BAB XLII KECEPATAN SUARA

“Di bawah awan putih yang kau sebut cumulus,” kata Emile, ”ada sebuah badai tepat saat ini. Kita hanya melihat petir dan mendengar guntur. Sementara disini, sebaliknya, langit berwarna biru. Jadi hujan tidak terjadi di saat yang sama di semua tempat. Saat hujan jatuh di suatu desa, di desa lain tidak. Dan lagi, saat terjadi hujan disini seluruh langit dipenuhi dengan awan-awan.”

“Kau hanya perlu menutupi matamu dengan tangan untuk menyembunyikan langit,” paman menjelaskan. “Awan meski lebih jauh, juga jauh lebih besar, dapat menghasilkan efek yang sama. Dia menyelubungi  semua yang mengelilingi kita dan membuatnya buram. Tapi itu hanyalah penampilan saja, di luar daerah yang diselubungi awan, langit mungkin cerah dan cuacanya luar biasa indah. Di bawah cumulus dimana guruh bergemuruh saat ini, kita bisa yakin sedang terjadi hujan, dan langit tampak gelap. Untuk orang-orang di daerah itu, sekeliling mereka hanya terlihat hujan, karena mereka dilingkupi awan. Jika mereka pergi ke tempat lain, di luar awan, mereka akan menemukan langit secerah di sini.”

“Mereka bisa melakukannya dengan kuda yang sangat cepat,” saran Emile,”pergi dari bawah awan-awan, meninggalkan hujan dan sampai di tempat yang cuacanya baik. Sama seperti mereka bisa meninggalkan sinar matahari dan masuk ke hujan di bawah awan.”

“Terkadang itu mungkin, namun seringnya tidak, karena awan bisa menutupi area yang sangat luas. Lagipula awan bergerak, mereka pergi dari satu kota ke kota lain, dengan kecepatan tinggi yang membuat penunggang kuda terbaik pun tak dapat mengejarnya. Kalian semua pernah melihat bayangan awan bergerak di tanah saat angin bertiup. Bukit, lembah, dataran, anak sungai, semua dilintasi dengan sangat cepat. Bayangan dari awan melewatimu saat kau sampai di puncak bukit. Sebelum kau mengambil tiga langkah menuruni lembah, bayangan itu dengan langkah raksasa-nya, sudah menaiki lereng di seberangnya. Siapakah yang dapat menyanjung dirinya dengan mengatakan bahwa dia bisa mengikuti awan dan tetap berada di bawahnya?”

“Terkadang, jika jatuh di sebuah kota yang sangat luas, tentu saja tak akan hujan total. Kalau pun dia menghujani seluruh provinsi bersamaan, apalah itu dibandingkan seluruh bumi? Sebuah gumpalan dibandingkan sebuah ladang luas. Diburu oleh angin, awan berlari kesana kemari di ruang atmosfer yang sangat luas. Mereka bepergian, dan sepanjang jalan mereka menjatuhkan bayangan atau menurunkan hujan. Dimana mereka lewatlah hujan turun, di tempat lain tidak. Di satu tempat pun mungkin ada dua keadaan, hujan dan cerah, tergantung bagian atas dan bawah awan. Kau tahu terkadang ada awan yang berada di bawah  puncak gunung. Dataran di bawah awan mungkin menerima siraman air yang kencang, sementara di puncak matahari bersinar tanpa setitikpun hujan.”

“Semua itu mudah dimengerti,” kata Jules. “Sekarang giliranku untuk bertanya padamu, Paman. Di awan badai yang kita bisa lihat dari sini, pertama ada kilatan petir, lalu setelah menunggu beberapa saat, suara guntur terdengar. Mengapa suara dan petirnya tidak datang bersamaan?”

“Ada dua hal yang memberitahu kita ada nya halilintar, cahaya dan suara. Cahayanya adalah kilatan petir, dan suaranya adalah guntur. Seperti halnya penembakan senjata api dimana ada cahaya yang dihasilkan dari pembakaran mesiu dan suara yang berasal dari hal yang sama. Untuk orang-orang yang berada di lokasi, ledakan cahaya dan suara datang serentak, tapi untuk orang-orang di kejauhan, sinar yang bisa bergerak dengan kecepatan yang tak dapat dibandingkan dengan apapun akan sampai sebelum suara yang bergerak lebih lambat. Jika kau memperhatikan penembakan senjata dari kejauhan, kau pertama melihat nyala dan asap ledakannya dan tidak mendengar letusannya sampai beberapa waktu setelahnya. Semakin jauh ledakannya, semakin lama terdengar suaranya. Cahaya bergerak sangat jauh dalam waktu yang sangat cepat. Oleh karenanya cahaya ledakan mencapai mata kita dengan segera setelah kejadian. Jika suara tidak datang dengan segera, itu karena suara bergerak kurang cepat dan untuk mencapai suatu jarak tertentu, membutuhkan waktu tertentu, yang mana mudah dihitung.”

“Misalkan sepuluh detik berlalu antara cahaya tembakan sebuah meriam dan kedatangan suaranya. Jarak dihitung dari tempat dimana letusan terjadi sampai tempat terdengarnya. Ditemukanlah jarak 3400 meter. Itu berarti, suara melintasi udara 340 meter dalam sedetik. Itu adalah kecepatan yang tinggi, dibandingkan dengan kecepatan bola meriamnya. Namun bukan apa-apa dibandingkan kecepatan cahaya yang tak terbayangkan.”

“Kecepatan yang berbeda antara suara dan cahaya disebabkan oleh beberapa hal. Dari kejauhan terlihat seorang penebang pohon memotong kayu, atau seorang tukang batu memotong batu. Kita melihat kapak memukul kayu, palu memukul batu, dan baru beberapa saat kemudian kita mendengar suaranya.”

“Suatu hari Minggu sebelum pergi ke gereja,” sela Jules, “aku sedang memperhatikan dari kejauhan dentangan lonceng. Aku melihat lidah lonceng memukul dan suaranya tidak langsung terdengar. Sekarang aku tahu alasannya.”

“Jika kau menghitung detik antara terlihatnya cahaya dan kapan guruh terdengar, kau bisa menghitung jarakmu dengan awan badai.” kata Paman.

“Apakah sedetik itu lama?” Emile bertanya.

“Sekitar sepanjang satu detak jantung. Yang bisa kita lakukan adalah menghitung detaknya, satu, dua, tiga, empat dan seterusnya tanpa terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lambat. Perhatikan cahaya kilat di atas awan badai cumulus dan hitung perlahan sampai kalian dengar gunturnya.”

Dengan mata yang waspada dan telinga yang penuh perhatian semua mulai mengobservasi. Akhirnya sebuah kilat terlihat. Satu–dua–tiga–empat–lima– Dalam hitungan ke dua belas, datanglah suara guntur, tapi sangat lemah sehingga mereka hanya mendengarnya perlahan.

“Butuh waktu dua belas detik untuk suara guntur sampai pada kita,” kata Paman Paul. “Berapa jauh asalnya jika suara bergerak 340 meter dalam 12 detik?”

“Kau mesti mengalikan 340 dengan 12,” jawab Claire.

“Baiklah nona, lakukan.”

Claire mulai menghitung. Hasilnya 4080 meter.

“Cahaya petir itu 4080 meter jauhnya, kita berada lebih dari satu liga laut dari awan badai,” kata pamannya.

“Betapa mudahnya itu!” seru Emile. “Kau menghitung satu, dua, tiga, empat, dan tanpa bergerak kau tahu berapa jauh asalnya halilintar itu.”

“Semakin panjang waktu antara cahaya dan suaranya, semakin jauh lah awan itu. Saat letusannya terdengar hampir sama dengan cahayanya, ledakannya berarti cukup dekat. Jules sangat tahu itu setelah badai di hutan pinus.”

“Aku pernah mendengar bahwa tak ada lagi bahaya setelah petir terlihat,” kata Claire.

“Halilintar sama cepatnya dengan cahaya. Oleh karenanya ledakan listrik itu berakhir segera setelah cahayanya terlihat, dan semua bahaya sudah berlalu. Gunturnya, betapapun kencang suaranya, tak akan berbahaya sama sekali.”

 

Leave a Comment

error: Content is protected !!