Filosofi Pendidikan Charlotte Mason yang Disempurnakan (Bagian 2)

“Education is the Science of Relations”, prinsip penting kedua yang menjadi pegangan dalam pendidikan anak. Bahwa tiap anak butuh berinteraksi dengan sebanyak mungkin hal, tak hanya yang menarik minat dan simpati mereka, yang nantinya akan meluaskan pandangan anak sehingga mereka menyadari bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Di sinilah pentingnya kurikulum yang lengkap, kaya, dan melimpah ruah. Lengkap dalam artian sebanyak mungkin aspek terpenuhi, tidak hanya fokus di beberapa subyek pilihan. Kaya berarti materi disampaikan dalam bentuk yang bernilai tinggi dan memiliki aspek keindahan, sastrawi.  Sementara asupan ide melimpah ruah membuat anak memiliki suplai yang cukup untuk menumbuhkan dirinya dengan maksimal.

Proses merelasikan haruslah terjadi secara alami. Mereka mengasimilasi, memilih ide yang paling dominan bagi mereka, mengait-ngaitkan sehingga menjadi suatu pengetahuan yang personal milik mereka sendiri. Tepat sama seperti proses mencerna makanan, yang dilakukan mandiri oleh tubuh yang sehat, tanpa bantuan dari pihak luar.

Informasi dari luar ini menjadi pengetahuan dengan dikoneksikan pada pengetahuan lama mereka melalui sebuah proses belajar sekali dengar yang dilanjutkan dengan narasi. Mengapa harus sekali dengar? Karena ketika seseorang tahu sebuah informasi tak akan diulang, mereka biasanya akan jauh penuh perhatian. Dan mengapa harus narasi? Narasi bukanlah ujian untuk anak, tetapi sebuah proses mencerna informasi dengan mempertanyakan diri dan memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut secara mandiri. Dalam bernarasi, anak mendengar ulang (atau membaca, dalam narasi tertulis) pemikiran mereka sendiri dan menguatkan memori. Hanya setelah informasi dicerna menjadi pengetahuan diri, akal budi bertumbuh.

Narasi bukanlah ujian untuk anak, tetapi sebuah proses mencerna informasi dengan mempertanyakan diri dan memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut secara mandiri.

Untuk mendukung proses pertumbuhan mental dan intelektual ini, mereka butuh kemampuan mengelola kehendak. Namun, karena kehendak anak masih lemah, menjadi tanggung jawab orangtualah untuk melatihnya. Habit Training adalah alat yang digunakan untuk membiasakan anak memilih yang benar di atas yang dia inginkan. Bukan berdasar pada apa kata orang atau ibunya, tetapi pada prinsip kebenaran yang universal. 

Penting untuk kita memahami mengapa, apa, dan bagaimana kita melatihkan suatu kebiasaan baru. Karena konsistensi adalah kuncinya dan hanya dengan visi yang kuat, kita mampu bertahan. Berbahagia dalam melatih diri untuk dapat melatih anak tanpa lelah. Karena ini bukan kerja sebentar. Konsistensi mesti dipertahankan sepanjang jalan pengasuhan. 

Ekspektasi mesti dijaga agar tidak membumbung tinggi dan menghalangi visi. 

Menjadi sekutu anak melatih diri, bukan asal menghukum bagai polisi.

Alihkan pikiran saat lelah, cari penghiburan, lalu kembali.

Jangan jadikan anak stereotip dengan memberi sugesti.

Tak apa mereka gagal, lagi, lagi, dan lagi.

Dengannya mereka belajar cara bangkit yang alami.

Anak pun perlu dipahamkan kekuatan nalar.

Bahwa tak selalu yang logis itu benar.

Nalar bisa membuat yang salah tak tergoyahkan.

Pikiran yang tak berprinsip bisa melaju sembarangan.

 

Latih anak menimbang dan memilih ide dari sana sini.

Tanamkan prinsip kebenaran semenjak dini.

Ingatkan selalu pada mereka tanggung jawab pribadi

Pada alam semesta, sesama dan negeri

Yang terpenting, untuk selalu mencari Tuhan di dalam diri...

Leave a Comment

error: Content is protected !!