BAB LXVI GEMPA BUMI

PAGI-PAGI semua tetangga sibuk membicarakan tentang topik yang sama dari pintu ke pintu. Sepertinya mereka berhasil melarikan diri dari suatu kejadian kurang menyenangkan pada malam hari. Jacques mengatakan bahwa sekitar pukul dua dia terbangun oleh lolongan ternaknya yang berulang-ulang dua atau tiga kali. Bahkan Azor sendiri, si Azor yang baik, begitu damai di kandangnya saat tidak ada hal serius yang mengganggunya, tadi malam meratap penuh duka. Jacques bangun dan menyalakan lenteranya, tetapi tidak dapat menemukan apa yang menyebabkan hewan-hewan tersebut bermasalah. 

Mama Ambroisine, yang tidur dengan satu mata terbuka, menceritakan kisah yang lebih panjang. Dia telah mendengar piring-piring berderak di meja dapur. Beberapa piring bahkan sudah terguling dan pecah jatuh ke tanah. Mama Ambroisine tadinya mengira itu mungkin kesalahan kucing, ketika dia merasa lengan yang kuat mencengkeram tempat tidur dan mengguncangnya dua kali dari kepala ke kaki dan dari kaki ke kepala. Kejadian itu berakhir dalam sekejap mata. Wanita yang hebat itu begitu ketakutan sehingga sambil menutupi kepalanya, dia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan.

 Mathieu dan putranya sedang pergi saat itu. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari pekan raya, dan melakukannya pada malam hari. Cuacanya bagus, tak ada angin dan terang bulan. Mereka sedang mengobrol tentang urusan mereka ketika terdengar suara samar-samar dan dalam, datang dari bawah tanah. Kedengarannya seperti raungan bendungan besar. Pada saat yang sama mereka terhuyung-huyung seolah-olah tanah telah runtuh di bawah mereka. Kemudian tidak ada lagi yang terjadi. Bulan terus bersinar, malam tenang dan tenteram. Begitu cepat berlalu sehingga Mathien dan putranya bertanya-tanya apakah mereka tidak memimpikannya.

 Ini adalah beberapa insiden serius yang saling terkait. Sementara itu ada yang berpindah dari mulut ke mulut, menggerakkan beberapa ke senyuman yang tidak percaya dan yang lain ke refleksi yang serius, yaitu kata mengerikan “gempa bumi”.

 Di malam hari Paman Paul dikelilingi oleh penontonnya yang sangat ingin mendapatkan penjelasan tentang berita besar hari itu.

“Benarkah, Paman,” tanya Jules, “bahwa bumi terkadang bergetar?”

“Tidak ada yang lebih benar, anakku sayang. Kadang di sini, kadang di tempat lain, tiba-tiba ada gerakan tanah. Di negara istimewa kita, kita jauh dari pemikiran akan pergolakan yang mengerikan dari bumi. Jika sesekali sedikit getaran terasa, akan dibicarakan selama berhari-hari penuh rasa ingin tahu, kemudian dilupakan. Banyak yang hari ini menceritakan peristiwa semalam tanpa terlalu menganggapnya penting, tidak tahu bahwa kekuatan yang ditunjukkan oleh gerakan ringan bumi dapat membawa bencana yang mengerikan, dalam kekuatannya yang brutal. Jacques telah memberitahu kalian tentang lenguhan para ternak dan kegaduhan Azor. Mama Ambroisine telah menceritakan pada kalian ketakutannya ketika tempat tidurnya diguncang dua kali. Dalam semua kisah itu tidak ada yang sangat menakutkan, tetapi gempa bumi tidak selalu tidak berbahaya. Sayangnya, tidak. Dan semoga Tuhan melindungi kita dari pengalaman menyedihkan itu!”

“Kalau begitu, gempa bumi yang sangat serius?” Jules bertanya lagi. “Bagiku, kupikir itu hanya berarti beberapa piring pecah dan beberapa perabotan tergeser.” 

“Sepertinya,” kata Claire, “jika gerakannya cukup kuat, bangunan akan runtuh. Tapi Paman akan memberi tahu kita tentang gempa bumi yang hebat.”

 “Gempa bumi sering didahului oleh suara-suara di bawah tanah, sebuah gemuruh yang membesar, mereda, membesar lagi, seolah-olah badai sedang meledak di kedalaman bumi. Pada saat terdengar gemuruh ini, penuh misteri yang mengancam, setiap makhluk menjadi diam, bisu karena ketakutan, dan menjadi pucat. Diperingatkan oleh instingnya, hewan-hewan akan terdiam membeku. Tiba-tiba bumi bergetar, membengkak, mereda lagi, berputar, retak terbuka, dan menunjukkan jurang yang menganga.” 

“Ya ampun!” seru Claire. “Dan apa yang terjadi pada orang-orang!” “Kamu akan melihat apa yang terjadi pada mereka dalam bencana yang mengerikan ini. Dari semua gempa bumi yang pernah terasa di Eropa, yang paling dahsyat adalah yang menghancurkan Lisbon pada tahun 1775, pada Hari All Saint. Tampaknya tidak ada bahaya yang mengancam kota yang tengah berpesta, ketika tiba-tiba terdengar dari bawah tanah gemuruh seperti guntur yang terus-menerus. Kemudian tanah terguncang keras beberapa kali, naik, turun, dan dalam sesaat ibu kota Portugal yang berpenduduk padat itu hanyalah tumpukan reruntuhan dan mayat. Orang-orang yang masih tersisa mencari perlindungan dari jatuhnya reruntuhan, mundur ke sebuah dermaga besar di pantai barat. Tiba-tiba dermaga itu tertelan air, menyeret kerumunan orang, perahu-perahu serta kapal-kapal yang tertambat di sana. Tak satupun korban, tak sepotong pun bangkai kapal yang kembali mengapung di permukaan. Sebuah jurang terbuka, menelan air, dermaga, kapal-kapal, orang-orang, dan menutup kembali, menyimpan mereka selamanya. Dalam enam menit enam puluh ribu orang tewas.

 “Sementara itu terjadi di Lisbon dan pegunungan tinggi Portugal berguncang, beberapa kota di Afrika, Maroko, Fez, Mequines hancur. Sebuah desa berpenduduk sepuluh ribu jiwa ditelan bersama seluruh penduduknya dalam jurang yang tiba-tiba terbuka dan tiba-tiba tertutup.” 

“Tidak pernah, Paman, aku pernah mendengar hal yang begitu mengerikan,” kata Jules.

“Dan aku tertawa,” kata Emile, “ketika Mama Ambroisine memberitahu kami tentang ketakutannya. Itu bukan sesuatu untuk ditertawakan. Jika itu adalah kehendak Tuhan, desa kami mungkin akan segera menghilang dari bumi bersama kami semua, seperti yang terjadi di Afrika.”

“Dengarkan ini juga,” lanjut Paman Paul. “Pada bulan Februari 1783, di Italia Selatan, guncangan demi guncangan berlangsung selama empat tahun. Selama tahun pertama saja terhitung ada sembilan ratus empat puluh sembilan guncangan. Permukaan tanah berkerut dalam gelombang yang bergerak seperti permukaan laut yang berbadai, dan di tanah yang tidak stabil ini orang merasa mual seperti berasa di atas dek sebuah kapal. Mabuk laut merajalela di darat. Pada setiap gelombang, awan yang sebenarnya tidak bergerak, tampak bergerak dengan cepat, seperti yang terjadi pada saat kita berada di kapal yang terombang-ambing oleh angin. Pepohonan membungkuk dalam gelombang bumi dan menyapu tanah dengan pucuknya.” 

“Dalam dua menit guncangan pertama menggulingkan sebagian besar kota, desa, dan distrik kecil di Italia Selatan, serta Sisilia. Seluruh permukaan daerah dihancurkan dalam kekacauan. Di beberapa tempat tanah terbelah dalam retakan-retakan, menyerupai retakan di panel kaca yang pecah dalam skala besar. Berbidang-bidang tanah yang luas, dengan ladang mereka yang telah ditanami, tempat tinggal mereka, tanaman-tanaman merambat, pohon-pohon zaitun, meluncur menuruni pegunungan dan menempuh jarak yang cukup jauh, sampai akhirnya menetap di tempat lain. Disini, bukit-bukit terbelah dua. Di sana, mereka tercerabut dari tempat asalnya dan dipindahkan ke bagian lain. Di tempat lain, tidak ada yang menopang tanah, sehingga daerah itu ditelan jurang yang menganga, membawa serta tempat tinggal, pohon-pohon, dan hewan-hewan, yang akhirnya tak pernah terlihat lagi. Di tempat-tempat lain lagi, corong-corong dalam yang penuh dengan pasir bergerak terbuka, membentuk rongga-rongga sangat luas yang segera diubah menjadi danau oleh aliran air bawah tanah. Diperkirakan lebih dari dua ratus danau, kolam, dan rawa-rawa yang mendadak terbentuk.

“Di beberapa bagian tanah tertentu yang dilembekkan oleh air yang keluar dari salurannya atau dibawa dari dalam celah-celah, berubah menjadi semburan lumpur yang menutupi dataran atau memenuhi lembah. Bagian atas pepohonan dan atap tanah pertanian yang hancur adalah satu-satunya hal yang terlihat di atas permukaan lumpur ini.

“Pada selang waktu tertentu, gempa tiba-tiba mengguncang tanah hingga sangat dalam. Guncangannya begitu dahsyat sehingga batuan jalan tercabik dari tempat tidurnya dan melompat ke udara. Batu sumur terbang keluar dari bawah permukaan dalam keadaan utuh, seperti menara kecil terlempar dari bumi. Ketika tanah naik dan terbelah, rumah, manusia, dan hewan langsung tertelan. Kemudian, tanah surut lagi, celah itu menutup sekali lagi, dan, tanpa meninggalkan sisa, semuanya menghilang, dihancurkan di antara dua dinding jurang saat mereka menutup bersama. Beberapa waktu kemudian, ketika setelah bencana, penggalian dilakukan untuk menemukan kembali benda-benda berharga yang hilang, para pekerja mengamati bahwa bangunan yang terkubur dan semua isinya menjadi satu massa yang padat, karena begitu kerasnya tekanan  dari catok yang dibentuk oleh dua tepi celah yang tertutup.”

 “Jumlah orang yang tewas dalam keadaan yang mengerikan ini diperkirakan delapan puluh ribu orang.”

“Sebagian besar korban ini terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhan rumah mereka, yang lainnya dilalap api yang muncul di reruntuhan ini setelah setiap guncangan. Sementara yang lainnya, melarikan diri ke berbagai daerah, tertelan jurang yang terbuka di bawah kaki mereka. 

“Melihat bencana seperti itu seharusnya membangkitkan rasa kasihan di hati bahkan orang-orang barbar. Namun siapa yang akan mempercayainya! – kecuali untuk tindakan kepahlawanan yang sangat sedikit, perilaku orang-orang itu sangatlah buruk. Para petani Calabria lari ke kota-kota, bukan untuk memberikan bantuan, tetapi untuk menjarah. Tanpa memperdulikan bahayanya, mereka melintasi jalan-jalan di tengah dinding yang terbakar dan awan debu, menendang dan merampok para korban bahkan sebelum napas meninggalkan tubuh mereka.” 

“Makhluk yang menyedihkan!” teriak Jules. “Berandal yang mengerikan. Ah, seandainya saja aku ada di sana!”

 “Seandainya kamu ada di sana, apa yang akan kamu lakukan, anakku yang malang! Ada banyak orang di sana dengan hati yang baik dan tinju yang lebih kuat daripada mu, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.” 

“Apakah orang-orang Calabria itu sangat jahat?” Emile bertanya.

“Dimana tak ada pendidikan, disanalah sifat kasar muncul di saat masalah hadir, tidak ada yang tahu dari mana, dan menakut-nakuti dunia dengan kekejaman mereka. Kisah lain akan mengajari kalian lebih banyak tentang petani Calabria.”

Leave a Comment

error: Content is protected !!