Narasi atas vol. 1 pg 7-11
Dulu, orangtua mendidik anak-anak tidak dengan metode tertentu. Mereka hanya mengandalkan naluri, merujuk pada pengalaman pribadi bagaimana mereka dididik dahulu, dan berdasarkan kebiasaan, katanya-katanya. Sehingga tidak ada tujuan khusus, tidak ada metode.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk dalam hal pendidikan dan perkembangan anak, semestinya orang tua kini tidak lagi menutup mata dan berkubang dalam kesalahan-kesalahan masa lalu. Mereka perlu belajar, mereka perlu selalu update ilmu pengetahuan, karena yang mereka besarkan adalah seorang anak manusia, sebentuk jiwa, bukan selembar kertas kosong atau lilin yang bisa dibentuk sesuka hati. Manusia memiliki tujuan dalam hidupnya di muka bumi. Dan pendidikan adalah cara untuk membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, yang selaras dengan hakikat penciptaannya sebagai wakil Tuhan di bumi.
At any rate, it is not too much to say that a parent who does not follow reasonably a method of education, fully thought out, fails — now, more than ever before — to fulfil the claims his children have upon him.
Saat ini, pendidikan telah banyak dikomersialisasi dan diadopsi menjadi sebuah sistem. Walau rasanya istilah ini agak menggelitik. Dalam bayanganku, sistem itu seperti yang ada di pabrik-pabrik, masukin barang mentah ke dalam mesin besar, kemudian voila! Di ujung conveyor belt kita bisa melihat produk jadinya.
Apakah kita menganggap anak-anak kita serupa barang mentah dan sekolah sebagai mesin pencetaknya? Apakah kita menganggap pendidikan sebagai suatu proses mekanis? Sungguh ironis jika anak-anak dengan segala potensi dan keunikannya, dengan binar-binar keingintahuan di matanya, kemudian keluar sekolah dengan kuyu membawa kertas ujian bertuliskan nilai A, B, C.
Sistem selalu dirancang untuk mempermudah pihak yang mengelola sistem. Para pengambil kebijakan dan pelaksana di lapangan sangat menyukai konsep pendidikan sebagai sistem. Rasanya begitu aman dan pasti ketika semuanya serba terukur dan terhitung, serba ada standar evaluasinya. Mereka bisa berkeliling melakukan quality control dan menuliskan catatan bagi setiap siswa; dia lulus, dia tidak lulus. Sistem akan menyederhanakan proses rumit bernama “penyerapan pengetahuan” menjadi nilai A, B, C, dalam skala 1–100. Jelas sekali betapa sistem pendidikan dapat mempermudah kerja pemerintah dan sekolah, tetapi apakah sistem ini berpihak pada anak? (Ellen Kristi, Cinta Yang Berpikir hlm. 31)
Tugas seorang pendidik sesungguhnya berat. Ia harus menghadapi sesosok anak manusia yang tidak dapat diprogram, tidak terukur, tidak dapat terprediksi. Kalau kamu mengurus seorang anak dari bayi, pasti kamu paham struggle-nya. Di saat kita pikir, jam tidurnya sudah teratur, eh tiba-tiba berubah lagi. Saat kita mengira, oh ternyata dia mau makan kalau pakai telur rebus, tapi ternyata hanya bertahan dua hari, setelah itu dia menutup rapat-rapat mulutnya dan punya favorit baru lagi. Begitu seterusnya. Ada fase tantrum, ada fase berebut, ada fase membangkang, tapi dalam sekejap ia juga bisa menjadi sangat manis dan penurut.
Semua perubahan itu bisa terjadi sangat cepat dan tidak terprediksi. Seandainya saja, kita bisa memprogram ia agar selalu makan apapun yang disajikan, agar ia selalu tidur siang, agar ia tidak mengompol, agar ia mau selalu berbagi. Alangkah mudahnya. Seandainya saja kita bisa mengatur dengan siapa saja ia boleh dan tidak boleh main. Jelas tidak bisa, karena mereka anak manusia. Dan perubahan adalah satu-satunya yang pasti dalam kehidupan.
Sistem pendidikan adalah upaya untuk membakukan uraian tentang apa dan bagaimana suatu pendidikan dilaksanakan di lapangan. Namun ia hanya bisa efektif dan berhasil apabila dijalankan oleh orang-orang yang paham tentang esensi dan hakikat pendidikan (mengapa). Sistem dapat memudahkan jalannya proses pendidikan, manakala ia dijadikan sebuah instrumen, bukan esensi. Charlotte Mason mengibaratkan sistem pendidikan Taman Kanak-Kanak, yang dirumuskan oleh seorang pedagog berdedikasi, Friedrich Froebel (1782–1852). Dasar pemikiran Froebel tentang pendidikan anak usia dini sesungguhnya sangat religius, kental dengan refleksi filosofis, dan berdasarkan observasi bertahun-tahun lamanya, sehingga ia bisa merumuskan rangkaian aktivitas edukatif yang sesuai kodrat anak usia dini. Berabad-abad berlalu, di tangan orang-orang yang tidak memahami esensi pendidikan yang digagas Froebel itu, kini segala kegiatan Taman Kanak-Kanak akhirnya menjadi sistem yang kaku, kolot, dan menyedihkan di tangan praktisi yang tidak paham prinsip-prinsip yang mendasarinya. Lebih lanjut tentang gagasan Froebel, teman-teman boleh baca di sini, masih tulisan Mbak Ellen.
The Kindergarten Method, for instance, deserves the name, as having been conceived and perfected by large hearted educators to aid the many sided evolution of the living, growing, most complex human being; but what a miserable wooden system does it become in the hands of ignorant practitioners! (Vol.1 pg 10)
Metode lebih luwes daripada sistem, namun ia harus memiliki tujuan akhir yang jelas. Metode memiliki dua aspek, yakni tujuan; dan cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan akhir itu. Mungkin berbeda-beda bagi setiap orang. Ada kalanya pendidik mesti menggunakan metode berbeda untuk anak yang berbeda, dalam pelajaran yang sama. Seperti air mengalir, kadang deras kadang lambat, kadang menderu kadang menetes, kadang lurus kadang berkelok, namun selalu menuju ke laut.
… orangtua yang melihat arah tujuannya — akan bisa memanfaatkan setiap situasi dari kehidupan sehari-hari anak sebagai kesempatan mendidik, ia tidak harus merancangnya secara sengaja, begitu mudah dan spontan. Entah anak sedang makan atau minum, entah ia sedang di rumah atau di perjalanan, saat dia bermain — ia senantiasa dalam proses pendidikan sepanjang waktu.
Keunikan dan individualitas setiap anak sangat dihargai. Ingat lagi pada butir pertama pendidikan CM, setiap anak terlahir sebagai pribadi utuh. Sistem pendidikan yang materialistik, utilitarian, berorientasi pasar, atau apa saja yang mereduksi keutuhan pribadi seorang manusia tidak akan memadai bagi anak-anak kita.
Penting untuk memahami perbedaan kedua hal ini — antara sistem dan metode, karena seringkali orangtua terbuai dengan sistem pendidikan yang menawarkan ini dan itu, tanpa memahami esensi di baliknya, dan tanpa memiliki tujuan yang konkrit. Anak-anak pun berisiko terperangkap dalam sebuah sistem pendidikan yang berpotensi menyeragamkan keunikan mereka, memaksa mereka mencapai hasil yang sama, dengan menggunakan cara yang sama, dalam waktu sama. Seperti anekdot, jika kamu menilai kemampuan seekor ikan untuk memanjat pohon, maka selamanya si ikan akan menganggap dirinya bodoh.

Seringkali kita mendengar ungkapan “terjebak dalam sistem” karena memang sistem rentan membuat kita hanyut dalam arus. Seperti halnya resep yang sudah ada step by step, takaran yang tepat, kita hanya tinggal mengikuti supaya bisa mendapat hasil yang serupa. Sistem lebih mudah diikuti, daripada kekeuh merumuskan metode sendiri.
Charlotte Mason sering menyebut “liberal education” — yang juga menjadi judul bagi buku keenamnya: An Essay Towards A Philosophy of Education: A Liberal Education for All (1925). Pendidikan yang merdeka. Merdeka berarti mengusahakan sendiri, berjuang sendiri, berdikari, berpikir mandiri. There is no education but self education. Tetapi kemerdekaan tidaklah gratis. Ia perlu perjuangan, pemikiran, pembelajaran. Kalau kita ingin merdeka, berarti kita mesti bisa meregulasi diri kita sendiri. Dan itu tidak mudah.
Mungkin lebih mudah kalau kita tinggal mengikuti aturan atau sistem yang sudah ada. Bukan berarti metode lebih pelik. Justru, orang yang telah memahami filosofi dan tujuan pendidikan, bisa menerapkan metodenya dengan lebih fleksibel dan dengan cara yang lebih natural.
If a human being were a machine, education could do no more for him than to set him in action in prescribed ways, and the work of the educator would be simply to adopt a good working system or set of systems. (Vol.1 pg 10)