CVII. KOLOSSUS RHODES

Ketika Perdiccas meninggal, An-tig’o-nus (“yang bermata satu”) menjadi penerusnya, dan menjadi gubernur di semua provinsi Timur. Ketika didengarnya bahwa Cassander telah membunuh keluarga Alexander, ia berangkat bersama pasukannya ke arah barat, berniat untuk membalas kejahatan itu.

Dalam perjalanannya, Antigonus melewati Syria, negeri yang dikuasai oleh Se-leu’cus, dan bertanya kepada penguasa itu bagaimana dia mengelola uang kerajaan. Seleucus, yang memiliki hati nurani yang buruk, bukannya menjawab, malah melarikan diri ke Mesir, di mana ia menjadi teman Ptolemy.

Kemudian, karena kuatir mereka tidak akan mampu melawan Antigonus, kedua jenderal ini membujuk Cassander, penguasa Makedonia, dan Ly-sim’a-chus, penguasa Thrace, untuk bergabung dengan mereka.

Selama beberapa tahun perang terus berlanjut antara empat sekutu lawan satu, dan Antigonus dan putranya De-me’tri-us di sisi lain. Medan pertempuran terutama di Asia Kecil. Pertempuran berlanjut sampai para jenderal menjadi lelah berperang, dan memutuskan untuk berdamai.

Sebuah perjanjian kemudian ditandatangani, menyelesaikan klaim semua pihak, dengan ketentuan bahwa semua kota Yunani harus memiliki kemerdekaan mereka. Semua hal itu telah selesai dilakukan, masing-masing kembali ke provinsinya sendiri; tapi segera menjadi jelas bahwa perdamaian tidak akan bertahan lama, karena Cassander tidak menepati janjinya untuk membuat negara-negara Yunani merdeka.

Ketika kecurangan Cassander diketahui, Demetrius memanggil para jenderal dan merencanakan untuk membuat Cassander menepati janjinya. Orang Athena sangat senang ketika mereka mendengar tentang hal ini, dan mereka menerima Demetrius dengan senang hati.

 

Deetrius adalah seorang jenderal yang handal sehingga dia segera berhasil mengalahkan Cassander di Thermopylae; dan ketika dia kembali ke Athena dengan penuh kemenangan, orang-orang bersorak kegirangan dan memberinya gelar “Sang Pelindung,” (“The Preserver,”) disebut selama satu bulan bersama namanya, menempatkannya di dalam Parthenon, dan memujanya sebagai dewa. Beberapa waktu setelah ini, Demetrius menaklukkan Ptolemy, yang telah menunjukkan bahwa dia juga tidak akan mematuhi perjanjian itu. Kemenangan ini sangat hebat, sehingga para prajurit Demetrius mengatakan dia pantas mendapatkan hadiah, dan menyebutnya Raja Syria.

Ketika jenderal lain mendengar bahwa Demetrius dan ayahnya telah menerima gelar raja, mereka juga memakai mahkota kerajaan masing-masing. Kemudian, sekali lagi perang terjadi karena mereka saling iri dengki dan masing-masing ingin memperluas wilayah kekuasannnya.

Demetrius, yang sangat beruntung dalam semua perangnya, sekarang berencana untuk mengambil Pulau Rhodes dari Ptolemy, Raja Mesir. Namun ternyata terbukti bahwa hal itu tidaklah semudah yang dia bayangkan. Setelah satu tahun penuh mengepung kota itu tapi tak berhasil merebutnya, ia menyerah.

Tapi dia telah menciptakan begitu banyak mesin (persenjataan) yang dia coba untuk menaklukkan kota Rhodes, hingga setiap orang mengira dia pantas mendapatkan banyak pujian, dan mereka menjulukinya Po-li-or-ce’tes (“penakluk kota”).

Perdamaian disepakati, dan Demetrius mundur, menyerahkan semua persenjataannya pada orang-orang Rho’des. Persenjataan perang itu dijual seharga tiga ratus talenta (lebih dari tiga ratus ribu dolar), dan uang yang diperoleh digunakan untuk mendirikan sebuah patung kolosal untuk menghormati Apollo (atau He’li-os), dewa pelindung pulau itu.

[Ilustrasi: Demetrius Poliorcetes. (Koin.)]
Patung yang terbuat dari kuningan, yang sangat luar biasa ini, kini merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno, mewakili dewa matahari, dengan kepala dikelilingi oleh pancaran cahaya, dan dengan kakinya bertumpu satu di setiap sisi pintu masuk pelabuhan.

Kami diberitahu bahwa Co-los’sus Rhodes, seperti patung ini pada umumnya disebut, sangat tinggi sehingga kapal dengan layar penuh pun dengan mudah lewat di bawah kakinya yang terbentang masuk dan keluar pelabuhan.

Patung itu berdiri di sana selama sekitar enam puluh tahun, hingga digulingkan oleh gempa bumi. Setelah tergeletak di reruntuhan untuk waktu yang lama, kuningan itu dijual sebagai logam tua, dibawa dengan punggung unta, dan dikatakan bahwa diperlukan sembilan ratus unta untuk pekerjaan itu.

Maka lenyaplah salah satu keajaiban dunia kuno yang banyak dibicarakan. Yang lainnya adalah Kuil Diana di Efesus, Makam Mau-so’lus (yang sangat bagus sehingga setiap makam yang indah kadang-kadang disebut mausoleum), the Pha’ros atau Mercusuar Alexandria atau Messina, Tembok dan Taman Gantung Babel, Labirin Kreta, dan Piramida Mesir. Sering pula ditambahkan Parthenon di Athena, seperti yang telah kau lihat,  dihiasi oleh ukiran Phidias.

Leave a Comment

error: Content is protected !!