Enam Tahun Pertama

Narasi atas Home Education vol.1 pg 178

Kita tentu tidak asing mendengar istilah “golden age” atau masa keemasan anak, yang berlangsung selama lima tahun pertama kehidupannya. Pada fase ini, anak-anak dikenal sebagai peniru ulung, otaknya serupa spons yang dengan cepat menyerap apapun yang dipaparkan kepadanya.

Para orangtua pun tak mau kehilangan kesempatan ini. Mereka berupaya memenuhi kebutuhan anak-anak, tidak hanya nutrisi untuk pertumbuhan fisiknya tetapi juga mengajarkan beragam bahasa, ilmu pengetahuan, dan keterampilan. Terbukti, anak-anak usia dini memang sangat cepat belajar. Dari hari ke hari, kita bisa melihat progress yang sangat signifikan pada kemampuan mereka belajar banyak hal.

Upaya orangtua mengoptimalkan fase ini tentu dapat dipahami, setiap orangtua ingin anaknya menjadi yang terbaik. Namun lama kelamaan hal ini seolah menjadi kompetisi, berlomba-lomba menjejalkan anak dengan pengetahuan dan skill sedini mungkin -sebelum usia mereka 6 tahun — sebelum mereka kehilangan momentum.

“In this time of extraordinary pressure, educational and social, perhaps a mother’s first duty to her children is to secure for them a quiet growing time, a full six years of passive receptive life, the waking part of it for the most spent out in the fresh air.”

Sulit dipercaya bahwa Charlotte Mason menulis ini 200 tahun lalu, karena sepertinya hingga kini keadaan itu pun masih relevan. Artinya, sejak dulu anak-anak usia dini sudah mendapatkan tekanan dari masyarakat (dan orangtuanya) untuk “belajar” sebanyak mungkin.

Sungguh menggelitik manakala anak usia dini disuruh “belajar”. Bukankah seluruh aktivitas anak, yang dilakukan sambil bermain, sambil berantakin, sambil ngaduk-ngaduk, adalah belajar? Ia sedang belajar tentang dunianya. Jika paradigma kita tentang belajar hanyalah sebatas buku, pensil, abjad dan angka (calistung), sungguhlah sempit. Anak usia dini belajar menggunakan seluruh inderanya. Ia melihat, menggenggam, membau, meremas, merobek, memasukkannya ke mulut, menginjak, untuk mengetahui, benda apakah itu? Semuanya hal baru baginya. Ia memanjat, berlari, melompat di atas genangan air, berayun, bahkan jatuh, juga untuk mengenal tubuhnya. Ia mengeksplorasi sambil bermain, ia belajar sambil bermain.

Huruf, angka, membaca dan berhitung adalah kemampuan mental yang hanya bisa ia pahami jika ia sudah mengenal hal-hal yang bersifat konkret.

Maksudnya gimana, huruf A yang berbentuk segitiga itu bunyinya “A”? Terus huruf “a” kecil beda bentuk tapi bunyinya sama. Terus huruf alif dalam aksara Arab juga dibaca “a”. Bagaimana anak dapat memahami perbedaan huruf “b” “d” “p” “q” yang satu gendutnya di atas, di bawah, di kanan, kiri, kalau dia belum pernah belajar soal yang mana atas, bawah, kanan, kiri? Kenapa lima huruf m-a-n-d-i bisa merepresentasikan kegiatan guyur-guyur badan?

Anak belajar kanan-kiri, atas-bawah, dari keseharian. Misalnya ketika ia berlari atau naik sepeda, kita akan memberitahunya, belok kanan, belok kiri. Misalnya dia bilang, Ma gigiku ada yang sakit. Oh ya, gigi yang mana, yang atas atau bawah? Mengenal arah dan letak posisi tubuhnya, merupakan suatu proses pembelajaran yang kompleks di dalam otaknya.

Terus, maksudnya gimana, kok angka “2” itu bisa disebut dua, dan untuk menyebut jumlah dua? Terus kenapa kok angka “10” yang berjumlah dua digit, tapi digunakan untuk menyebut jumlah jari tangan yang ada banyak? “100” juga angkanya cuma ada 3 tapi kenapa kok bisa dipakai untuk merepresentasikan benda yang banyak banget?

Bagaimana mungkin kita mengharap dia memahami metamorfosis 4 tahap pada kupu-kupu, jika dia sendiri tidak pernah melihat keajaiban itu? Mengapa kita meminta mereka menghafal dan memahami definisi tanaman dikotil, monokotil, hewan ovipar-vivipar-ovovivipar, jika dia tidak pernah berinteraksi dengan alam secara riil?

Kita tidak bisa berharap ia mengerti konsep-konsep abstrak jika kita tidak pernah membiarkan ia terpapar dengan hal-hal konkrit.

Dalam metode pendidikan Charlotte Mason, anak usia dini berhak atas pendidikan yang liberal, tanpa banyak aturan, ceramah, dan kekangan. Fase akademis terstruktur baru boleh diterapkan setelah usia 6 tahun, atau lebih baik, usia 7 tahun.

Dalam tarbiyyah Islam, kita mengenal fase tamyiz/ mumayyiz, yaitu ketika anak memasuki usia 7 tahun. Pada fase ini, anak sudah mulai bisa membedakan antara benar dan salah. Fase ini juga sering disebut sebagai “masa tenang” di mana anak sudah mulai bisa duduk lebih lama, rentang konsentrasinya pun lebih panjang sehingga inilah saat yang tepat untuk mengajarkannya segala sesuatu, memberikan instruksi, dan memperkenalkannya dengan rutinitas. Itulah sebabnya, di usia inilah masuk perintah solat.

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya.” (HR Abu Dawud)

Sehingga tentu bukan tanpa alasan ketika pemerintah pun menetapkan usia masuk Sekolah Dasar di Indonesia adalah 7 tahun, atau tidak kurang dari 6 tahun. Ada suatu hukum alam, fakta saintifik yang mesti kita pertimbangkan sebelum membebankan setumpuk aktivitas dan segunung ekspektasi pada tubuh mungilnya. Adanya ketentuan usia tersebut pastilah mengacu pada kesiapan anak untuk belajar di sekolah, atau dalam jadwal teratur.

Lalu apa saja yang harus kita lakukan sebagai orangtua di enam tahun pertama anak?

Pertama, anak manusia sebagai mamalia, sangat membutuhkan kehangatan, kasih sayang dan sentuhan dari orangtuanya. Selain menyusui hingga dua tahun, banyak-banyaklah peluk, cium, pangku anak-anak kita. Sentuhan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan emosionalnya. Kepercayaan diri, empati, kemampuan meregulasi emosi negatif, dipupuk sejak dini. Anak yang banyak mendapatkan sentuhan kasih sayang pada tahun-tahun pertamanya akan tumbuh dengan rasa tenang dan aman, sehingga ia lebih percaya diri dan berani menghadapi dunia.

Kedua, sering-sering ajak dia bicara. Dulu aku terkesan sekali ketika melihat sahabatku yang terus menerus berbicara, menyanyi, untuk kedua anaknya yang masih bayi, tak peduli suasana hatinya sendiri. Walaupun ia sendiri sedang capek, gerah, sedang berada di bus yang panas, tetapi ia tak berhenti-berhenti bernyanyi untuk kedua anaknya yang terlihat tenang setiap mendengar suara Bundanya. “Siap-siap deh jadi radio rusak, bunyiiii terus,” katanya ketika mengunjungiku waktu baru melahirkan Ali.

Adalah Dr Brenda Fitzgerald, yang telah melakukan riset selama puluhan tahun lamanya, dan menemukan bahwa salah satu faktor penting yang memicu kecerdasan anak adalah stimulasi bahasa. Coba tonton di sini, talk to your baby. Tak peduli status finansial dan ekonomi, jika kamu bisa terus menerus mengajak bayimu berbicara, memperdengarkannya banyak kosakata dan intonasi, maka semakin banyak kabel yang tersambung dalam otaknya yang sedang berkembang pesat.

CM merekomendasikan orangtua agar banyak membacakan buku untuk anak-anak. Bukan sembarang buku, ia ingin para orangtua membacakan living books, buku-buku terbaik yang mampu memperkaya kosakata anak, menghidupkan daya imajinasi, memantik ide, tanpa menggurui. Ia sangat menghargai akal budi anak yang seperti spons itu, maka selayaknya kita hanya memberikan diet ide terbaik, dan tidak mencadel-cadelkan segala macam bahasa dan pengetahuan, hanya karena kita menganggapnya masih kecil.

We put into the children’s hands lesson-books with pretty pictures and easy talk, almost as good as story-books; but we do not see that, after all, we are but giving the same little pills of knowledge in the form of a weak and copious diluent. Teachers, and even parents, who are careful enough about their children’s diet, are so reckless as to the sort of mental aliment offered to them, that I am exceedingly anxious to secure consideration for this question, of the lessons and literature proper for the little people.

Saat tiba nanti waktunya ia mengenal alfabet, belajar mengeja dan akhirnya membaca, banyak kata yang bisa ia baca tanpa harus mengeja. Karena ia sudah sering mendengarnya. Aku jadi ingat, kedua anakku yang nyaris tidak ngomong apa-apa sampai usia 2 tahun, tapi begitu sudah melewati ulang tahunnya yang kedua, tiba-tiba DHUARR terjadilah ledakan kosakata dan mereka jadi bawel banget ngomong melulu. Mereka menyimpan semua yang pernah mereka dengar dan mengekspresikannya di waktu yang ia tentukan sendiri.

Aku yakin, kemampuan membaca pun demikian.

Yang mesti kita pahami, membaca bukanlah sekadar mengeja huruf. Membaca itu perlu untuk memahami pengetahuan. Maka kemampuan membaca tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan literasi dan minat baca. Membaca kan tidak sampai usia SD saja, tidak berhenti pada mengeja huruf dan mengerjakan soal. Ada banyak literatur sastra, sejarah, jurnal ilmiah, ensiklopedia, yang menunggu untuk dibaca. Tujuan jangka panjang kita, ketika mengajarkan anak membaca tentu bukan hanya supaya dia bisa membaca menu di tukang bakso. Ada banyak buku-buku tebal magnum opus para pemikir besar yang menunggu untuk diselami.

Aku sudah mengumpulkan banyak testimoni dari para orangtua yang baru mengajarkan anaknya membaca pada usia 7 tahun, atau lebih. Hasilnya, menurut mereka, jauuuuh lebih mudah daripada mengajarkan anak usia 4 atau 5. Aku pun mengalami sendiri, pernah mengajar baca anak laki-laki umur 9 tahun, sangat mudah dan cepat. Artinya, bersabarlah dan tunggu satu-dua tahun sampai ia siap. Kalau ia disuruh belajar baca sampai nangis-nangis, besar kemungkinan ia belum siap. Capek hati dua-duanya dan mungkin tidak akan nyangkut apa-apa, malah bisa menumbuhkan trauma dan kebencian terhadap aktivitas membaca itu tadi. Bukan itu yang kita cita-citakan. Lebih lanjut, aku rekomendasikan teman-teman baca artikel ini.

Ketiga, bawalah anak sesering mungkin untuk berinteraksi dengan alam. Alam terbuka adalah tempat terbaik bagi anak-anak usia dini untuk bermain dan bereksplorasi. Alam mengundang anak untuk belajar, dengan cara yang paling lembut, paling menyenangkan.

Alam menyediakan semua yang ia butuhkan untuk dilihat, diendus, didengar, diraba, dikecap. Berbagai tekstur, berbagai bentuk dan ukuran, berbagai gradasi warna mengundang anak untuk mengamatinya. Suatu hari nanti, ketika tiba saatnya dia mempelajari istilah saintifik dari makhluk dan peristiwa alam yang ia amati sejak kecil, rasanya seolah berjumpa lagi dengan kawan lama. Sungguh suatu perumpamaan yang indah.

The child who spends an hour in watching the ways of some new ‘grub’ he has come upon will be a man of mark yet… its colour, shape, legs: some day he will come across the name of the creature, and will recognise the description of an old friend.

Di alam terbuka, anak-anak usia dini tidak perlu “behave”. Mereka boleh berguling-guling di atas rumput, memanjat pohon, nyemplung di sungai atau lumpur. Sesuai dengan karakteristik mereka yang tidak mau diam, seperti belatung nangka yang uget-uget terus, di alam mereka bebas melakukan itu. Jika kita memahami urgensi bermain di alam, kita pun tidak perlu terlalu sering berteriak, awas kejedot, awas jatuh, awas kotor, awas basah, karena memang di sini mereka boleh merasakan semuanya. Mereka boleh lari, teriak-teriak, lompat-lompat, tentunya dalam pengawasan kita.

Bukan berarti kita membiarkan mereka begitu saja tanpa pengawasan, bermain di alam akan lebih berarti dengan kehadiran orangtua yang mendampingi, memantik rasa ingin tahu dan perhatian mereka. “Kak, lihat sini deh, Mama nemu sesuatu! Apa ya ini? Seperti kulit belalang, tapi belalangnya sudah tidak ada! Apa ini belalang mati? Atau ini kulit lama belalang, belalang ganti kulit juga kah? Coba lihat ada garis lurus di bagian punggungnya, apa dari sini belalangnya keluar?”

Dan seterusnya. Temuan yang memantik bukan hanya rasa penasaran anak, tetapi juga aku. Di rumah, kami mencari tahu di internet. Aku sendiri juga baru tahu kalau belalang ganti kulit.

Aku pernah berbincang dengan seorang psikolog anak yang khusus mempelajari soal sensori integrasi pada anak. Ia mengkhawatirkan anak-anak perkotaan kini yang banyak tinggal di apartemen, main ke mall, atau di rumah saja bersama gawai. Sedikit sekali mereka berinteraksi dengan lingkungan alami. Hal ini sangat berpotensi menimbulkan masalah pada tumbuh kembangnya. Anak-anak yang sering bermain di alam mungkin akan berkulit gelap, tubuhnya lebih ramping, banyak luka dan kotor, tetapi mereka akan tumbuh menjadi anak-anak kuat yang berani dan percaya diri, serta penuh rasa ingin tahu, tidak takut mencoba hal baru.

Anak-anak yang hanya bersentuhan permukaan halus dan lembut, tidak pernah bertelanjang kaki menginjak rumput, bebatuan, dan lumpur, akan mengalami kecemasan saat mereka menyentuh permukaan bertekstur kasar dan keras. Psikolog ini bahkan berkata, banyak anak yang tidak bisa berkonsentrasi di sekolah karena di sekolah mereka harus duduk tegak dalam waktu lama di bangku kayu yang keras. Tulisan mereka jelek, nilai mereka jeblok, ternyata bukan karena mereka tidak pintar tetapi karena mereka tidak terbiasa duduk di bangku kayu. Di rumah, mereka bersandar di sofa atau beraktivitas di atas alas karpet lembut.

Wow.

Keempat, adalah pembentukan kebiasaan baik. Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib. Ini adalah tugas pertama dan utama seorang ibu. Dibutuhkan kecermatan dan ketelatenan yang luar biasa. Setiap ibu pasti memahami perjuangan membiasakan anak pip dan pup di kamar mandi (toilet training). Itu adalah salah satu contoh membentuk kebiasaan anak usia dini. Bayangkan jika pada usia sekolah kebiasaan ini belum tuntas, alangkah malu dan repotnya.

Kebiasaan taat (habit of obedience), kebiasaan untuk memperhatikan (habit of attention), kebiasaan menyelesaikan tugas dengan sempurna (habit of perfect execution) adalah beberapa jenis kebiasaan yang ditekankan oleh Charlotte Mason. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang tampak remeh lain seperti menyikat gigi, makan sendiri, menyukai makanan sehat, duduk dan berjalan dengan tegak, menutup pintu, meletakkan benda ke tempat semula, tidak menyela pembicaraan, kebiasaan berkata jujur, adalah ibu yang bersusah payah menegakkannya dalam keseharian anak, jauh sebelum anak masuk ke sekolah. Dan sesugguhnya ia tidaklah remeh.

Anak dengan kebiasaan makan dan diet yang buruk, tentu akan mudah sakit. Ini jelas akan mengganggu proses belajarnya di sekolah. Anak yang memiliki postur duduk yang buruk, akan mudah merasa lelah dan tidak mampu berkonsentrasi saat harus duduk berjam-jam di dalam kelas. Anak yang sering berbohong dan tidak mau mendengarkan tentu akan menjadi sumber masalah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya.

Every day, every hour, the parents are either passively or actively forming those habits in their children upon which, more than upon anything else, future character and conduct depend.

Pendidikan adalah jalan teramat panjang dan berliku. Bukan sekadar sekolah, bukan sekadar calistung, bukan sekadar nilai A-B-C atau gelar akademis. Pendidikan berlangsung seumur hidup.

Anak manusia akan mengalami segala macam pergolakan sepanjang hidupnya. Kadang ia menjadi baik, kadang ia tergoda melakukan hal buruk. Tugas pendidikan yang sesungguhnya adalah untuk memastikan anak dapat selalu memilih jalan yang benar, meskipun sulit. Dan semua itu, pondasinya adalah pada usia dini, golden age, enam tahun pertama.

Berikut, poin-poin yang disematkan oleh Charlotte Mason terkait pembelajaran anak usia dini, yang mengilhami tulisan ini.

  1. That the knowledge most valuable to the child is that which he gets with his own eyes and ears and fingers (under direction) in the open air.
  2. That the claims of the schoolroom should not be allowed to encroach on the child’s right to long hours daily for exercise and investigation.
  3. That the child should be taken daily, if possible, to scenes — moor or meadow, park, common, or shore — where he may find new things to examine, and so add to his store of real knowledge. That the child’s observation should be directed to flower or boulder, bird or tree; that, in fact, he should be employed in gathering the common information which is the basis of scientific knowledge.
  4. That play, vigorous healthful play, is, in its turn, fully as important as lessons, as regards both bodily health and brain-power.
  5. That the child, though under supervision, should be left much to himself — both that he may go to work in his own way on the ideas that he receives, and also that he may be the more open to natural influences.
  6. That the happiness of the child is the condition of his progress; that his lessons should be joyous, and that occasions of friction in the schoolroom are greatly to be deprecated.

Leave a Comment

error: Content is protected !!