Masa depan pendidikan agaknya suram dan berkabut, manakala para ahli mulai memandang perlunya reformasi pendidikan agar menjadi lebih teknis dan praktis. Pelajaran bahasa asing, matematika, seni dan kerajinan tangan, bahkan sejarah dan sastra disusun sekadar sebagai pelatihan atau kursus bagi mata dan tangan. Para siswa diajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk mempersiapkan mereka menjadi tenaga kerja. Pendidikan telah kehilangan ruhnya, kehilangan pijakan filsofis dan tujuan luhurnya.
Sungai tidak mungkin bisa mengalir lebih tinggi daripada hulunya, begitu pula pendidikan. Tujuan pendidikan yang utilitarian seperti ini bersifat duniawi, dangkal, dan materialistik. Siswa belajar di sekolah agar terampil menguasai ilmu pengetahuan tertentu, lalu lulus mendapat pekerjaan bergengsi, dengan upah tinggi, lalu…? Apakah itu selaras dengan tujuan hidup kita? Apakah itu yang ditugaskan Tuhan untuk kita di muka bumi?
Para ahli berusaha keras menyusun hukum-hukum sebagai asas dalam pendidikan. Tentang apa saja yang perlu dipelajari anak, bagaimana mereka akan mempelajarinya, hukum-hukum ini ada untuk menunjukkan sistem nilai dan peta jalan pendidikan. Seperti cahaya penunjuk, hukum tersebut tampaknya menunjukkan jalan yang terbentang di depan kita dan berkesinambungan sepanjang hidup, tanpa ada garis batas antara masa kanak-kanak dan kedewasaan.
Rumusan para ahli, dengan segala latar belakang keahlian mereka, tampak berjalan sendiri-sendiri dan seringkali sulit dikaitkan satu sama lain. Tidak satu pun buah pemikiran maupun hukum pendidikan yang pada akhirnya dapat diaplikasikan pada setiap jenjang kehidupan.
“Such a theory of education, which need not be careful to call itself a system of psychology, must be in harmony with the thought movements of the age; must regard education, not as a shut off compartment, but as being as much a part of life as birth or growth, marriage or work; and it must leave the pupil attached to the world at many points of contact.”
Tidak ada yang lebih sempurna daripada hukum Tuhan. Ialah kebenaran absolut yang dapat memerdekakan pendidikan kita.
‘The best idea which we can form of absolute truth is that it is viable to meet every condition by which it can be tested.’
Seharusnya, filosofi pendidikan kita berakar di sana, karena kepada-Nya pula segala sesuatu akan bermuara.
Konsekuensi dari kebenaran sangatlah besar, sehingga kita harus sangat berhati-hati dalam memastikan bahwa apa yang kita hidupi adalah betul sebuah kebenaran.
“The consequence of truth is great; therefore the judgment of it must not be negligent.” — Benjamin Whichcote
Seseorang yang terdidik dengan baik akan memiliki bekal untuk menghadapi dunia, kehidupan secara riil. Bukan hanya dengan status sosial ataupun finansial yang mumpuni, tetapi juga dengan ide dan gagasan yang membuat hidupnya lebih berarti. Education is a science of relations, seseorang harus bersentuhan sebanyak mungkin dengan semesta alam dan pikiran agar dapat merelasikan dirinya dengan pengetahuan.
Pendidikan harus dapat membangkitkan self-knowledge seseorang sehingga ia tahu nature-nya, ide-idenya, segala potensi kebaikan dan keburukan yang ada dalam dirinya. Ia mengenal dan mampu mengendalikan dirinya, serta paham akan misi yang diembankan Tuhan untuknya.