, seakan-akan seperti kupu-kupu di antara bunga-bunga, ia tidak cukup lama pada satu hal untuk benar-benar memahaminya. Ibu bertanggung jawab untuk membantu anak memperbaiki kebiasaan itu dengan mengajarinya untuk fokus pada satu hal dengan cukup lama, sampai benar-benar mengenalnya.
Misalnya, apakah Margaret kecil sedang memusatkan perhatiannya pada bunga aster yang dipetiknya? Ternyata dalam sekejap saja bunga aster itu dibuangnya, lalu pandangannya terpikat pada kerikil atau bunga ranunculus (buttercup). Namun, ibu mencoba memanfaatkan momen itu. Dia membuat Margaret melihat bahwa bunga aster itu seolah memiliki “mata” berwarna kuning cerah dengan “bulu mata” putih yang mengelilinginya, bahwa sepanjang hari ia berbaring di rerumputan dan menatap matahari besar, tidak pernah berkedip seperti yang dilakukan Margaret, namun tetap membuka matanya lebar-lebar.
Oleh karena itu, bunga aster (Daisy – Day’s eye), ‘mata’ dan ‘siang’, disebut demikian, karena memiliki “mata” yang selalu memandang matahari di siang hari. Dan menurut pemikiran Margaret, apa yang dilakukannya pada malam hari, saat tidak ada matahari? Ia melakukan apa yang biasa dilakukan oleh anak-anak; ia hanya menutup matanya dengan bulu matanya yang putih dan berujung merah muda, lalu tertidur hingga matahari terbit kembali di pagi hari. Saat itu, bunga aster menjadi menarik bagi Margaret; dia melihatnya dengan mata besar setelah ibunya selesai berbicara, dan kemungkinan besar akan memeluknya di dadanya atau memberinya ciuman kecil yang lembut.
Dengan cara ini, ibu akan terus mencari berbagai cara untuk menginvestasikan setiap benda di dunia anak dengan minat dan kegembiraan, membangun kebiasaan memperhatikan yang penuh makna.
* Aster
* Ranunculus
Perhatian pada ‘Sesuatu’ adalah Kata-kata yang Melelahkan
Akan tetapi saling tarik menarik seperti tarik tambang dimulai dengan pelajaran di ruang sekolah. Bahkan seorang anak yang sudah memiliki kebiasaan memperhatikan sesuatu, pada akhirnya akan merasa lelah dan menemukan kata ini dalam kamusnya. Ini adalah titik balik dalam kehidupan anak, dan di sinilah ibu harus menunjukkan kebijaksanaan dan kewaspadaannya.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tidak membiarkan anak terlalu lama menghabiskan waktunya dengan menyalin tulisan, menghitung penjumlahan matematika, atau duduk melamun di depan buku. Ketika seorang anak mulai merasa lamban berpikir pada suatu pelajaran, inilah saatnya untuk menghentikan pelajaran tersebut sementara waktu. Biarkan dia beralih ke pelajaran lain yang jauh berbeda dari yang sebelumnya, dan setelah itu, ia akan kembali dengan pikiran yang segar untuk melanjutkan tugas yang belum selesai.
Jika ibu atau pengasuhnya kurang hati-hati membiarkan anak menjadi ‘bulan-bulanan’ dalam pelajaran, dia harus menggunakan akalnya untuk membantu anaknya; pembelajarannya tentu saja harus dilakukan, tetapi harus dibuat ramah dan menyenangkan bagi anak.
Pelajaran yang Menarik
Seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip pendidikan, mengetahui mata pelajaran apa yang paling cocok untuk anak sesuai usianya, dan bagaimana membuat pelajaran tersebut menarik. Guru juga harus tahu bagaimana mengatur variasi pelajaran sehingga setiap kekuatan pikiran anak bisa beristirahat setelah berusaha penuh, dan kekuatan lain dapat dipanggil untuk digunakan.
Dia harus mampu memantik anak untuk berusaha melalui berbagai hasratnya—seperti rasa ingin tahu, hasrat unggul, dorongan untuk maju, hasrat akan pengetahuan, perasaan cintanya kepada orang tua, dan rasa tanggung jawab—sehingga tidak ada satu pun motif yang berlebihan dan malah merusak karakter anak.
Namun waspada dengan bahaya yang harus dihadapi yakni tergantinya hasrat alamiah lainnya dengan hasrat untuk mendapatkan pengetahuan, yang sebenarnya sama alaminya, dan cukup untuk semua tujuan pendidikan. Hasrat ini memang sama alaminya dan cukup untuk semua tujuan pendidikan, tetapi harus digunakan dengan bijak agar tidak mengorbankan aspek lain dari perkembangan anak.
Jadwal Belajar; Pelajaran Dilakukan Dalam Waktu Tertentu. –– Saya akan membahas beberapa poin ini juga pada kesempatan mendatang ; Namun untuk sementara ini, mari kita lihat sesi akademis di rumah yang dikelola berdasarkan prinsip-prinsip yang baik. Pertama-tama, perlu adanya jadwal yang ditulis secara adil, sehingga anak mengetahui apa yang harus ia lakukan dan berapa lama setiap pelajaran akan berlangsung. Gagasan tentang pekerjaan pasti yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu sangat berharga bagi anak, tidak hanya melatihnya dalam kebiasaan tertib, tetapi juga dalam ketekunan. Dia belajar bahwa satu ‘waktu’ tidaklah ‘sebaik waktu lainnya’; bahwa tidak ada waktu lain yang tersisa untuk melakukan apa yang tidak ia lakukan pada waktunya.
Pengetahuan ini saja sudah banyak membantu mengamankan perhatian anak terhadap pekerjaannya. Sekali lagi, pelajarannya singkat, jarang lebih dari dua puluh menit untuk anak-anak di bawah delapan tahun; dan ini, karena dua atau tiga alasan. Memiliki perasaan bahwa tidak ada banyak waktu untuk melakukan pelajaran berhitung dalam penjumlahan atau waktu membaca, menjaga akal anak untuk tetap waspada dan membantu ia untuk memusatkan perhatiannya; dia mempunyai waktu untuk mempelajari satu mata pelajaran sebanyak hal yang baik untuk dia pelajari sekaligus: dan jika pelajarannya diganti dengan bijaksana–– Katakanlah pelajaran Matematika, penjumlahan dilakukan lebih dulu, selagi otak masih cukup segar; kemudian dilanjutkan dengan menulis, atau membaca –– beberapa latihan mekanis, sebagai istirahat; dan seterusnya, programnya sedikit berbeda dari hari ke hari, tetapi prinsipnya sama ––pelajaran ‘berpikir’ terlebih dahulu, dan pelajaran yang ‘susah payah’ untuk diikuti,––anak menyelesaikan pelajaran paginya tanpa ada tanda-tanda kelelahan.
Namun, meski pelajaran telah terjadwal secara baik dan singkat, kadang-kadang masih diperlukan stimulus lebih lanjut untuk mengamankan perhatian anak. Keinginannya untuk mendapatkan persetujuan mungkin membutuhkan pantikan, tidak hanya berupa kata-kata pujian, tetapi juga dalam bentuk imbalan untuk menjamin usahanya yang terbaik. Tentu saja, imbalan yang didapatkan seharusnya diberikan berdasarkan prinsip: hal tersebut harus merupakan konsekuensi wajar dari perilaku baiknya.
Imbalan Alami
Apa konsekuensi alami dari pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan cepat? Bukankah ini kenikmatan waktu luang yang lebih banyak? Misalnya, seorang anak laki-laki diharapkan menyelesaikan dua soal dengan benar dalam dua puluh menit: jika dia mengerjakannya dalam sepuluh menit, maka sepuluh menit sisanya adalah miliknya sendiri, yang diperoleh dengan adil, di mana dia bisa bebas berlari cepat di taman atau menikmati kesenangan apa pun yang dia pilih. Jika tugas menulisnya adalah menghasilkan enam huruf ‘m’ dengan sempurna, dia bisa menulis enam baris dengan hanya satu ‘m’ yang baik di setiap baris, maka waktu pelajaran menulis telah selesai, dan dia tidak punya sisa waktu untuk dirinya sendiri. Atau, jika dia mampu menunjukkan enam huruf ‘m’ yang bagus pada baris pertamanya, dia memiliki waktu sisa untuk menggambar kapal uap atau kereta api.
Kemungkinan membiarkan anak-anak menyibukkan diri dengan cara yang berbeda-beda di akhir setiap pelajaran, merupakan kompensasi yang ditawarkan dari ruang sekolah di rumah—sebagai pengganti dari semangat yang biasanya diberikan oleh persaingan dan simpati angka pada tugas sekolah.
Emulasi (Ambisi Persaingan)
Tentang emulasi, ini adalah cara yang sangat efektif untuk menggairahkan dan mempertahankan perhatian anak-anak. Sering kali ada pandangan keberatan bahwa keinginan untuk berprestasi, untuk melampaui orang lain, menyiratkan sifat tidak pengasih, yang seharusnya ditekan oleh pendidik.
Namun, kenyataannya adalah bahwa anak-anak sedang dilatih untuk hidup di dunia, di mana kita semua mendapatkan nilai, hadiah, atau pujian sesuai dengan kemampuan kita mengungguli orang lain—baik dalam sepak bola, tenis, seni lukis, atau membuat puisi.
Ada rasa iri dan hati yang membara di antara mereka yang berada di urutan kedua; demikianlah hal itu terjadi sejak awal dan pasti akan terus terjadi hingga akhir. Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh persaingan, maka mungkin ia dibesarkan di sekolah yang penuh emulasi.
Akan tetapi disinilah peran seorang ibu. Ia dapat mengajari anaknya untuk menjadi yang pertama tanpa kesombongan, dan menjadi yang terakhir tanpa kepahitan—yaitu, dia dapat membesarkan anaknya dengan cinta dan simpati yang tulus, sehingga kegembiraan atas kesuksesan saudaranya dapat mencabut duri rasa sakit atas kegagalannya sendiri. Dan ia juga dapat ikut merasakan penyesalan akan kegagalan yang dialami saudaranya tanpa mengagung-agungkan kemenangan dirinya sendiri.
Sekali lagi, jika sistem nilai digunakan sebagai dorongan terhadap perhatian dan usaha, maka nilai baik seharusnya diberikan pada perilaku dan bukan untuk kepintaran—nilai yang dapat dijangkau oleh semua orang: setiap anak dapat memperoleh nilai untuk ketepatan waktu, ketertiban, perhatian, ketekunan, ketaatan, dan kelembutan.
Oleh karena itu, nilai semacam ini dapat diberikan tanpa menimbulkan rasa ketidakadilan yang mendalam di dada anak yang gagal.
Persaingan (emulasi) dapat menjadi bunuh diri jika digunakan sebagai insentif untuk upaya intelektual, karena hasrat akan pengetahuan akan mereda seiring dengan semakin berkobarnya keinginan untuk unggul.
Namun, sebenarnya pemberian nilai, bahkan untuk perilaku, dapat mengalihkan perhatian anak-anak dari pekerjaan mereka yang seharusnya, dengan sendirinya pekerjaan itu sudah cukup menarik untuk menjamin perhatian dan upaya yang baik.
* emulasi/emu·la·si/ /émulasi/ n 1 ambisi atau usaha keras untuk menyamai atau melebihi yang lain dalam prestasi; kedengkian; iri hati; 2 imitasi; tiruan
Kasih Sayang sebagai Motif
Bahwa anak-anak seharusnya bekerja keras untuk menyenangkan orang tuanya yang telah melakukan banyak hal untuknya, adalah motif yang layak untuk diingatkan dari waktu ke waktu. Namun, jangan terlalu sering. Jika ibu selalu menukar perasaan anak dengan berkata, “Lakukan ini atau itu untuk menyenangkan ibu,” atau “Jangan menyakiti ibu yang malang,” maka hal itu bisa menjadi kebiasaan. Berkali-kali menyampaikan pesan ini kepada anak sebagai alasan untuk berbuat baik, malah bisa menciptakan hubungan yang sentimental. Akibatnya, hubungan antara orang tua dan anak menjadi terlalu emosional, dan motif asli untuk berbuat benar menjadi kabur. Anak mungkin merasa tertekan untuk tidak terlihat seolah tidak berbakti dan menyayangi orang tuanya, yang pada akhirnya bisa mengarah pada kekeliruan.
Daya Tarik Pengetahuan
Tentu saja, cara yang paling jelas untuk menarik dan mempertahankan perhatian anak-anak adalah dengan daya tarik dari pengetahuan itu sendiri, dan keinginan alami mereka untuk belajar. Namun, sering kali guru gagal dalam hal ini, mencoba menghindari atau menahan anak-anak dari dorongan untuk mencari pengetahuan. Hal ini dapat terlihat di banyak ruang sekolah. Namun, saya akan berbicara lebih lanjut tentang ini di kesempatan lain.
Apa Itu Perhatian?
Jelas bahwa perhatian bukanlah sebuah ‘kemampuan’ kerja pikiran, dan memang, perlu diragukan seberapa banyak cara kerja pikiran dapat dianggap sebagai ‘kemampuan’. Perhatian bukanlah pekerjaan pikiran, melainkan tindakan untuk mengarahkan seluruh kekuatan mental pada satu hal yang sedang dihadapi. Dengan kehendak orang tua atau guru tindakan mengerahkan perhatian penuh ini dapat dilatih menjadi kebiasaan, lewat hal yang dapat menarik dan mempertahankan perhatian anak melalui motif yang tepat.
[Perhatian bukanlah otot di otak yang harus dilatih. Itu adalah sesuatu yang kamu lakukan, bukan sesuatu yang kamu miliki.]
Memaksa Diri Sendiri.––Seiring bertambahnya usia anak, dia belajar untuk mewujudkan kehendaknya sendiri; dia belajar untuk tetap fokus meskipun ada godaan datang dari luar. Dia harus diajarkan untuk merasakan kemenangan dalam memaksa dirinya untuk tetap fokus pada tugas yang ada di tangannya.Biarlah ia tahu tentang kesulitan sebenarnya, bagaimana sifat alaminya untuk terus-menerus berpikir, namun bagaimana pikiran itu, jika dibiarkan begitu saja, ia akan selalu berlari dari satu hal ke hal yang lain, dan itulah perjuangan, kemenangan yang diperlukannya adalah dalam menetapkan pikirannya pada tugas yang ada di tangannya. ‘Kamu telah melakukan tugasmu,’ Ibunya berkata dengan ekspresi penuh simpati, dan itu adalah hadiah bagi anak yang telah melakukan upaya ini dengan kekuatannya yang semakin besar dalam membangun kehendaknya.
Namun, perlu diingat bahwa perhatian bukan hanya tentang kekuatan kehendak, tetapi juga hasil dari latihan dan pengembangan intelektual. Perhatian hanya dapat berkembang sesuai proporsi kekuatan pikiran yang memadai untuk memperdalam suatu topik.
Pentingnya kebiasaan memperhatikan ini bukan hal yang berlebihan. Seperti yang dikatakan oleh banyak pepatah bijak, “Perhatian adalah jembatan menuju semua disiplin mental,” karena meskipun anak memiliki bakat alami, hanya dengan kebiasaan perhatian yang baik, bakat tersebut bisa berkembang sepenuhnya.
* Compelled — 1: to drive or urge forcefully or irresistibly, 2 : to cause to do or occur by overwhelming pressure, 3: archaic : to drive together
Rahasia Tekanan Berlebihan.––Jika ini hanya untuk menghindari keletihan dan pergumulan terus-menerus antara tugas dan kecenderungan alami manusia, penting bagi ibu untuk menyiapkan dirinya untuk memastikan dirinya agar anaknya tidak terbiasa melewatkan pelajaran tanpa sepenuh hati dan usaha. Ini sebenarnya bukan hal yang sulit; yang menjadi tantangan adalah ibu perlu waspada sejak awal terhadap kebiasaan buruk, yaitu kurangnya perhatian penuh pada pelajaran.
Baru-baru ini, telah banyak dibahas mengenai akibat dari tekanan yang berlebihan, dan kita sudah mengetahui satu atau dua hal penyebabnya. Salah satu penyebab yang berkembang pesat sehingga mengakibatkan kelelahan adalah kebiasaan yang buruk dalam memperhatikan. Kita semua bisa jujur mengakui bahwa bukan keberhasilan yang membuat kita lelah, tetapi kegagalan kita untuk sepenuhnya fokus yang justru menguras energi kita. Ditambah dengan pikiran yang mengembara, rasa khawatir, dan tergesa-gesa untuk menyelesaikan tugas, itulah yang benar-benar membuat kita lelah.
Hal ini hampir bisa dikatakan sebagai penyebab utama kegagalan yang dialami para siswa-siswi pada umumnya dalam belajar dan mengerjakan tugas: pikiran yang melayang ke sana kemari membuat anak tidak memahami pelajaran dengan baik pada waktu itu. Pelajaran itu terasa seperti pekerjaan yang tidak pernah selesai, yang harus dilakukan berulang kali tetapi tidak ada kemajuan nyata. Kurangnya perhatian akan jauh lebih melelahkan daripada menerima pelajaran dengan penuh konsentrasi.
Pekerjaan Rumah Bagi Anak Sekolah
Dalam hal pekerjaan rumah, orang tua mungkin berguna dalam membantu mengingatkan anak-anak mereka setelah mereka mulai bersekolah. Namun, bukan dalam membantu mereka mengerjakan tugas tersebut, karena hal itu tidak perlu. Misalnya, kita bisa membayangkan sebuah situasi: ‘Annie yang malang tidak menyelesaikan pelajarannya sampai jam setengah sembilan malam; dia sebenarnya punya banyak pekerjaan,’ atau ‘Tom yang terus berkutat dengan bukunya sampai jam sepuluh malam; kami hampir tidak melihat anak-anak di malam hari (mereka begitu sibuk),’ kata orang tua yang khawatir. Namun, mereka tetap membiarkan anak-anak mereka mengikuti kebiasaan yang benar-benar merusak kesehatan tubuh dan kekuatan otak mereka.
Aktivitas yang Baik Membantu Anak untuk Tidak Membuang-buang Waktu di Rumah .–– Saat ini, kesalahan jarang terjadi pada buku pelajaran, tetapi pada anak-anak itu sendiri. Mereka terus-menerus melamun sambil melihat buku mereka, dan dengan sedikit aktivitas yang baik di rumah akan membantu mengatasi kebiasaan itu. Berikan mereka waktu paling lama satu setengah jam untuk mengerjakan tugas mereka. Perlakukan mereka dengan tenang sebagai orang yang tidak menyelesaikan tugas jika mereka tidak muncul atau selesai tepat waktu; jangan tertipu atau kecohan dalam kata-kata memohon atau ekspresi muka sedih mereka; dan saat waktu pelajaran selesai, mulailah ajak mereka untuk bermain atau membaca buku cerita yang menyenangkan di ruang keluarga.
Perlahan-lahan mereka akan menyadari bahwa mereka dapat menyelesaikan pelajaran tepat pada waktunya untuk mendapatkan malam yang menyenangkan setelahnya, dan pelajaran akan jauh lebih baik jika dikerjakan dengan perhatian yang terfokus.
Perlu diketahui pula sebenarnya kebiasaan memberikan pekerjaan rumah, setidaknya kepada anak-anak di bawah usia empat belas tahun, sangat tidak dianjurkan. Kebaikan dari kombinasi kehidupan rumah dan sekolah hilang bagi anak-anak; dan skema tugas sekolah yang sangat lengkap dapat dilaksanakan di pagi hari.
Imbalan dan Hukuman harus merupakan Konsekuensi dari Perilaku yang relatif.––Dalam mempertimbangkan cara untuk memastikan kebiasaan penuh perhatian, kita perlu mengacu pada disiplin–– dengan pengaturan imbalan dan hukuman,–– bagian yang setiap pengasuh dan guru taman kanak-kanak merasa dirinya sangat kompeten untuk melakukannya. Namun mengenai hal ini juga mempunyai aspek ilmiahnya: terdapat hukum yang mengatur semua imbalan dan hukuman: Imbalan dan hukuman harus bersifat alami, atau setidaknya menjadi konsekuensi yang wajar dari perilaku; konsekuensi itu harus mencerminkan, sejauh mungkin tanpa merugikan anak, perlakuan yang wajar dan diterima atas perilaku tersebut di kehidupan nyata.
Nona Edgeworth menuliskan sebuah cerita berjudul Rosamond and Purple Jar*, menyentuh prinsip yang benar, meski menceritakan kejadian dengan agak berlebihan. Seorang gadis kecil tidak selalu mendambakan sebuah stoples ungu di jendela apotek; namun cerita ini menunjukkan bahwa kita harus menderita karena keputusan kita untuk mendapatkan apa yang tidak perlu, sementara kita malah tidak mendapatkan apa yang benar-benar kita perlukan, justru merupakan salah satu pelajaran hidup yang harus kita pahami, dan oleh karena itu pelajaran ini sangat tepat untuk diajarkan kepada seorang anak.
Konsekuensi Alami dan Pilihan. –– Jelaslah bahwa untuk memberikan penghargaan dan hukuman berdasarkan prinsip ini memerlukan pertimbangan yang sabar dan tekad yang mantap dari pihak ibu. Dia harus memikirkan sendiri kekeliruan sifat bawaan apa yang menyebabkan kelakuan buruk anak itu; dia harus mengarahkan hukumannya pada kesalahan itu, dan harus menguatkan dirinya untuk melihat anaknya menderita kerugian saat ini demi keuntungan jangka panjangnya.
Memang benar, sangat sedikit hukuman yang diperlukan jika anak-anak dibesarkan dengan penuh perhatian. Tapi ini terjadi terus menerus –– anak yang telah melakukannya kita akan mendapatkan imbalan alami (seperti sepuluh menit di taman), yang akan hilang jika anak berbuat kurang baik; dan sang ibu harus menguatkan dirinya dan anaknya untuk menanggung kesalahan saat ini; jika dia menyamakan kedua anaknya, dia melakukan kesalahan yang serius, bukan terhadap anak yang telah berbuat baik, tetapi terhadap anak yang mangkir, yang dengan sengaja ibu dorong untuk mengulangi kesalahannya. Dalam menempatkan anaknya di bawah disiplin konsekuensi, ibu harus menggunakan banyak pertimbangan dan kebijaksanaan.
Dalam banyak kasus, konsekuensi alamiah dari kesalahan anak adalah hal yang harus dihindarinya, sementara, pada saat yang sama, ia mencari beberapa konsekuensi yang berkaitan dengan kesalahan tersebut yang akan mempunyai dampak pendidikan pada anak: misalnya, jika seorang anak laki-laki mengabaikan pelajarannya, konsekuensi wajarnya adalah dia tetap bodoh; namun membiarkan anak melakukan hal tersebut merupakan tindakan kriminal yang diabaikan oleh orang tua.
