“No sooner doth the truth.. come into the soul’s sight, but the soul knows her to be her first and old acquintance.
The consequence of truth is great; therefore the judgement of it must not be negligent.” (Whitcote)
Puisi ini kembali menegaskan bahwa apa yang Charlotte Mason (CM) ingin cari adalah suatu hukum universal yang sebenarnya berlaku untuk semua orang. Demi pencapaian yang besar, kita pun mesti berhati-hati menimbang, mana yang benar.
Children are born persons. Anak terlahir utuh. Inilah dasar utama filosofi pendidikan menurut CM. Utuh yang bagaimana? Bahwa anak adalah sebuah jiwa spiritual dengan pikiran, hati, dan tubuh yang diciptakan lengkap dengan fungsi-fungsinya, tetapi masih bebas dan mesti menentukan akan dibaktikan kepada siapa. Utuh dengan potensi baik dan buruk yang dimilikinya, tidak ada yang benar-benar antagonis atau protagonis, dan karenanya mereka perlu dididik.
Utuh dengan ketaatan sedari lahir sehingga dia akan secara alami mencari otoritasnya. Dan, karena Tuhan telah menghadirkan dia melalui kita orangtuanya, Tuhan juga sudah berikan di tangan kita otoritas itu. Tinggal bagaimana kita bisa membuat anak taat dengan memastikan otoritas itu digunakan dengan kepatuhan pada otoritas yang lebih besar. Karena jika hanya digunakan untuk kepentingan orangtua pribadi, saat itulah berubah menjadi otoriter.
Anak-anak ini utuh selayaknya manusia dewasa, dengan segala hasrat alaminya, pertarungan keinginan dan keharusan di dalam dirinya. Hasrat yang begitu mudah dipermainkan dan dijadikan alat penggerak anak. Oleh karena itu, pendidikan dan ketaatan anak seharusnya tidak menggunakan hasrat yang salah arah. Penghormatan pada potensi anak yang unik membuat kita tak boleh menggunakan sugesti dalam memastikan ketaatan anak.
Membahas dasar prinsip pendidikan anak ini, mau tak mau membongkar bagaimana kita pun sebagai orangtua juga terlahir utuh. Perlu dihargai sebagai sebuah pribadi dengan kemungkinan baik dan buruk sama besar, yang dididik dan diayomi ketaatannya tanpa disalahgunakan hasrat-hasrat, ketakutan-ketakutan dan kebutuhan-kebutuhannya. Yes, we’re all born persons. Saat orang lain belum menghargai keunikan kita, kita mulai dari menyadari keutuhan diri kita sendiri dulu.
Lalu bagaimana dengan pendidikan potensi baik dan buruk ini. Berdasarkan amaran pertama di atas, dengan penghormatan pada personalitas anak, pendidikan terbaik pun diletakkan pada tiga instrumen ini.
Atmosfer alami.
Disiplin kebiasaan baik.
Ide hidup.
Education is an atmosfer. Bukan berarti anak dikurung dalam suatu safe place. Atmosfer adalah kehidupan alami yang dihirupi anak dalam kesehariannya. As easy as daily breath. Dan pendidikan terbesar berada dalam kehidupan harian di rumah anak dengan orang-orang dan benda-benda di dalamnya.
Education is a discipline. Ini berarti setiap pendidikan dimaksudkan untuk pembentukan kebiasaan baik yang akan membentuk karakternya nanti.
Education is a life. Karena jiwa spiritual anak adalah sesuatu yang hidup, maka pendidikannya haruslah yang menjaga kehidupan itu. Baik fisiknya, intelektualnya, maupun moralnya. Seperti makanan, dibutuhkan yang sehat, segar dan beragam untuk mendapat asupan yang terbaik.
Anak adalah sosok utuh dengan jiwa spiritual yang karenanya sudah membawa selera uniknya, yang dengan alami membutuhkan aneka jenis pengetahuan. Tubuhnya yang sudah berfungsi baik sedari dia lahir sama dengan akal budinya yang juga.
Anak bukan sekedar kantung kosong yang bisa ditumpuki sebanyak mungkin batu pengetahuan. Mereka butuh banyak makanan utuh yang akan diproses sendiri oleh anak tanpa perlu dihancurkan dulu oleh guru. Penghargaan akan kemampuan anak mencerna mandiri akan menjauhkan mereka dari terlalu banyak pengajaran namun mendapat terlalu sedikit pengetahuan.
Baca juga:
