BAB LII BUMI

”BUMI itu bulat, sebagaimana dibuktikan oleh fakta-fakta berikut. Dalam perjalanan ke sebuah kota, saat seorang musafir melintasi dataran di mana tidak ada yang menghalangi pandangannya, titik tertinggi kota, puncak menara dan gereja akan terlihat terlebih dahulu dari jarak tertentu. Dari jarak yang lebih dekat, puncak menara perlahan terlihat seluruhnya, kemudian atap bangunan itu sendiri. Penglihatan terus menangkap sejumlah besar objek, dimulai dari yang tertinggi dan berakhir dengan yang terendah, seiring dengan berkurangnya jarak. Lengkungan tanah adalah penyebabnya.”

Paman Paul mengambil pensil dan menggambar di atas kertas gambar yang kau lihat di sini, lalu melanjutkan, “Bagi pengamat di titik A, menara itu tidak terlihat karena lengkungan tanah menyembunyikan pandangan. Bagi pengamat di titik B, bagian atas menara terlihat, tetapi bagian bawahnya masih tersembunyi. Akhirnya, ketika pengamat berada di C, ia dapat melihat seluruh menara. Tidak akan seperti itu jika bumi ini datar. Dari kejauhan seluruh menara akan terlihat. Tidak diragukan lagi, saat jauh menara akan terlihat kurang jelas karena jarak daripada saat dekat, tapi menara itu bisa dilihat sedikit banyak baik dari atas ke bawah.”

Berikut adalah gambar lain dari Paman Paul, mewakili dua penonton, A dan B, yang ditempatkan pada jarak yang sangat berbeda, namun melihat menara dari atas ke bawah pada permukaan yang datar. Dia melanjutkan pembicaraannya.

“‘Di daratan kering, jarang bisa ditemukan permukaan yang luas dan keteraturannya bisa disesuaikan dengan pengamatan yang baru saja aku ceritakan. Hampir selalu ada bukit, punggung bukit, atau lapisan kehijauan yang menghalangi pandangan dan mencegah seseorang melihat pemandangan bertahap dari puncak ke dasar menara atau bangunan gereja yang didekati. Di laut tidak ada halangan yang menghalangi pandangan kecuali kecembungan air, yang mengikuti kelengkungan umum bumi. Oleh karena itu, di sana sangat lebih mudah untuk mempelajari fenomena yang dihasilkan oleh bentuk bumi yang bulat.

“Ketika sebuah kapal yang datang dari laut lepas mendekati pantai, petunjuk daratan pertama yang terlihat oleh mereka yang ada di atas kapal adalah titik tertinggi seperti puncak gunung. Kemudian puncak menara tinggi terlihat, tepi pantai itu sendiri masih lama setelahnya. Dengan cara yang sama seorang pengamat yang menyaksikan dari pantai kedatangan kapal dimulai dengan mengamati puncak tiang, kemudian layar atas, lalu layar di bawahnya lagli, dan akhirnya lambung kapal. Jika kapal berangkat dari pantai, pengamat akan melihatnya secara bertahap menghilang dan tampak terjun ke dalam air, semuanya dalam urutan terbalik. Artinya, lambung kapal pertama-tama akan disembunyikan dari pandangan, lalu layar bagian bawah, lalu layar yang tinggi, dan akhirnya puncak tiang utama menjadi yang terakhir menghilang. Empat goresan pensil akan membuatmu memahaminya.”

“Berapa luas bumi?” adalah pertanyaan berikutnya dari Jules.

“Bumi memiliki keliling 40 juta meter atau 10.000 league, karena satu league setara empat kilometer. Untuk mengelilingi meja bundar, kamu memegang tangan tiga, empat, atau lima orang. Untuk mengelilingi bumi yang luas dengan cara yang sama, dibutuhkan rantai orang yang kira-kira sama dengan seluruh penduduk Perancis. Seorang musafir yang dapat berjalan kaki hari demi hari dengan kecepatan sepuluh league (setara kurang lebih 40km) sehari, yang tidak dapat dilakukan oleh siapa pun, akan membutuhkan waktu tiga tahun untuk mengelilingi bola dunia, dengan anggapan bahwa semua adalah daratan dan tidak ada laut. Tapi, di mana urat lutut yang bisa menahan tiga tahun kelelahan terus-menerus seperti itu? Berjalan sejauh sepuluh league umumnya menghabiskan kekuatan kita dan membuat kita tidak mungkin untuk memulai lagi keesokan paginya.”

“Perjalanan terpanjang yang pernah kulakukan adalah ke hutan pinus, di mana kita pergi mencari sarang ulat prosesi pada hari badai petir. Berapa banyak league yang kita lalui?”

“Sekitar empat, dua untuk pergi dan dua untuk kembali.”

“Hanya empat league! Namun demikian aku telah melakukannya. Pada akhirnya aku hampir tidak bisa meletakkan satu kaki di depan yang lain. Maka, aku perlu waktu tujuh hingga delapan tahun untuk berkeliling dunia, berjalan setiap hari sejauh yang diizinkan oleh kekuatanku.”

“Perhitunganmu benar.”

“Jadi, bumi adalah bola yang sangat besar?”

“Ya, temanku, sangat besar. Contoh lain akan membantumu memahaminya. Mari kita gambarkan globe bumi dengan bola berdiameter lebih besar dari tinggi manusia—sebuah bola berdiameter dua meter. Kemudian, dalam proporsi yang tepat, dibuat relief pada permukaannya mewakili beberapa gunung utama. Gunung tertinggi di dunia adalah Gaurisankar, bagian dari rantai Himalaya, di Asia Tengah. Puncaknya mencapai ketinggian 8840 meter. Jarang ada awan yang cukup tinggi untuk memahkotai puncaknya, dan alasnya menutupi luasnya sebuah kerajaan. Aduh! Apalah manusia sebenarnya, di hadapan raksasa yang luar biasa itu! Baiklah, mari kita angkat raksasa itu di atas bola besar kita yang mewakili bumi, tahukah kalian apa yang dibutuhkan untuk mewakilinya? Butir pasir kecil yang akan hilang di antara jari-jarimu, sebutir pasir yang akan menonjol hanya satu sepertiga milimeter! Gunung raksasa yang meliputi kita begitu luas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bumi. Gunung tertinggi di Eropa, Mont Blanc, yang tingginya 4810 meter, akan diwakili oleh sebutir pasir yang hanya separuh besar pasir sebelumnya.

“Ketika Paman memberi tahu kami tentang kebulatan bumi,” kata Claire, “Aku memikirkan gunung-gunung besar dan lembah-lembah yang dalam, lalu bertanya pada diri sendiri bagaimana dengan semua ketidakteraturan besar ini, bumi tetap bulat. Aku melihat sekarang bahwa ketidakteraturan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luasnya bola dunia.”’

“Jeruk itu bulat meskipun ada kerutan di kulitnya. Itu sama dengan bumi yang bulat meskipun permukaannya tidak beraturan. Bumi adalah bola besar yang ditaburi butiran debu dan pasir yang sebanding dengan ukurannya, dan mereka ini adalah pegunungan.”

“Bola yang sangat besar!” seru Emile.

“Kalian mungkin percaya bahwa untuk mengukur keliling bumi bukanlah hal yang mudah. Namun mereka telah melakukan lebih dari itu, mereka telah menimbang bola yang sangat besar seolah-olah mungkin untuk memasukkannya ke dalam timbangan dengan kilogram untuk penyeimbang. Sains, anak-anakku yang terkasih, memiliki sumber daya yang menunjukkan  kekuatan pikiran manusia dengan segala kemegahannya. Bola luar biasa besar itu telah ditimbang. Bagaimana hal itu dilakukan tidak dapat dijelaskan kepada kalian hari ini. Tidak ada timbangan yang digunakan, tetapi itu dicapai dengan kekuatan pikiran yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita, untuk memecahkan teka-teki agung alam semesta dalam kemuliaanNya. Dengan kekuatan akal budi, mengukur beban bumi tidak terlalu sulit. Beban ini dinyatakan dengan angka 6 diikuti oleh dua puluh satu nol, atau 6 sextillion kilogram.”

“Angka itu tidak berarti apa-apa bagiku, itu terlalu besar,” kata Jules.

“Itulah masalahnya dengan semua jumlah besar. Mari kita mengatasi kesulitan ini. Bayangkan bumi diletakkan di atas mobil dan ditarik pada permukaan seperti jalanan kita. Untuk beban seperti itu, tim seperti apa yang bisa? Mari kita tampilkan sejuta kuda di depan, dan di depan barisan itu sejuta berikutnya. Kemudian baris ketiga, masih satu juta, sampai barisan keseratus, akhirnya keseribu. Dengan demikian, kita akan memiliki tim yang terdiri dari seribu juta kuda, lebih dari yang dapat diberi makan di semua padang rumput di dunia. Dan sekarang mulailah mencambuk. Tidak ada yang akan bergerak, anak-anakku, kekuatannya tidak akan mencukupi. Untuk menggerakkan massa sekolosal itu dibutuhkan upaya bersama dari seratus juta tim seperti itu!”

“Aku tidak memahaminya lebih baik,” kata Jules.

“Aku juga, itu sangat besar,” pamannya menyetujui.

“Ya, luar biasa besar, Paman.”

“Begitu besar sehingga pikiran tersesat di dalamnya,” kata Claire.

“Itulah yang aku ingin kamu akui,” pungkas Paman Paul.

Leave a Comment

error: Content is protected !!