Don’t Judge a Boy by His Face

 

Cover buku “Wonder”

Judul: Wonder

Penulis: R. J. Palacio

Penerjemah: Harisa Permatasari

Penerbit: Atria

Cetak: 2012

Tebal:428 hal

ISBN:978-979-024-508-2

 

Jangan menilai seseorang dari wajahnya’ lebih menggambarkan buku ini ketimbang ‘Jangan menilai buku dari sampulnya!’

Pernahkah kau meremehkan sebuah buku, hingga mendiamkannya berbulan-bulan di rak, hanya untuk menemukan bahwa buku itu adalah salah satu buku terbagus yang pernah kau baca? Setidaknya aku pernah. Beberapa kali. Kupikir menulis resensi buku ini cukup untuk menunjukkan apresiasi terhadap buku ini.

Buku Wonder(2012) sudah sangat mendunia, dan bahkan sudah diadaptasi menjadi film Wonder (2017). Sepertinya karena kisahnya yang lucu, ngenes dan tak terduga telah membuat banyak orang menyukainya.

Omong-omong, namaku August. Aku tak akan menggambarkan seperti apa tampangku. Apapun yang kau bayangkan, mungkin keadaannya lebih buruk

August Pullman, alias Auggie, tinggal bersama keluarganya yang sangat penyayang. Mom, Dad, Via, dan anjingnya daisy selalu menjaganya. Auggie lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis (nama yang sangat-sangat rumit), sebuah mutasi genetik rumit yang membuat mukanya tidak biasa. Via bahkan berusaha menggambarkan bagaimana mutasi genetik itu terjadi. “Selama bertahun-tahun ini sudah tak terhitung banyaknya dokter yang menggambarkan tabel Tic-tac-toe kecil untuk menjelaskan lotere genetis itu pada orang tuaku.” 

Semuanya baik-baik saja, sampai Auggie terpaksa pergi ke sekolah. Sebelumnya, Ia hanya belajar di rumah bersama ibunya. Auggie sudah terbiasa menghadapi kekagetan dan ketakutan orang atas wajahnya, tetapi Ia tak akan bisa menghadapi tatapan satu sekolah. Bayangkan, berjalan di koridor saja akan sangat menyebalkan!

Di saat pertama kali memasuki sekolah Beecher Prep, ada beberapa orang yang bersikap baik kepadanya, walaupun hampir satu sekolah menjauhinya seakan-akan dia wabah. Walaupun begitu, anak-anak yang bersikap baik pada Auggie menyadari bahwa dia adalah anak yang lucu, menyenangkan, dan seru untuk diajak bermain. Jack Will sangat ingin berteman dengan Auggie, walaupun sebelumnya Jack terlalu gengsi untuk mendekat–dilema biasa bagi seorang remaja. Asal-usul pertemanan Auggie dan Jack cukup lucu, jika diingat-ingat. Pada awalnya, Jack hanya berteman dengan Auggie karena ingin menang dalam taruhan. Tak disangka-sangka, ternyata Jack malah menemukan Auggie sebagai teman yang lebih baik dari yang ia miliki sebelumnya.

Summer, seorang anak perempuan cantik yang lumayan populer, bahkan merelakan teman-teman se-Geng-nya agar bisa bermain dengan Auggie. Bukannya karena Ia kasihan atau berusaha menjadi ‘suci’.

Salah satu hal yang tidak kusukai tahun ini adalah banyaknya anak-anak yang bertingkah seakan-akan mereka sudah terlalu besar untuk bermain lagi. Yang mereka inginkan hanyalah ‘bergaul dan ‘mengobrol’ pada jam istirahat. Dan mereka membicarakan siapa yang menyukai siapa, siapa yang imut dan siapa yang tidak. August tak memedulikan hal semacam itu. August senang bermain Four Square—bola tangan—pada jam istirahat, dan aku juga senang memainkannya,”  ujar Summer.

Sebagai seorang anak berusia 14 tahun, aku sering mengalami ini. Kebanyakan temanku yang mulai menginjak usia remaja sudah tak lagi tertarik dengan ‘mainan bocah’. Lebih menyenangkan bergosip dibanding capek-capek bermain dengan fisik. Apakah ini sebuah fenomena umum?

Kebanyakan temanku yang mulai menginjak usia remaja sudah tak lagi tertarik dengan ‘mainan bocah’. Lebih menyenangkan bergosip dibanding capek-capek bermain dengan fisik.

Namun memang tidak semuanya menyenangkan. August harus menghadapi anak-anak yang menyebalkan seperti Julian Albans. Julian memberi Auggie julukan-julukan yang tak bisa ditoleransi seperti ‘Zombie’ atau ‘Bocah tikus’, dan menjelek-jelekannya di depan umum, tetapi bermuka manis di depan orang tua. Menurutku Julian hanya salah pola asuh. Maklum, orang tuanya kaya dan dia adalah anak tunggal (dan dalam beberapa kasus, orang tua Julian bersikap seperti bayi lima tahun yang tidak mendapatkan keinginannya).

Masih ada banyak cobaan yang terpampang untuk Auggie. Cobaan yang melibatkan teman, saudara, keluarga, dan diri Auggie sendiri. Dengan sikapnya yang lebih terbuka, orang lain pun akan bersikap terbuka pula kepadanya. 

Dibuku ini, tak hanya masalah-masalah Auggie saja yang diceritakan. Hal-hal tak menyenangkan yang menimpa Via juga diceritakan, seperti kegalauannya yang datang saat masa remajanya, atau bagaimana dia menghadapi orang tuanya. Aku yakin, kalau ada makhluk yang paling ditakuti orang tua, hal itu adalah remaja empat belas tahun dengan emosi yang meledak-ledak.

Yang membuat buku ini menyenangkan, banyak hal yang dapat direlasikan dengan keadaanku sekarang, karena buku ini bisa dibilang baru. Misalkan cara mereka berbicara dengan bahasa gaul, atau masalah yang diselesaikan melalui dunia maya . Namun yang paling kusuka adalah bagaimana mereka menjelaskan masalah-masalah dan perasaan seorang remaja yang membuatku relate–seakan-akan buku ini ditulis oleh seorang remaja!

Dan lagi, cara penulisan dari perspektif pertama membuatnya lebih menarik–mereka semua menceritakan hal yang sama, tetapi perbedaan sudut pandang membuat cerita itu semakin hidup.

 

Leave a Comment

error: Content is protected !!