BAB LI PERJALANAN KE UJUNG DUNIA

“Pada suatu pagi, seorang anak laki-laki kecil seusia Jules yang penuh hasrat belajar sepertinya, mempersiapkan sebuah perjalanan. Tidak pernah ada seorang navigator bersiap untuk perjalanan melintasi lautan luas yang menunjukkan lebih banyak semangat dibanding dia. Kebutuhan pertama dalam ekspedisi panjang yaitu perbekalan, tidak dilupakan. Sarapan digandakan. Enam kacang, roti lapis mentega, dan dua apel ada di keranjang! Kemana seseorang bisa pergi tanpa semua itu? Keluarganya tidak diberitahu. Mereka mungkin telah menghalangi pengelana yang berani ini dari proyeknya dengan memperkenalkan dia pada bahaya-bahaya dari ekspedisi. Karena takut melunak di depan air mata ibunya, dia tetap diam. Dengan keranjang di tangan dan tanpa pamit kepada siapa pun, dia pergi. Segera dia berada di desa. Ke kiri atau ke kanan tidak ada bedanya baginya, semua jalan menuju ke mana dia ingin pergi.”

“Ke mana dia ingin pergi?” tanya Emile.

“Sampai ujung dunia. Dia mengambil jalan sebelah kanan, yang dibatasi oleh pagar tanaman hawthorn di mana kumbang hijau keemasan berdesir dan bersinar. Tetapi serangga-serangga cantik itu tidak menghentikannya sedetikpun, begitu pula ikan-ikan kecil berperut merah yang bermain di sungai kecil. Hari begitu singkat dan perjalanan begitu panjang! Dia terus berjalan lurus ke depan, terkadang memperpendek jarak dengan melintasi ladang. Pada akhir jam pertama, roti isi yang menjadi benda utama dalam perbekalan telah dimakan, meskipun bagaimana memakannya diatur oleh perhitungan ekonomi dari seorang musafir yang berhati-hati. Seperempat jam kemudian sebuah apel dan tiga kacang habis. Nafsu makan datang dengan cepat bagi mereka yang lelah. Begitu cepat sehingga di belokan jalan, di bawah naungan pohon willow besar, apel kedua dan tiga kacang yang tersisa dikeluarkan dari keranjang. Perbekalan sudah habis, dan (yang tak kalah penting) kakinya menolak untuk pergi. Bayangkan saja situasinya. Perjalanan telah berlangsung dua jam dan belum mendekati akhir yang dituju, tidak sedikitpun. Bocah laki-laki itu menelusuri kembali langkahnya, meyakinkan diri bahwa dengan kaki yang lebih kuat dan bekal lebih banyak dia akan berhasil dalam proyeknya di lain waktu.”

“Proyek apa ini?” tanya Jules.

“Sudah kubilang, anak pemberani itu ingin mencapai ujung dunia. Menurut idenya, langit adalah kubah biru yang terus turun sampai bersandar di tepi bumi, sehingga jika dia tiba di sana, dia harus berjalan membungkuk agar tidak membenturkan kepalanya ke cakrawala. Dia mulai dengan gagasan bahwa dia akan segera dapat menyentuh langit dengan tangannya, tetapi kubah biru yang mundur saat dia maju ini selalu berada pada ketinggian yang sama. Kelelahan dan kekurangan perbekalan membuatnya meninggalkan kelanjutan perjalanannya.”

“Jika aku tahu anak kecil itu,” kata Emile, “aku akan mencegahnya dari ekspedisinya. Seberapa jauh pun seseorang melangkah, tidak mungkin untuk menyentuh langit dengan tangan, bahkan dengan bantuan tangga tertinggi.”

“Kalau aku ingat, Emile tidak selalu berpikiran seperti itu,” kata pamannya.

“Itu benar, Paman. Seperti anak kecil yang telah Paman ceritakan, aku dulu percaya bahwa langit adalah penutup biru besar yang menutupi bumi. Jika berjalan dengan baik seseorang pasti mencapai tepi penutup dan ujung dunia. Aku juga berpikir bahwa matahari terbit di balik gunung-gunung ini dan terbenam di belakang gunung-gunung di sisi yang berlawanan, di mana ada sumur yang dalam tempat matahari terbenam dan tetap tersembunyi di malam hari. Suatu hari Paman membawaku ke pegunungan di mana tepi penutup biru itu tampaknya bersandar. Aku ingat itu jauh sekali, Paman meminjamkan tongkat yang membantuku berjalan. Aku tidak melihat ada sumur tempat matahari terbenam, semuanya tampak sama seperti di sini. Ujung langit tampaknya masih menempel di bumi, hanya lebih jauh lagi. Dan Paman memberitahuku bahwa dengan pergi ke ujung dari apa yang kita lihat, semakin jauh dan jauh, kita akan menemukan penampakan yang sama di mana-mana, dan tak akan pernah melihat ujung dari kubah yang sebenarnya tidak ada.”

“Seperti yang kalian bertiga ketahui, tidak ada tempat dimana langit bertumpu pada bumi, tidak ada bahaya membenturkan kepala ke cakrawala. Di mana-mana kubah biru itu memiliki penampilan yang sama seperti di sini. Kalian juga tahu, bahwa dalam perjalanan kalian akan bertemu dengan dataran, gunung, lembah, jalur air, laut, tetapi tidak ada penahan yang menandai batas dunia.”

“Bayangkan sebuah bola besar yang tergantung di udara dengan seutas benang, dan di atas bola ini ada seekor agas. Jika agas ini berkeinginan untuk pergi ke seluruh permukaan, bukankah benar bahwa ia bisa datang dan pergi melewati permukaan bola, di atas, di bawah, di samping, tanpa pernah menemui rintangan atau melihat pembatas naik ke atas menghalangi jalannya? Bukankah sama benarnya bahwa jika selalu terus ke arah yang sama, agas itu akan berakhir dengan membuat tur keliling bola dan akan kembali ke titik awalnya? Demikian pula dengan kita di permukaan bumi. Meskipun kita jauh lebih tidak berarti jika dibandingkan dengan dunia yang menopang kita daripada agas terkecil dibandingkan dengan bola terbesar yang dapat kamu bayangkan. Tanpa pernah menemui penghalang, tanpa pernah menyentuh cungkup langit, kita datang dan pergi dalam seribu arah yang berbeda, kita menyelesaikan perjalanan yang paling jauh, bahkan melakukan tur mengelilingi bumi dan kembali ke titik awal kita. Jadi, bumi itu bulat. Bumi adalah bola besar yang berenang tanpa penahan di ruang angkasa. Adapun kubah biru yang melengkung di atas kita, hanyalah penampakan yang disebabkan oleh warna biru udara yang menyelimuti bumi di semua sisinya.”

“Bola tempat agas imajiner Paman bergerak digantung oleh seutas benang. Dengan rantai apa bola bumi yang sangat besar itu digantung?’’ tanya Jules.

“Bumi tidak tergantung dari cakrawala oleh rantai langit mana pun, juga tidak bersandar pada penyangga apa pun, seperti globe geografis di alasnya. Menurut legenda India, bola bumi ditopang oleh empat tiang perunggu.”

“Lalu, di mana keempat kolom itu bertumpu?”

“Mereka bertumpu di atas empat gajah putih.”

“Dan gajah putih bertumpu dimana?”

“Mereka bertumpu di atas empat kura-kura raksasa.”

“Dan kura-kura bertumpu dimana?”

“Yah, mereka berenang di lautan susu.”

“Dan lautan susu bertumpu ke?”

“Legenda tidak mengatakan apa-apa tentang itu, dan tampaknya tepat untuk tidak melanjutkan. Akan lebih baik untuk tidak membayangkan semua penyangga yang beragam ini saling bertumpu untuk menopang bumi. Misalkan ada alas untuk bumi, lalu alas kedua untuk menopang yang pertama, lalu yang ketiga, keempat, keseribu, jika kamu suka. Semua itu hanya menunda pertanyaan tanpa menjawabnya, karena setelah mendirikan semua penyangga yang bisa dibayangkan, orang akhirnya pasti bertanya apa penahan yang terakhir. Mungkin kamu berpikir tentang kubah langit, yang mungkin menopang bumi dengan baik. Namun ketahuilah bahwa kubah ini tidak nyata, bahwa kubah itu tidak lain adalah penampakan yang disebabkan oleh udara. Selain itu, ribuan pengelana telah menjelajahi bumi ke segala arah dan tidak pernah melihat rantai yang menggantung atau alas bumi dalam bentuk apa pun. Di mana-mana mereka hanya melihat apa yang juga dilihat di sini. Bumi terisolasi di luar angkasa, berenang dalam kehampaan tanpa penyangga, seperti halnya bulan dan matahari.”

“Tapi, kalau begitu, kenapa tidak jatuh?” desak Jules.

“Jatuh, teman kecilku, adalah gerakan cepat ke bumi seperti yang dilakukan batu ketika diangkat tangan dan kemudian dilepaskan. Bagaimana bola besar ini bisa bergerak cepat ke bumi, padahal itu adalah seluruh bumi itu sendiri? Mungkinkah sesuatu bergerak menuju dirinya sendiri. ”

“Tidak.”

“Baiklah kalau begitu! Selain itu, bayangkan ini. Semuanya sama di seluruh daratan dunia. Nyatanya, tidak ada atas atau bawah, tidak ada kanan atau kiri. Kita menyebut atas arah yang menunjukkan ruang yang berbatasan dengan luar angkasa atau langit, tetapi ingat bahwa ada langit juga di sisi lain bumi, bahwa di sana sama seperti yang kita lihat di sini, dan ini berlaku untuk semua bagian permukaan bumi. Jika bagi kalian tampaknya cukup sederhana bahwa bumi tidak bergerak menuju langit yang ada di atas kita, mengapa kalian harus mengharapkannya untuk bergegas menuju langit yang berlawanan? Jatuh ke arah langit yang berlawanan berarti naik, seperti burung yang naik di sini, ketika dengan satu pukulan sayap ia terbang dan membubung tinggi di atas kita.”

Leave a Comment

error: Content is protected !!