BAB XXXII JELATANG

Setelah makan siang, saat paman mereka membaca di bawah pohon chesnut, anak-anak menyebar di taman. Claire memperhatikan tanaman-tanaman seteknya, Jules mengairi vas-vasnya, dan Emile– Ah, si kepala-sembrono, apa yang terjadi padanya adalah kemalangan lain! Seekor kupu-kupu besar terbang diatas rumput-rumput liar yang tumbuh di kaki dinding. Oh, kupu-kupu yang luar biasa indah! Di bagian atas sayapnya berwarna merah, digarisi hitam, dengan mata berwarna biru besar. Di bagian bawah berwarna coklat dengan garis berombak. Dia hinggap. Bagus. Emile mengecilkan dirinya, mendekat perlahan berjinjit-jinjit, mengulurkan tangannya, dan, segera, kupu-kupu itu pergi.

Tapi perhatikan apa yang terjadi berikutnya. Emile segera menarik tangannya dengan cepat, rasanya sakit, warnanya kemerahan. Rasa sakit terus bertambah dan menjadi sangat buruk sehingga bocah lelaki malang itu lari ke pamannya, matanya bengkak karena tangis.

“Sebuah binatang berbisa menyengatku!” dia menjerit. “Lihat tanganku, Paman! Ini sakit, oh betapa sakitnya! Sejenis viper menyengatku!”

Mendengar kata viper, Paman Paul terkejut. Dia berdiri dan melihat ke arah tangan yang terluka. Sebuah senyum muncul di bibirnya. 

“Tidak mungkin, teman kecilku. Tidak ada viper di taman. Kekonyolan apa yang baru kau lakukan? Dari mana saja kau?”

“Aku lari mengejar seekor kupu-kupu. Dan saat aku mengulurkan tanganku untuk menangkapnya di sebuah rumput liar di kaki tembok, sesuatu menyengatku. Lihat!”

“Tidak apa-apa, Emile-ku yang malang, pergi rendam tanganmu di air dingin kucuran, dan rasa sakitnya akan pergi.”

Seperempat jam kemudian saat mereka membicarakan kecelakaan yang terjadi pada Emile, dia sudah sembuh dari kemalangannya.

“Sekarang saat rasa sakitnya telah hilang, apakah Emile ingin tahu apa yang menyengatnya?” tanya pamannya.

“Tentu saja aku harus tahu, supaya aku tidak terkena lagi di lain waktu.”

“Nah, itu adalah sebuah tumbuhan yang bernama jelatang (nettle). Daun-daunnya, batang-batangnya, cabang-cabang terkecilnya ditutupi sangat banyak bulu tegak yang kaku, berongga dipenuhi cairan berbisa. Saat salah satu dari bulu ini menusuk kulit, ujungnya pecah, sebotol kecil bisa terbuka, dan menumpahkan isinya ke luka. Dari situlah rasa sakit datang, namun bukan luka berbahaya. Kau lihat, bulu jelatang perannya mirip seperti senjata para makhluk berbisa. Sebuah benda tajam berongga yang membuat sebuah luka kecil di kulit, dan menyalurkan setetes cairan ke dalamnya yang menyebabkan semua rasa sakit. Jelatang adalah tumbuhan yang berbisa.”

“Aku juga akan menceritakan pada Emile bahwa kupu-kupu indah yang membuat dia tanpa berpikir panjang mendorongkan tangannya ke arah tumpukan jelatang bernama Vanessa Io. Ulatnya berwarna hitam beludru dengan titik-titik putih. Dia juga memiliki bulu berduri. Dia tidak membuat kokon, tapi kepompong (chrysalis) dengan pita bersinar seperti emas yang menggantung di udara dari ujung ekornya. Ulat ini tinggal di jelatang, memakan daunnya, termasuk bulu-bulu berbisanya.”

“Saat makan rumput beracun itu, bagaimana ulat bisa mengatur agar dia tidak teracuni?” Claire bertanya.

“Anakku sayang, kau mencapuradukkan berbisa dengan beracun. Bisa adalah sebuah zat yang dimasukkan ke dalam darah dengan beragam jenis luka, menyebabkan kesakitan seperti cara kerja bisa viper. Berbisa dikatakan sebuah zat yang jika tertelan dan masuk ke dalam perut bisa menyebabkan kematian. Obat-obatan tertentu beracun, orang akan terbunuh jika termakan atau terminum. Cairan yang mengalir dari taring viper dan sengatan kalajengking berbisa, dapat membunuh jika tercampur dengan darah. Tapi itu tidak beracun, karena bisa dimakan dengan bebas. Begitupun dengan bisa jelatang. Maka Mama Ambroisine memberi ternaknya jelatang yang dicincang, ulat-ulat Vanessa makan tanpa terancam di atas tumbuhan yang beberapa saat lalu membuat Emile menangis kesakitan. Tanaman berbisa yang kita miliki di negara kita hanya jelatang, tapi kita punya banyak tumbuhan beracun yang saat dimakan bisa menyebabkan kesakitan dan bahkan kematian. Aku pasti akan menceritakannya padamu suatu saat nanti sehingga bisa membuat kalian menghindar darinya.”

“Rambut jelatang ini mengingatkanku pada bulu ulat. Banyak ulat yang memiliki kulit kosong. Mereka ulat yang tidak berbahaya sama sekali. Mereka bisa dipegang tanpa ada bahaya, betapapun besarnya mereka. Bahkan mereka yang memiliki tanduk di bagian ujung punggungnya. Mereka tidak perlu lebih ditakuti daripada ulat sutera. Yang lain memiliki tubuh yang dilindungi bulu-bulu rambut, terkadang tajam dan berduri, yang bisa tersangkut di kulit, meninggalkan ujungnya disana, dan menyebabkan rasa gatal atau bahkan bengkak yang sakit. Maka benar untuk curiga pada ulat bulu, terutama mereka yang tinggal di kumpulan pohon oak dan pinus, di sarang sutera besar, dan dipanggil ulat berarak. Tapi disini kita memiliki suatu kata yang mengundang cerita lain.”

Leave a Comment

error: Content is protected !!