BAB VI DARWIS YANG CERDIK

Jules mengamati, “banyak bukit semut, besar dan kecil. “Di kebun ini aku bahkan menemukan selusin bukit semut. Jumlah mereka sangat banyak hingga ketika para semut keluar, jalanan menjadi berwarna hitam. Pasti butuh banyak sekali kutu tanaman untuk memberi makan koloni kecil itu. “

“Meskipun sangat banyak, jawab paman, ” Mereka tak akan pernah kekurangan karena jumlah kutunya lebih banyak dari pada jumlah semut. Saking banyaknya, keberadaan mereka sangat membahayakan panen. Para kutu mengibarkan bendera perang terhadap manusia. Beginilah kisahnya agar kalian paham:

“Dahulu ada seorang raja India yang merasa begitu bosan. Untuk menghiburnya, seorang darwis menciptakan permainan catur. Kalian belum tahu permainan ini. Di sebuah papan dengan kotak hitam putih berselang seling, dua pemain bertanding. Satu orang memegang pion-pion putih, yang lain pion-pion hitam. Setiap pion memiliki peran masing-masing: prajurit, satria, benteng, ratu dan raja. Baris pertama diisi oleh deretan prajurit yang selalu bertugas mengawali pertempuran. Raja yang terlindung agar tidak tumbang dikawal oleh pengawalnya menjauh dari medan laga. Selanjutnya para kuda bergerak menebaskan pedangnya ke kiri dan kanan. Menteri bahkan bertempur dengan semangat sementara benteng bergerak bebas melindungi pasukan. Kemenangan pun diraih. 

Dari pion hitam, ratu telah tersandera: raja kehilangan bentengnya. Satu Menteri dan satu kuda berjuang untuk menyelamatkan raja. Mereka pun menyerah. Raja terkalahkan. Pertandingan pun usai. 

“Permainan yang cerdas ini, yang menggambarkan perang, membuat senang raja yang bosan dan ia menawarkan hadiah pada Darwis: berapa hadiah yang ia inginkan dari permainan yang ia ciptakan. 

“Yang Mulia, jawab si pencipta permainan, hamba ini orang yang mudah puas. Berilah hamba sebutir gandum untuk kotak pertama dari papan catur, dua butir untuk kotak kedua, empat untuk kotak ketiga, delapan untuk kotak keempat, dan terus berlipat-lipat hingga kotak terakhir, yakni kotak ke-enam puluh empat. Cukuplah bagi hamba semua itu. Merpati biru hamba akan memiliki cukup gandum untuk beberapa hari. 

“Bodohnya orang ini, batin raja. Seharusnya ia meminta kekayaan yang banyak. Ia malah meminta segenggam gandum. 

Kemudian sang raja berkata kepada menteri nya, “Berikan sepuluh kantong emas untuk lelaki ini, juga sekarung gandum. Ia akan mendapatkan seratus kali lipat dari gandum yang ia minta. 

“Wahai pemimpin orang-orang setia, jawab  sang Darwis. Ambilah emas dan gandum itu. Berikan sajalah yang  Hamba minta.” 

” Baiklah, kau akan kuberi 100 karung. 

“Itu belum cukup. “

” Kalau begitu, seribu karung. “

“Tetap belum sesuai dengan jumlah di kotak-kotak catur.”

Sementara itu, punggawa istana saling berbisik, terheran-heran atas keinginan sang darwis yang yakin bahwa seribu karung gandum tidak sesuai dengan hitungan di papan catur. Raja yang tak sabar, memanggil orang-orang pintar untuk rapat dan menghitung jumlah gandum yang diinginkan sang darwis. 

Dari balik kumis tebalnya bibir sang darwis menyungging senyum culas, kemudian menyingkir dan menanti hasil rapat. 

Dan lihatlah, di kalkulator, angkanya berlipat, berkali-kali lipat. Hitung menghitung pun usai. Seseorang mendongak.  

“Wahai yang mulia, kami sudah menghitung, untuk memenuhi keinginan darwis gandum yang ada di lumbung-lumbung yang mulia tetap tidak mencukupi, bahkan di kota, di desa, karena jumlah yang diminta adalah jumlah yang ada di seluruh dunia. 

Raja dengan kesal menggigiti kumisnya dan karena tak berhasil menghitung berapa jumlah yang diberikan, ia mengangkatnya sebagai penasihat. Itulah yang diinginkan sang darwis. 

“Aku seperti sang raja kalo begitu yang terperangkap pada jebakan sang darwis bahwa menggandakan sebutir gandum enam puluh kali lipat sama dengan segenggam gandum.”

“Karena itu, ujar Paman Paul, kalian akan tahu bahwa melipatgandakan satu angka dengan angka yang sama, serupa dengan bola salju yang akan semakin membesar saat ia menggelinding dan sampai tiba waktunya, ia menjadi sangat besar dan usaha kita menggeser nya sia-sia.”

“Darwis yang paman ceritakan sangat cerdas,’ ujar Emilie. “Ia merendah dengan menginginkan hanya sebutir gandum untuk merpati-merpati birunya, asalkan mereka melipatgandakan jumlahnya di setiap kotak. Nampaknya, ia tak minta banyak: pada kenyataannya, ia  meminta lebih dari yang raja miliki. Darwis itu apa, paman?”

“Menurut agama di Timur darwis adalah mereka yang meninggalkan kehidupan duniawi dan mengabdikan dirinya untuk berdoa dan berzikir.”

“Paman bilang, raja menjadikan sang darwis penasihat raja. Apakah penasihat raja itu berkedudukan tinggi?

“Penasihat raja adalah perdana menteri. Setelah raja, darwis tersebut menjadi orang berkedudukan tinggi di negeri itu.”

“Sekarang aku tak lagi heran mengapa ia menolak sepuluh kantong berisi seribu koin emas. Ia menangguhkan diri untuk memperoleh yang lebih baik. Tetapi sebenarnya, sepuluh kantong itu jumlah yang banyak juga!”

“Satu koin emas setara dengan duapuluh franc. Dengan jumlah tersebut, Raja menawarkan uang sejumlah seratus dua puluh ribu franc, plus bersak-sak gandum.”

Dan sang darwis lebih memilih  enam puluh kali lipat gandum enam puluh empat pangkat dua”

“Dibandingkan dengan apa yang ditawarkan, jumlah itu tidak bernilai 

“ Kutu daun!

“Kisah Darwis membawa kita langsung pada cerita tentang para kutu.

 

Leave a Comment

error: Content is protected !!